Pernahkah detikers membayangkan menjalankan ibadah puasa Ramadan yang durasinya tidak sampai hitungan jam? Di saat umat Islam di belahan dunia lain harus menahan lapar dan dahaga selama 12 hingga 18 jam, ada sebuah wilayah di mana jarak antara waktu subuh dan magrib sangatlah singkat.
Fenomena unik ini terjadi di Kota Murmansk, Rusia. Jika bulan suci Ramadan jatuh pada musim dingin, tepatnya sekitar bulan Desember, durasi puasa di kota ini bisa menjadi yang tersingkat di dunia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ramadan pada musim dingin di Murmansk pernah terjadi pada 2001 dan 2002. Bahkan matahari tidak terbit di sana.
Jadwal salat Kota Murmansk, Rusia pada Ramadan 2001. Foto: Tangkapan layar jadwal salat di situs AlMosaly |
Dilansir CNBC Indonesia, fenomena puasa super singkat ini pernah dialami seorang pemandu wisata asal Indonesia, Lalu Satria Malaca. Satria membagikan pengalaman puasa di Murmansk pada 17 Desember 2024.
"Hari ini saya lagi berpuasa, tapi bukan mau pamer puasanya ya. Saya mau pamer saya puasa cuma satu jam-an saja. Jadi tadi sahur satu jam yang lalu, sekarang sudah berbuka," kata Satria.
Durasi puasa di Murmansk bisa berlangsung kurang dari satu jam. Mengutip data dari jadwal salat di Muslim Pro untuk wilayah Murmansk pada 17 Desember 2024, waktu pengerjaan ibadah salat lima waktu jatuh pada jam yang nyaris bersamaan. Berikut contohnya:
- Subuh: 12.44
- Zuhur: 12.46
- Asar: 13.08
- Magrib: 12.41
- Isya: 12.51
Jadwal salat di Murmansk Rusia pada 17 Desember 2024. Foto: (Screenshoot Muslim Pro) |
Dengan jadwal tersebut, waktu salat Subuh menuju Magrib hanya terpaut hitungan menit. Artinya, durasi berpuasa di sana bahkan tidak sampai satu jam penuh.
Namun kondisi tersebut berubah setiap tahunnya. Pada tahun ini, durasi puasanya sekitar 11-12 jam per hari. Karena ada di bulan Maret 2026.
Mengapa Fenomena Ini Bisa Terjadi?
Dilansir detikEdu, fenomena langka ini disebabkan oleh letak geografis Murmansk yang berada di kawasan Arctic Circle atau Lingkaran Arktik yang dekat dengan Kutub Utara. Pada musim dingin (Desember hingga Januari), wilayah ini mengalami fenomena alam yang disebut Polar Night atau Malam Kutub.
Polar night terjadi karena kemiringan sumbu Bumi sebesar 23,5 derajat saat berotasi. Akibatnya, wilayah kutub sama sekali tidak mendapatkan cahaya matahari langsung dalam periode tertentu. Di Murmansk, matahari tidak pernah benar-benar terbit di atas ufuk.
Melansir Arctic Rusia, Murmansk bukan sekadar kota kecil yang terisolasi. Murmansk merupakan kota terbesar di Lingkaran Arktik sekaligus salah satu pelabuhan utama di Rusia yang berbatasan dengan Finlandia.
Berdasarkan data dari geographylists.com, berikut adalah daftar kota dengan populasi terbesar di Lingkaran Arktik:
- Murmansk, Rusia (309.362 jiwa)
- Noril'sk, Rusia (201.982 jiwa)
- Vorkuta, Rusia (69.008 jiwa)
- Tromsø, Norwegia (68.329 jiwa)
- Apatity, Rusia (61.266 jiwa)
Kondisi alam yang ekstrem ini membuat tantangan tersendiri bagi umat Islam di sana. Bagi para musafir atau pendatang, sering kali ibadah salat dilakukan dengan cara jamak (digabung) karena rentang waktu antar salat yang sangat berdekatan.
Selain Murmansk, Antartika juga mengalami kondisi ekstrem yang mempengaruhi durasi puasa. Pada musim panas, matahari bisa bersinar selama 24 jam penuh, sedangkan di musim dingin, matahari tidak terbit sama sekali. Karena tidak memiliki penduduk tetap, umat Islam yang berada di Antartika biasanya mengikuti waktu negara asal atau negara terdekat dengan durasi siang dan malam yang lebih seimbang.
Beberapa kota di Belahan Bumi Utara seperti Nuuk, Reykjavik, Stockholm, dan Helsinki menghadapi tantangan puasa yang sangat panjang akibat fenomena siang hari yang ekstrem. Di puncak musim panas, durasi puasa di sana bisa mencapai 20 jam karena posisi kemiringan bumi terhadap matahari. Untuk mengantisipasi kondisi ini, sejumlah ulama memberikan keringanan bagi umat Islam setempat untuk mengikuti jadwal puasa negara dengan durasi normal, seperti waktu di Makkah.
Sementara itu, durasi puasa di Indonesia cenderung konsisten di angka 12,5 hingga 13 jam sepanjang tahun. Hal ini disebabkan posisi geografis Indonesia yang berada di garis khatulistiwa, sehingga pembagian waktu siang dan malam hampir selalu seimbang dengan selisih waktu imsak dan magrib yang sangat tipis antar wilayah.
(hnh/kri)














































Komentar Terbanyak
MUI Desak RI Keluar dari Board of Peace Buntut Serangan AS-Israel ke Iran
Pernyataan Soal Zakat Picu Polemik, Menag Sampaikan Klarifikasi
PBNU Kutuk Serangan AS-Israel ke Iran: Brutal dan Merusak Tatanan