Mesir dan Turki Tolak Kapal Pesiar LGBTQ+, Jaga Nilai Masyarakat Setempat

Mesir dan Turki Tolak Kapal Pesiar LGBTQ+, Jaga Nilai Masyarakat Setempat

Devi Setya - detikHikmah
Minggu, 12 Jul 2026 07:00 WIB
Kapal Pesiar LGBTQ+
Foto: Steve Parsons/PA
Jakarta -

Otoritas Mesir dilaporkan menolak kapal pesiar Scarlet Lady milik Virgin Voyages yang disewa oleh perusahaan perjalanan LGBTQ+ Atlantis Events untuk berlabuh di Pelabuhan Alexandria. Keputusan tersebut terjadi hanya beberapa hari setelah kapal yang sama juga ditolak memasuki pelabuhan di Turki.

Penolakan dari Mesir membuat kapal pesiar tersebut kembali harus mengubah rute pelayarannya. Sebelumnya, Alexandria dimasukkan ke dalam jadwal perjalanan sebagai pengganti kunjungan ke Kusadasi dan Istanbul di Turki yang lebih dulu dibatalkan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dilansir dari The Washington Post, Sabtu (11/7/2026) Atlantis Events telah menjual sekitar 1.200 paket wisata ke Mesir kepada para penumpang kapal tersebut. Namun, izin berlabuh di Alexandria akhirnya dicabut sebelum kapal tiba di tujuan.

Sebanyak sekitar 2.000 penumpang kapal Scarlet Lady dilaporkan menerima pemberitahuan pada Kamis (9/7/2026) pagi bahwa kapal tidak dapat memasuki perairan Mesir.

ADVERTISEMENT

Dalam surat yang dibagikan kepada penumpang, Chief Executive Officer Atlantis Events, Rich Campbell, menyampaikan bahwa pihaknya baru menerima informasi mengenai penolakan tersebut pada hari yang sama.

"Pagi ini, kami diberitahu bahwa Scarlet Lady telah ditolak masuk ke perairan Mesir, dan akibatnya, tidak akan dapat singgah di Alexandria hari ini," tulis Campbell kepada para penumpang seperti dikutip dari The Guardian.

Ia mengaku terkejut dengan keputusan tersebut karena perusahaan sebelumnya pernah menyelenggarakan pelayaran serupa tanpa kendala.

"Saya tahu betapa pentingnya kunjungan ini bagi Anda. Kami berhasil melakukan perjalanan serupa tahun lalu tanpa masalah. Jadi kami terkejut dengan keputusan yang tidak menguntungkan ini," lanjutnya.

Campbell menegaskan bahwa Atlantis Events dan Virgin Voyages telah berupaya maksimal agar kunjungan ke Alexandria dapat terlaksana.

"Ketahuilah bahwa tim Atlantis dan Virgin Voyages bekerja tanpa lelah untuk mewujudkan kunjungan ke Alexandria ini. Berita ini mengejutkan kami semua, dan kami sama kecewanya dengan Anda."

Sebelumnya Ditolak Turki karena Tidak Sesuai Moral Masyarakat

Meskipun Mesir tidak menyebutkan alasan pasti penolakannya terhadap kapal pesiar tersebut, namun Campbell menduga hal ini berkaitan dengan penolakan sebelumnya di Turki. Pasalnya penolakan dari Mesir terjadi setelah kapal yang sama tidak diizinkan berlabuh di Turki.

Campbell menyebut keputusan Turki itu "mengejutkan," dan mengatakan kepada CNN: "Alasan di baliknya adalah karena penumpang adalah kelompok gay."

Otoritas setempat sebelumnya menyatakan bahwa pelayaran tersebut disewa oleh kelompok yang dinilai tidak sejalan dengan nilai-nilai moral dan struktur sosial masyarakat setempat.

Dalam pernyataan yang dipublikasikan secara daring, pihak berwenang Turki menyebut kedatangan kapal itu menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat sehingga kunjungan dibatalkan.

Kyle Olsen, pemilik perusahaan wisata LGBTQ+ Hermes Holidays, juga menilai keputusan Mesir dipengaruhi oleh larangan yang dilakukan Turki sebelumnya.

Atlantis telah menyewa kapal pesiar ke Turki sebanyak 13 kali selama 25 tahun terakhir tanpa insiden, tambahnya, dan upaya yang melibatkan kedutaan besar AS di Turki gagal untuk membatalkan larangan tersebut.

Akibat keputusan tersebut, Atlantis Events kemudian mengubah rencana perjalanan dengan menambahkan Alexandria dan Pulau Kreta di Yunani sebagai tujuan baru.

Kapal yang berangkat dari Athena, Yunani, pada 5 Juli itu kini dijadwalkan singgah di Chania, Kreta, sebelum melanjutkan perjalanan ke Montenegro dan kemudian menuju Trieste, Italia, yang menjadi titik akhir pelayaran pada 15 Juli.

Perubahan rute ini menjadi yang kedua kalinya dalam satu perjalanan akibat penolakan dari negara tujuan.

Nilai Moral Masyarakat Muslim Disinyalir Ikut Berperan

Alasan penolakan Turki dan Mesir terhadap kapal pesiar Scarlet Lady yang mengangkut komunitas LGBTQ+ disebut karena tidak sesuai dengan nilai moral masyarakat setempat.

Untuk diketahui, Mesir dan Turki termasuk negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Berdasarkan data Muslim Population by Country 2026 yang diterbitkan oleh World Population Review, tercatat sekitar 87,5 juta penduduk muslim di Mesir atau sekitar 92.35% dari jumlah penduduk negara tersebut. Tak beda jauh dengan Turki, terdapat sekitar 81,2 juta muslim atau sekitar 94.5% dari total jumlah penduduk di negara tersebut.

Ajaran Islam sendiri mengharamkan perilaku penyimpangan seksual seperti LGBTQ+. Mayoritas ulama dari berbagai mazhab bersepakat bahwa hubungan seksual sesama jenis tidak dibenarkan dalam ajaran Islam.

Salah satu dasar yang sering dijadikan rujukan adalah kisah kaum Nabi Luth AS yang terdapat dalam beberapa surah Al-Qur'an, di antaranya Surah Al-A'raf, Hud, Asy-Syu'ara, An-Naml, dan Al-Ankabut.

Allah SWT berfirman dalam surat Al-A'raf ayat 81,

إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ ٱلرِّجَالَ شَهْوَةً مِّن دُونِ ٱلنِّسَآءِ ۚ بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُونَ

Artinya: Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.

Dikutip dalam tafsir ringkas Kementerian Agama RI, ayat ini menegaskan larangan melampiaskan nafsu syahwat kepada sesama jenis.

Sungguh, kamu benar-benar telah melampiaskan syahwatmu kepada sesama lelaki dengan mendatangi mereka dari duburnya, bukan kepada perempuan yang seharusnya kepada merekalah kamu menyalurkan naluri seksualmu. Kamu telah melakukan perbuatan yang sangat keji dan rendah serta durhaka. Bahkan kamu benar-benar kaum yang melampaui batas karena melakukan pelampiasan syahwat bukan pada tempatnya, menyimpang dari fitrah manusia.



(dvs/inf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads