Hari Kebangkitan Diumpamakan Seperti Apa dalam Al-Qur'an?

Hari Kebangkitan Diumpamakan Seperti Apa dalam Al-Qur'an?

Tia Kamilla - detikHikmah
Minggu, 01 Feb 2026 06:00 WIB
Ilustrasi kiamat
Ilustrasi kiamat. Foto: Getty Images/iStockphoto/mppriv
Jakarta -

Hari Kebangkitan merupakan salah satu peristiwa penting dalam Islam. Melalui ayat-ayat Al-Qur'an, Allah SWT memberikan berbagai gambaran hari kebangkitan agar umat Islam dapat memahami betapa besar dan dahsyatnya kejadian tersebut.

Hari Kebangkitan juga dikenal dengan sebutan Yaumul Ba'ats. Mengutip buku Pendidikan Agama Islam untuk Perguruan Tinggi karya Beni Kurniawan, pada hari ini manusia dibangkitkan kembali setelah meninggal dunia.

Seluruh manusia kemudian dikumpulkan di Padang Mahsyar dalam peristiwa yang disebut Yaumul Hasyr atau hari berkumpul.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Terkait hal tersebut, Allah SWT berfirman dalam surah Al-Hajj ayat 7,

وَّاَنَّ السَّاعَةَ اٰتِيَةٌ لَّا رَيْبَ فِيْهَاۙ وَاَنَّ اللّٰهَ يَبْعَثُ مَنْ فِى الْقُبُوْرِ

ADVERTISEMENT

Wa annas-sā'ata ātiyatul lā raiba fīhā, wa annallāha yab'aṡu man fil-qubūr(i).

Artinya: "Sesungguhnya kiamat itu pasti datang, tidak ada keraguan padanya dan sesungguhnya Allah akan membangkitkan siapa pun yang di dalam kubur."

Lalu, hari kebangkitan diumpamakan seperti apa dalam Al-Qur'an? Berikut penjelasan dan gambaran yang disampaikan dalam ayat-ayat Al-Qur'an.

Perumpamaan Hari Kebangkitan dalam Al-Qur'an

Menurut Mahir Ahmad Ash-Shufiy dalam kitab Al-Ba'ts wa An-Nusyur (diterjemahkan oleh Badruddin dkk), Allah SWT telah memberikan sejumlah gambaran tentang bagaimana Hari Kebangkitan melalui ayat-ayat Al-Qur'an.

Perumpamaan ini membantu umat Islam memahami bahwa kebangkitan manusia setelah mati adalah hal yang benar-benar mungkin dan pasti terjadi dengan kehendak Allah SWT.

1. Perumpamaan dalam Kisah Ashabul Kahfi

Perumpamaan pertama diambil dari kisah Ashabul Kahfi yang terdapat dalam Surah Al-Kahfi.

Kisah ini menceritakan sekelompok pemuda beriman yang ditidurkan oleh Allah SWT selama 309 tahun, lalu dibangkitkan kembali dalam kondisi masih sama seperti sebelum mereka tidur.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Kahfi ayat 9-12:

اَمْ حَسِبْتَ اَنَّ اَصْحٰبَ الْكَهْفِ وَالرَّقِيْمِ كَانُوْا مِنْ اٰيٰتِنَا عَجَبًا ٩ اِذْ اَوَى الْفِتْيَةُ اِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوْا رَبَّنَآ اٰتِنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً وَّهَيِّئْ لَنَا مِنْ اَمْرِنَا رَشَدًا ١٠ فَضَرَبْنَا عَلٰٓى اٰذَانِهِمْ فِى الْكَهْفِ سِنِيْنَ عَدَدًاۙ ١١ ثُمَّ بَعَثْنٰهُمْ لِنَعْلَمَ اَيُّ الْحِزْبَيْنِ اَحْصٰى لِمَا لَبِثُوْٓا اَمَدًا ࣖ ١٢

Latin: Am ḥasibta anna aṣḥābal-kahfi war-raqīmi kānū min āyātinā 'ajabā(n). Iż awal-fityatu ilal-kahfi fa qālū rabbanā ātinā mil ladunka raḥmataw wa hayyi' lanā min amrinā rasyadā(n). Faḍarabnā 'alā āżānihim fil-kahfi sinīna 'adadā(n). Ṡumma ba'aṡnāhum lina'lama ayyul-ḥizbaini aḥṣā limā labiṡū amadā(n).

Artinya: "Apakah engkau mengira bahwa sesungguhnya para penghuni gua dan (yang mempunyai) raqīm benar-benar merupakan keajaiban di antara tanda-tanda (kebesaran) Kami? (Ingatlah) ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua lalu berdoa, "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu dan mudahkanlah bagi kami petunjuk untuk segala urusan kami." Maka, Kami tutup telinga mereka di dalam gua itu selama bertahun-tahun."

Lalu, Allah SWT berfirman lagi dalam surah Al Kahfi ayat 19,

وَكَذٰلِكَ بَعَثْنٰهُمْ لِيَتَسَاۤءَلُوْا بَيْنَهُمْۗ قَالَ قَاۤىِٕلٌ مِّنْهُمْ كَمْ لَبِثْتُمْۗ قَالُوْا لَبِثْنَا يَوْمًا اَوْ بَعْضَ يَوْمٍۗ قَالُوْا رَبُّكُمْ اَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْۗ فَابْعَثُوْٓا اَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هٰذِهٖٓ اِلَى الْمَدِيْنَةِ فَلْيَنْظُرْ اَيُّهَآ اَزْكٰى طَعَامًا فَلْيَأْتِكُمْ بِرِزْقٍ مِّنْهُ وَلْيَتَلَطَّفْ وَلَا يُشْعِرَنَّ بِكُمْ اَحَدًا

Latin: Wa każālika ba'aṡnāhum liyatasā'alū bainahum, qāla qā'ilum minhum kam labiṡtum, qālū labiṡnā yauman au ba'ḍa yaum(in), qālū rabbukum a'lamu bimā labiṡtum, fab'aṡū aḥadakum biwariqikum hāżihī ilal-madīnati falyanẓur ayyuhā azkā ṭa'āman falya'tikum birizqim minhu walyatalaṭṭaf wa lā yusy'iranna bikum aḥadā(n).

Artinya: "Demikianlah, Kami membangunkan mereka agar saling bertanya di antara mereka (sendiri). Salah seorang di antara mereka berkata, "Sudah berapa lama kamu berada (di sini)?" Mereka menjawab, "Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari." Mereka (yang lain lagi) berkata, "Tuhanmu lebih mengetahui berapa lama kamu berada (di sini). Maka, utuslah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini. Hendaklah dia melihat manakah makanan yang lebih baik, lalu membawa sebagian makanan itu untukmu. Hendaklah pula dia berlaku lemah lembut dan jangan sekali-kali memberitahukan keadaanmu kepada siapa pun."

Mahir Ahmad Ash-Shufiy menjelaskan bahwa contoh ini memperlihatkan bagaimana Allah SWT mampu membangunkan manusia setelah waktu yang sangat panjang, namun manusia tersebut merasa hanya tidur sebentar.

Hal ini menjadi gambaran bahwa Hari Kebangkitan bukanlah sesuatu yang mustahil, dan dapat terjadi sesuai kehendak Allah SWT.

2. Perumpamaan dalam Kisah Uzair

Perumpamaan kedua terdapat dalam Surah Al-Baqarah, melalui kisah seorang lelaki yang dalam penafsiran jumhur salaf adalah Uzair, seorang saleh dari Bani Israil.

Allah SWT membuatnya mati selama 100 tahun, lalu membangkitkannya kembali agar menjadi tanda kekuasaan-Nya.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 259,

اَوْ كَالَّذِيْ مَرَّ عَلٰى قَرْيَةٍ وَّهِيَ خَاوِيَةٌ عَلٰى عُرُوْشِهَاۚ قَالَ اَنّٰى يُحْيٖ هٰذِهِ اللّٰهُ بَعْدَ مَوْتِهَا ۚ فَاَمَاتَهُ اللّٰهُ مِائَةَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَهٗ ۗ قَالَ كَمْ لَبِثْتَ ۗ قَالَ لَبِثْتُ يَوْمًا اَوْ بَعْضَ يَوْمٍۗ قَالَ بَلْ لَّبِثْتَ مِائَةَ عَامٍ فَانْظُرْ اِلٰى طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمْ يَتَسَنَّهْ ۚ وَانْظُرْ اِلٰى حِمَارِكَۗ وَلِنَجْعَلَكَ اٰيَةً لِّلنَّاسِ وَانْظُرْ اِلَى الْعِظَامِ كَيْفَ نُنْشِزُهَا ثُمَّ نَكْسُوْهَا لَحْمًا ۗ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهٗ ۙ قَالَ اَعْلَمُ اَنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Latin: Au kal-lażī marra 'alā qaryatiw wa hiya khāwiyatun 'alā 'urūsyihā, qāla annā yuḥyī hāżihillāhu ba'da mautihā, fa'amātahullāhu mi'ata 'āmin ṡumma ba'aṡah(ū), qāla kam labiṡt(a), qāla labiṡtu yauman au ba'ḍa yaum(in), qāla bal labiṡta mi'ata 'āmin fanẓur ilā ṭa'āmika wa syarābika lam yatasannah, wanẓur ilā ḥimārik(a), wa linaj'alaka āyatal lin-nāsi wanẓur ilal-'iẓāmi kaifa nunsyizuhā ṡumma naksūhā laḥmā(n), falammā tabayyana lah(ū), qāla a'lamu annallāha 'alā kulli syai'in qadīr(un).

Artinya: "Atau, seperti orang yang melewati suatu negeri yang (bangunan-bangunannya) telah roboh menutupi (reruntuhan) atap-atapnya. Dia berkata, 'Bagaimana Allah menghidupkan kembali (negeri) ini setelah kehancurannya?' Lalu, Allah mematikannya selama seratus tahun, kemudian membangkitkannya (kembali). Dia (Allah) bertanya, 'Berapa lama engkau tinggal (di sini)?' Dia menjawab, 'Aku tinggal (di sini) sehari atau setengah hari.' Allah berfirman, 'Sebenarnya engkau telah tinggal selama seratus tahun. Lihatlah makanan dan minumanmu yang belum berubah, (tetapi) lihatlah keledaimu (yang telah menjadi tulang-belulang) dan Kami akan menjadikanmu sebagai tanda (kekuasaan Kami) bagi manusia. Lihatlah tulang-belulang (keledai itu), bagaimana Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging (sehingga hidup kembali).' Maka, ketika telah nyata baginya, dia pun berkata, 'Aku mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.'"

Kisah ini menjadi salah satu bukti kekuasaan Allah SWT atas Hari Kebangkitan.

3. Perumpamaan dalam Kisah Nabi Ibrahim AS

Allah SWT juga memberikan gambaran tentang Hari Kebangkitan melalui kisah Nabi Ibrahim AS yang meminta agar diperlihatkan bagaimana Allah menghidupkan makhluk yang telah mati.

Allah menyuruh beliau memotong empat burung, menaruhnya di bukit-bukit, lalu memanggilnya kembali hingga burung itu hidup kembali.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 260,

وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهٖمُ رَبِّ اَرِنِيْ كَيْفَ تُحْيِ الْمَوْتٰىۗ قَالَ اَوَلَمْ تُؤْمِنْ ۗقَالَ بَلٰى وَلٰكِنْ لِّيَطْمَىِٕنَّ قَلْبِيْ ۗقَالَ فَخُذْ اَرْبَعَةً مِّنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ اِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلٰى كُلِّ جَبَلٍ مِّنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِيْنَكَ سَعْيًا ۗوَاعْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

Latin: Wa iż qāla ibrāhīmu rabbi arinī kaifa tuḥyil-mautā, qāla awalam tu'min, qāla balā wa lākil liyaṭma'inna qalbī, qāla fakhuż arba'atam minaṭ-ṭairi faṣurhunna ilaika ṡummaj'al 'alā kulli jabalim minhunna juz'an ṡummad'uhunna ya'tīnaka sa'yā(n), wa'lam annallāha 'azīzun ḥakīm(un).

Artinya: "(Ingatlah) ketika Ibrahim berkata, 'Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati.' Dia (Allah) berfirman, 'Belum percayakah engkau?' Dia (Ibrahim) menjawab, 'Aku percaya, tetapi agar hatiku tenang.' Dia (Allah) berfirman, 'Kalau begitu, ambillah empat ekor burung, lalu dekatkanlah kepadamu (potong-potonglah). Kemudian, letakkanlah di atas setiap bukit satu bagian dari tiap-tiap burung. Selanjutnya, panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.' Ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."

Bagaimana Proses Kebangkitan Manusia pada Hari Kiamat?

Hari Kebangkitan adalah waktu ketika seluruh manusia yang sudah meninggal akan dihidupkan kembali oleh Allah SWT. Peristiwa ini terjadi setelah manusia melewati alam kubur atau Yaumul Barzah.

Tanda awal dimulainya hari kebangkitan adalah ditiupnya sangkakala oleh Malaikat Israfil.

Pada tiupan pertama, semua makhluk yang hidup akan mati atas izin Allah SWT. Hal ini dijelaskan dalam firman Allah SWT dalam surah An-Naml ayat 87,

وَيَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَفَزِعَ مَنْ فِي السَّمَوتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ وَكُلٌّ آتَوُهُ دَخِرِينَ

Artinya: "(Ingatlah) pada hari (ketika) sangkakala ditiup sehingga terkejutlah semua yang ada di langit dan semua yang ada di bumi, kecuali yang Allah kehendaki. Semuanya datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri."

Menurut Tafsir Ibnu Katsir, tiupan pertama ini berlangsung sangat lama dan menandai berakhirnya usia dunia. Tiupan ini terutama menimpa orang-orang yang durhaka, sementara Allah mengecualikan hamba-hamba pilihan-Nya.

Setelah itu, Allah SWT akan menghidupkan kembali seluruh manusia. Kebangkitan ini dilakukan agar setiap manusia dimintai pertanggungjawaban atas semua perbuatan dan amal selama hidup di dunia.

Semua manusia akan dibangkitkan kembali, sebagaimana firman-Nya dalam surah An-Nahl ayat 38,

وَاَقْسَمُوْا بِاللّٰهِ جَهْدَ اَيْمَانِهِمْۙ لَا يَبْعَثُ اللّٰهُ مَنْ يَّمُوْتُۗ بَلٰى وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا وَّلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ

Wa aqsamū billāhi jahda aimānihim, lā yab'aṡullāhu may yamūt(u), balā wa'dan 'alaihi ḥaqqaw wa lākinna akṡaran-nāsi lā ya'lamūn(a).

Artinya: "Mereka sungguh-sungguh bersumpah dengan (nama) Allah, 'Allah tidak akan membangkitkan orang yang mati.' Bukan demikian (justru Allah pasti akan membangkitkannya). (Yang demikian ini) adalah janji yang pasti Dia penuhi, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui."

Menurut tafsir Kemenag, kekuasaan Allah SWT tidak terbatas. Menghidupkan kembali manusia yang telah mati bukanlah hal sulit bagi Allah, meskipun hal itu tidak bisa dipahami oleh akal manusia.

Lalu, pada tiupan kedua, seluruh manusia akan bangkit dari kuburnya dan segera menghadap Allah SWT. Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur'an surah Yasin ayat 51,

وَنُفِخَ فِى الصُّوْرِ فَاِذَا هُمْ مِّنَ الْاَجْدَاثِ اِلٰى رَبِّهِمْ يَنْسِلُوْنَ

Wa nufikha fiṣ-ṣūri fa'iżā hum minal-ajdāṡi ilā rabbihim yansilūn(a).

Artinya: Sangkakala pun ditiup dan seketika itu mereka bergerak cepat dari kuburnya menuju kepada Tuhannya.

Bagaimana Keadaan Manusia saat Dibangkitkan di Hari Kiamat?

Setelah manusia dibangkitkan pada hari kiamat, kondisi awal mereka digambarkan sangat sederhana dan apa adanya.

Manusia akan dikumpulkan tanpa alas kaki, tanpa pakaian, dan dalam keadaan belum disunat. Hal ini sebagaimana disampaikan Rasulullah SAW dalam sabdanya,

"Manusia pada hari kiamat akan dihimpun di Padang Mahsyar dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang bulat. dan tidak bersunat." (HR Muslim)

Selain itu, Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa cara manusia dikumpulkan menuju Padang Mahsyar tidaklah sama.

Ada yang datang dengan berjalan kaki, ada yang berkendara, dan ada pula yang diseret di atas wajah mereka.

Hal ini tergantung pada keadaan masing-masing manusia semasa hidupnya. Rasulullah SAW bersabda,

"Sesungguhnya kalian akan dikumpulkan (ke Padang Mahsyar) dalam keadaan berjalan, dan (ada yang) berkendaraan, serta (ada juga yang) diseret di atas wajah-wajah kalian." (HR At-Tirmidzi)

Dari penjelasan ini, dapat dipahami bahwa iman, amal, dan perbuatan manusia selama hidup di dunia akan sangat menentukan keadaan mereka saat dibangkitkan dan dikumpulkan di Padang Mahsyar pada Yaumul Ba'ats.




(inf/inf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads