Amalan 10 hari kedua bulan Ramadan kerap menjadi perhatian umat Islam yang ingin memaksimalkan fase maghfirah. Pada pertengahan Ramadan, banyak orang mulai meningkatkan kualitas ibadah setelah melewati fase awal puasa.
Momentum ini kerap dimanfaatkan untuk memperbanyak doa, istighfar, dan memperbaiki kekurangan ibadah pada hari-hari sebelumnya agar lebih siap menghadapi sepuluh malam terakhir Ramadan.
Amalan 10 Hari Kedua Bulan Ramadan
Sepuluh hari kedua bulan Ramadan dikenal sebagai fase maghfirah, yakni masa ketika Allah SWT membuka pintu ampunan seluas-luasnya bagi hamba-Nya. Pada fase ini, umat Muslim dianjurkan untuk memperbanyak ibadah yang berorientasi pada taubat, pembersihan diri, dan peningkatan kualitas hubungan dengan Allah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagaimana dikutip dari buku Cukupkan Amalan Agama Pasti Jayalah Akherat karya Beny Harjadi, Manajemen Diri Untuk Kebahagiaan Dunia Akhirat karya Tobari, serta Kamu Jangan Malu Doa - Cobain Aja Dulu, terdapat sejumlah amalan yang dianjurkan untuk diamalkan secara konsisten pada sepuluh hari kedua Ramadan.
1. Memperbanyak Istighfar dan Doa
Pada fase maghfirah, umat Muslim dianjurkan memperbanyak istighfar dan doa, sebagai bentuk pengakuan atas dosa serta permohonan ampun kepada Allah SWT. Ramadan menjadi waktu yang sangat mustajab untuk berdoa, terlebih bagi orang yang sedang berpuasa.
ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ : الْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَالصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ
"Tiga orang yang doanya tidak tertolak: pemimpin yang adil, orang yang berpuasa hingga ia berbuka, dan doa orang yang terzalimi." (HR. Tirmidzi No. 2526)
2. Memperbanyak Dzikir
Dzikir menjadi amalan penting pada sepuluh hari kedua Ramadan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah sekaligus membersihkan hati. Umat Muslim dianjurkan memperbanyak istighfar, tasbih, tahmid, dan tahlil, serta memohon ampunan atas dosa-dosa yang telah lalu.
Dalam hadits disebutkan,
"Barang siapa yang berzikir kepada Allah di bulan Ramadan, maka akan diampuni dosa-dosanya." (HR At-Tirmidzi)
Selain itu, dianjurkan membaca doa khusus sebagai bentuk permohonan ampunan:
اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ
Latin: Allahumma arhamni yaa arhamar raahimin
Artinya: Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepadaku, wahai Dzat Yang Maha Pengasih.
3. Membaca Al-Qur'an
Membaca dan mentadabburi Al-Qur'an menjadi amalan utama yang dianjurkan selama Ramadan, termasuk pada sepuluh hari kedua. Selain mengejar target khatam, umat Muslim dianjurkan membaca Al-Qur'an dengan penuh penghayatan sebagai sarana introspeksi dan perbaikan diri.
"Saya tidak pernah mengetahui Rasulullah Saw.membaca Al-Qur'an semuanya, sembahyang sepanjang malam. dan puasa sebulan penuh selain di bulan Ramadhan." (HR.Ahmad)
4. Memperbanyak Salat Sunnah
Pada fase maghfirah, umat Muslim dianjurkan memperbanyak salat sunnah seperti tahajud, dhuha, rawatib, dan witir. Sholat sunnah menjadi pelengkap salat wajib sekaligus sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dalam hadits, Rasulullah SAW bersabda,
"Barang siapa yang mendekatkan diri kepada Allah di bulan Ramadan dengan satu kebaikan, maka nilainya seperti orang yang melakukan kewajiban di bulan lainnya." (HR Ibnu Khuzaimah)
5. Salat Tarawih dan Salat Berjamaah
Salat Tarawih tetap menjadi amalan utama di malam hari pada sepuluh hari kedua Ramadan. Selain itu, menjaga salat berjamaah, khususnya salat fardhu, menjadi bagian penting dalam meningkatkan kualitas ibadah dan memperkuat disiplin spiritual.
"Sesungguhnya kedudukan kalian tidaklah sama bagiku, aku merasa khawatir ibadah ini diwajibkan kepada kalian, lalu kalian tidak sanggup melaksanakannya." Rasulullah wafat dan kondisinya tetap seperti ini. (HR.Al-Bukhari dan Muslim)
6. Sedekah
Sedekah di bulan Ramadan, khususnya pada fase maghfirah, menjadi amalan yang sangat dianjurkan karena dapat menghapus dosa dan menumbuhkan kepekaan sosial. Memberi makan orang berpuasa termasuk bentuk sedekah yang memiliki keutamaan besar.
"Rasulullah adalah manusia yang paling pemurah, dan beliau lebih pemurah lagi di bulan saat Jibril menemui beliau,..." (HR Bukhari)
7. Itikaf sebagai Persiapan 10 Hari Terakhir
Meski itikaf lebih dianjurkan pada sepuluh hari terakhir Ramadan, sepuluh hari kedua dapat dimanfaatkan sebagai masa persiapan untuk membiasakan diri berdiam di masjid, memperbanyak ibadah, dan mengurangi aktivitas yang tidak perlu.
"Sesungguhnya Nabi selalu itikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan sampai meninggal dunia, kemudian istri-istri beliau beritikaf sesudah beliau." (Muttafaqun 'alaih)
(lus/lus)












































Komentar Terbanyak
MUI Desak RI Keluar dari Board of Peace Buntut Serangan AS-Israel ke Iran
Pernyataan Soal Zakat Picu Polemik, Menag Sampaikan Klarifikasi
PBNU Kutuk Serangan AS-Israel ke Iran: Brutal dan Merusak Tatanan