Perbedaan Syiah dan Sunni kerap menjadi pertanyaan di tengah umat Islam. Banyak yang ingin tahu, apa sebenarnya yang membedakan dua kelompok ini.
Secara umum, Syiah dan Sunni sama-sama meyakini rukun Islam dan rukun iman. Namun, perbedaan mulai terlihat setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, terutama terkait persoalan kepemimpinan umat. Lalu, apa saja perbedaan Syiah dan Sunni yang sering dibahas? Ini dia penjelasannya.
Apa Itu Sunni?
Mengutip buku Mengenal Agama Manusia: Mempelajari dan Memahami Agama-agama Manusia untuk Menciptakan Ketentraman dan Rasa Solidaritas karya Jonar Situmorang, Sunni adalah cabang Islam yang mengikuti jalan yang selalu diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Ajarannya terlihat dari kata-kata dan perbuatan Nabi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nama Sunni berasal dari kata sunnah, yang berarti jalan. Saat ini, pengikut Sunni cukup banyak, mencapai sekitar 90 persen populasi Muslim di dunia.
Dalam pandangan Islam Sunni, Al-Qur'an menjadi sumber hukum utama dan mutlak, sementara Sunnah Nabi SAW menjadi pedoman utama untuk memahami dan menerapkan ajaran Al-Qur'an. Sunni juga sering disebut sebagai Ummah atau Ahlu Sunnah wal Jama'ah.
Menurut buku Ragam Jalan Memahami Islam karya Aksin Wijaya, Sunni biasanya terbagi dalam tiga kategori: tasawuf, kalam, dan fiqh. Di antara ketiganya, yang paling banyak memengaruhi kehidupan umat Sunni adalah fiqh, yaitu ilmu tentang hukum Islam.
Sunni adalah ajaran Islam yang mengikuti sunnah Nabi SAW. Meski begitu, di dalam kelompok Sunni sendiri masih ada perbedaan mazhab fiqh, seperti Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hanbali. Artinya, seseorang bisa menjadi Sunni tanpa harus menentukan mazhab fiqh tertentu.
Apa Itu Syiah?
Syiah adalah cabang Islam yang meyakini Ali bin Abi Thalib sebagai penerus kepemimpinan umat setelah Nabi Muhammad SAW. Aliran ini sering mendapat penolakan di beberapa negara, termasuk Indonesia.
Mengutip buku Pemikiran Politik Islam: dari Masa Nabi hingga Masa Kini oleh Antony Black, Syiah menolak kekuasaan Umayyah dan Abbasiyah sebagai pemimpin umat karena dianggap tidak adil dan kurang beriman. Syiah percaya bahwa sejak wafatnya Nabi, kepemimpinan seharusnya diwariskan kepada Ali dan keturunannya.
Di dalam Syiah sendiri, ada berbagai mazhab yang berbeda pendapat, misalnya soal siapa yang seharusnya menjadi imam dan bagaimana seorang imam dipilih. Namun, semua kelompok Syiah sepakat bahwa imâmah atau kepemimpinan yang sah merupakan bagian penting dari keyakinan dan perilaku seorang Muslim.
Dibandingkan Sunni, Syiah merasa kecewa dengan kegagalan Abbasiyah dalam menegakkan keadilan dan kepemimpinan sejati. Banyak kelompok Syiah menginginkan pemimpin sejati yang diakui dan dipatuhi. Sampai hal itu tercapai, mereka tidak menganggap kepemimpinan atau komunitas Islam telah ada.
Kelompok Syiah yang paling aktif dalam perlawanan adalah Zaidiyah. Mereka percaya pemimpin sejati bisa memperoleh kekuasaan melalui perlawanan bersenjata, yang disebut khurûj atau "keluar".
Menurut buku SUNNI dan SYIAH: Mustahil Bersatu karya Kholilu Hasib, gerakan Syiah juga mendapat dukungan dari kelompok liberal atau aliran Islam yang rusak dan sesat. Hal ini membuat beberapa pihak menganggap Syiah sebagai aliran yang menyebarkan ideologi yang berbeda dengan Sunni.
Perbedaan Syiah dan Sunni
Mengutip Jurnal Kolaboratif Sains berjudul Keragaman Dalam Islam: Pokok Ajaran Syiah, Perbedaan Dengan Sunni, Dan Jalur Menuju Persaudaraan oleh Ilfah Luthfiah, Indo Santalia, dan Agus Masykur, dijelaskan bahwa ada beberapa perbedaan antara Syiah dan Sunni.
1. Akar Perbedaan dalam Kepemimpinan
Perbedaan Syiah dan Sunni bermula setelah Nabi Muhammad SAW wafat. Kaum Sunni berpendapat bahwa pemimpin umat dipilih melalui musyawarah dan kesepakatan bersama. Oleh sebab itu, mereka menerima Abu Bakar, Umar, dan Utsman sebagai khalifah yang sah.
Sementara itu, Syiah meyakini bahwa Ali bin Abi Thalib sudah ditunjuk langsung oleh Allah melalui Nabi Muhammad SAW sebagai pemimpin setelah beliau wafat. Menurut Syiah, Ali adalah pengganti yang sah berdasarkan wahyu dari Tuhan.
2. Otoritas dalam Urusan Agama
Dalam hal menentukan hukum agama, Sunni memberikan peran besar kepada para ulama.
Banyak ulama dan mazhab yang bisa melakukan ijtihad atau menetapkan hukum berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah. Jadi, kewenangan keagamaan di Sunni lebih tersebar.
Sedangkan dalam Syiah, otoritas agama lebih terpusat pada Ahlul Bait dan para Imam. Mereka dianggap sebagai sumber utama ilmu dan petunjuk spiritual.
3. Sumber Hukum Islam
Sunni menggunakan empat sumber hukum utama, yaitu Al-Qur'an, Sunnah, Ijma' atau kesepakatan ulama, dan Qiyas atau analogi.
Di sisi lain, Syiah juga memakai Al-Qur'an dan Sunnah, tetapi menambahkan akal sebagai sumber penting dalam memahami hukum.
Menurut Syiah, akal adalah karunia dari Allah yang harus digunakan untuk memahami aturan agama secara tepat.
4. Perbedaan dalam Kajian Hadits
Dalam menerima hadits, Sunni menerima riwayat dari seluruh sahabat Nabi dengan anggapan bahwa para sahabat adalah orang-orang yang adil.
Sedangkan Syiah lebih selektif. Mereka lebih mengutamakan hadits yang berasal dari Ahlul Bait dan sahabat yang setia kepada Ali bin Abi Thalib. Perbedaan ini dipengaruhi oleh sejarah politik setelah wafatnya Nabi.
Meski berbeda cara menilai hadits, keduanya tetap menjadikan hadis sebagai sumber ajaran penting setelah Al-Qur'an.
5. Perbedaan dalam Cara Beribadah
Dalam praktik ibadah sehari-hari juga ada beberapa perbedaan. Syiah biasanya menggabungkan salat Zuhur dengan Asar, serta Magrib dengan Isya. Mereka juga menambahkan kalimat "Hayya 'ala khairil 'amal" dalam azan dan menggunakan turbah saat sujud.
Sementara Sunni memisahkan waktu salat dan tidak menggunakan turbah. Namun, rukun Islam seperti salat, zakat, puasa, dan haji tetap sama dan menjadi dasar ajaran bagi keduanya.
6. Perayaan Keagamaan
Dalam tradisi peringatan agama, Syiah memiliki peringatan Asyura dan Arba'in untuk mengenang wafatnya Imam Husain bin Ali di Karbala. Bagi mereka, ini bukan sekadar ritual, tetapi juga bentuk penghormatan dan perjuangan melawan ketidakadilan.
Di kalangan Sunni, perayaan yang umum adalah Idul Fitri, Idul Adha, dan Maulid Nabi. Walaupun bentuk peringatannya berbeda, keduanya memiliki nilai spiritual yang kuat.
7. Pandangan Politik
Dalam urusan politik, Sunni cenderung menekankan pentingnya menjaga stabilitas dan taat kepada pemimpin selama tidak melanggar ajaran agama.
Sementara Syiah lebih menekankan keadilan dan keberanian mengkritik pemimpin yang dianggap zalim.
Perbedaan ini membuat cara pandang politik keduanya tidak selalu sama.
8. Perbedaan dalam Teologi
Dalam bidang akidah atau teologi, Sunni umumnya mengikuti paham Asy'ariyah atau Maturidiyah yang menekankan kekuasaan mutlak Allah.
Sedangkan Syiah lebih menekankan pada konsep keadilan Tuhan dan kebebasan manusia dalam memilih.
Walaupun berbeda penekanan, keduanya tetap beriman kepada Allah dan menjunjung tinggi tauhid.
(lus/lus)












































Komentar Terbanyak
MUI Desak RI Keluar dari Board of Peace Buntut Serangan AS-Israel ke Iran
Pernyataan Soal Zakat Picu Polemik, Menag Sampaikan Klarifikasi
PBNU Kutuk Serangan AS-Israel ke Iran: Brutal dan Merusak Tatanan