Kisah Rasulullah Pergi ke Thaif, Penuh Kesedihan Setelah Wafatnya Khadijah

Kisah Rasulullah Pergi ke Thaif, Penuh Kesedihan Setelah Wafatnya Khadijah

Indah Fitrah Yani - detikHikmah
Kamis, 04 Jun 2026 05:00 WIB
Kisah Rasulullah Pergi ke Thaif, Penuh Kesedihan Setelah Wafatnya Khadijah
Ilustrasi Kisah Nabi. Foto: Getty Images/iStockphoto/rudall30
Jakarta -

Setiap perjalanan dakwah Rasulullah SAW selalu diiringi ujian yang berat. Ada masa ketika dukungan datang dari orang-orang terdekat, namun ada pula masa ketika beliau harus melangkah sendiri di tengah penolakan.

Salah satu fase paling berat itu terjadi setelah wafatnya dua sosok yang sangat berjasa dalam hidup beliau.

Merujuk pada buku Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyur Rahman al-Mubarakpuri, setelah wafatnya Abu Thalib, tidak lama kemudian, sekitar dua bulan setelahnya, Khadijah binti Khuwailid juga wafat. Kepergian dua sosok penting ini meninggalkan duka yang sangat berat bagi Nabi Muhammad SAW, karena keduanya merupakan penopang utama dalam dakwah beliau.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kepergian Khadijah dan Peran Besarnya

Khadijah binti Khuwailid dikenal sebagai pendamping yang setia sejak awal turunnya wahyu. Beliau menjadi orang pertama yang membenarkan risalah Nabi ketika banyak orang justru mendustakannya. Saat orang lain menjauh, Khadijah tetap hadir untuk memberikan dukungan.

Rasulullah SAW pernah menyebut bahwa Khadijah adalah sosok yang selalu membenarkan ketika orang lain mendustakan, serta membantu ketika orang lain menolak. Kehadirannya menjadi sumber ketenangan di masa awal kerasulan sang nabi.

ADVERTISEMENT

Suatu ketika, Khadijah pernah datang membawa makanan saat Rasulullah SAW menerima wahyu dari Malaikat Jibril. Saat itu Jibril berkata:

"Wahai Nabi! Khadijah datang kepadamu dengan membawa bejana. Sampaikan salam dari Tuhanmu kepadanya, dan kabarkan kepadanya kabar gembira berupa rumah di surga dari mutiara yang tidak ada di dalamnya kegaduhan maupun kelelahan, melainkan kedamaian dan ketenangan."

Setelah wafatnya Abu Thalib dan Khadijah, kaum Quraisy semakin berani melontarkan gangguan dan hinaan secara terbuka kepada Rasulullah SAW. Kondisi ini membuat beban yang beliau rasakan semakin berat, karena dua penopang utamanya telah tiada.

Meski demikian, beliau tetap melanjutkan dakwah dengan penuh kesabaran, meskipun setiap penolakan terasa lebih menyakitkan dari sebelumnya.

Dakwah ke Thaif

Dalam keadaan seperti itu, Rasulullah SAW memutuskan untuk mencari dukungan di luar Makkah. Beliau berangkat menuju Thaif bersama Zaid bin Haritsah. Tujuannya adalah mengajak kabilah lain agar menerima Islam dan membantu menyebarkan risalah Allah.

Sepanjang perjalanan, beliau tetap menyampaikan ajakan Islam kepada kabilah yang ditemui. Namun ketika tiba di Thaif, ajakan tersebut disampaikan kepada para pemimpin suku Tsaqif dan langsung ditolak dengan keras.

Setelah penolakan itu, Rasulullah SAW masih berusaha berdakwah kepada penduduk Thaif selama beberapa hari. Akan tetapi, tidak satu pun yang menerima ajakan tersebut.

Para pemimpin suku bersikap angkuh dan meminta beliau meninggalkan Thaif. Mereka bahkan menggerakkan anak-anak, budak, dan masyarakat untuk menolak kehadiran beliau.

Saat Rasulullah SAW meninggalkan kota, beliau dikejar dan dilempari batu hingga terluka. Zaid bin Haritsah berusaha melindungi beliau dan turut mengalami luka di bagian kepala.

Dalam keadaan terluka dan kelelahan, keduanya kemudian berlindung di kebun milik Utbah dan Syaibah, dua putra Rabi'ah.

Doa di Tengah Luka dan Kesedihan

Di kebun tersebut, Rasulullah SAW duduk di balik tembok yang ditutupi tanaman anggur. Dalam kondisi lemah, beliau memanjatkan doa kepada Allah, mengungkapkan rasa sedih, lemah, dan tidak berdaya.

Doa yang dipanjatkan adalah sebagai berikut:

"Ya Allah, kepada-Mu aku mengeluhkan kelemahan-kelemahanku, ketidakberdayaanku, dan kehinaanku di hadapan manusia. Wahai yang Maha Pengasih di antara yang mengasihi! Engkau Tuhan orang-orang yang lemah dan Engkau adalah Tuhanku. Kepada siapakah Engkau hendak menyerahkan diriku? Kepada orang-orang asing yang bermuka masam terhadapku atau kepada musuh yang Engkau takdirkan akan mengalahkanku? Hal itu tidak aku risaukan, jika Engkau tidak murka kepadaku. Namun, rahmat-Mu bagiku amat luas. Aku menyerahkan diri pada cahaya-Mu yang menerangi segala kegelapan dan menentukan kebaikan urusan dunia dan akhirat. Aku berlindung dari murka-Mu. Aku senantiasa mohon ridha-Mu. Karena tidak ada daya dan kekuatan kecuali atas perkenan-Mu."

Dalam perjalanan kembali dari Thaif, datang Malaikat Jibril bersama malaikat penjaga gunung. Malaikat penjaga gunung menyampaikan bahwa jika Rasulullah SAW menghendaki, penduduk Thaif bisa dihimpit oleh dua gunung di sekeliling kota itu hingga binasa.

Namun Rasulullah SAW menolak, dan berkata:

"Tidak, aku berdoa semoga Allah memberi petunjuk agar orang-orang penting di antara mereka mau menyembah Allah tanpa menyekutukan-Nya."

Kisah ini menunjukkan kesabaran Rasulullah SAW yang sangat kuat. Di tengah luka, penolakan, dan kehilangan orang terdekat, beliau tetap melanjutkan dakwah tanpa menyerah, serta tetap menjaga hati agar tidak berubah menjadi kebencian.




(inf/kri)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads