Keutamaan Banyak Diam dalam Islam Beserta Dalilnya

Keutamaan Banyak Diam dalam Islam Beserta Dalilnya

Hanif Hawari - detikHikmah
Sabtu, 29 Nov 2025 14:00 WIB
Ilustrasi diam
Ilustrasi diam (Foto: Getty Images/iStockphoto/AaronAmat)
Jakarta -

Berbicara adalah aktivitas ringan yang sering kita lakukan tanpa banyak pertimbangan, namun lisan justru bisa menjadi sumber kebaikan sekaligus petaka. Dalam Islam, lisan mendapat perhatian besar karena dari sanalah banyak masalah muncul tanpa disadari.

Tidak sedikit orang yang mengira bahwa banyak berbicara menandakan kecerdasan, pengalaman, atau wibawa seseorang. Padahal, kenyataannya tidak semua ucapan membawa manfaat, bahkan bisa menjadi beban bagi diri sendiri jika tidak dijaga dengan baik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hukum Berkata Baik atau Diam

Islam mengajarkan bahwa berkata yang baik atau diam adalah prinsip utama dalam menjaga kehormatan dan ketenangan hidup. Diam serta menjaga lisan bukan hanya tanda kedewasaan, tetapi juga memiliki banyak keutamaan yang dapat membawa seseorang pada keselamatan dunia dan akhirat.

Dikutip dari buku 66 Hadits Pilihan oleh Shohibul Ulum, terdapat sebuah hadits yang menerangkan hal ini.

ADVERTISEMENT

"Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu: Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya ia berkata yang baik atau memilih untuk diam .." (HR al-Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lainnya, Rasulullah SAW bersabda,

"Hendaklah engkau lebih banyak diam, sebab diam dapat menyingkirkan setan dan menolongmu terhadap urusan agamamu." (HR Ahmad)

Islam menempatkan ucapan sebagai bagian penting dari akhlak seorang Muslim karena setiap kata memiliki konsekuensi. Karena itu, Rasulullah SAW mengingatkan agar setiap orang hanya mengatakan hal yang baik dan bermanfaat.

Hadits tentang berkata baik atau diam menegaskan bahwa lisan harus digunakan untuk kebaikan, bukan untuk menyakiti atau merugikan orang lain. Jika seseorang tidak mampu menghadirkan ucapan yang bermanfaat, maka diam menjadi pilihan yang jauh lebih selamat.

Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa diam dapat menyingkirkan godaan setan yang sering masuk melalui pintu ucapan. Dengan memperbanyak diam, seseorang dapat lebih fokus memperbaiki diri dan menjaga hatinya dari penyakit-penyakit batin.

Membicarakan hal yang tidak berguna hanya akan menyia-nyiakan waktu dan dapat menyeret seseorang pada perbuatan dosa. Oleh sebab itu, Islam memerintahkan agar setiap Muslim berhati-hati dalam berbicara dan memilih ucapan dengan bijaksana.

Diam bukan berarti pasif, tetapi menjadi bentuk kontrol diri agar tidak terjatuh dalam kesalahan lisan. Dengan menjaga ucapan dan lebih banyak diam ketika diperlukan, seorang Muslim dapat meraih kebaikan dan keselamatan dunia serta akhirat.

Dalil untuk Menjaga Lisan

Mengutip buku Tak Henti Engkau Berlari Dikejar Rezeki: Amalan-Amalan Dahsyat Sumber Kekayaan dan Kemakmuran karya Taufiq FR, ayat tersebut menegaskan betapa besar tanggung jawab seorang Muslim dalam menjaga lisannya. Setiap kata yang terucap akan dicatat oleh para malaikat, dan kelak merekalah yang akan menjadi saksi atas semua ucapan manusia selama hidup di dunia.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surah An-Nisa ayat 148,

۞ لَّا يُحُِؚّ ٱللَّهُ ٱلْجَهْرَ ؚِٱلسُّوٓءِ مِنَ ٱلْقَوْلِ إِلَّا مَن ؞ُلِمَ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا

Artinya: "Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."

Dalam ayat lainnya, Allah SWT berfirman:

وَقُولُوا۟ لِلنَّاسِ حُسۡنٗا

Artinya: "Dan ucapkanlah perkataan yang baik kepada manusia." (QS Al-Baqarah: 83)

Pada surah Al-Hujurat ayat 11, Allah SWT menegaskan larangan bagi orang-orang beriman untuk saling menghina atau menyematkan julukan yang buruk kepada sesama.

وَلَا تَلۡمِزُوٓا۟ أَنفُسَكُمۡ وَلَا تَنَاَؚزُوا۟ ؚِٱلۡأَلۡقَؚِٰۖ

Artinya: "Dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk..."

Ayat tersebut menekankan bahwa menjaga lisan tidak hanya sebatas menghindari dusta, tetapi juga menjauhi perbuatan mencela, meremehkan, atau melukai hati orang lain melalui perkataan. Ini menjadi pengingat bahwa setiap ucapan harus dijaga agar tidak menimbulkan kesakitan atau keburukan.

Wallahu a'lam.




(hnh/kri)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads