Apakah Harus Iktikaf di Masjid untuk Mendapat Lailatul Qadar?

Apakah Harus Iktikaf di Masjid untuk Mendapat Lailatul Qadar?

Hanif Hawari - detikHikmah
Rabu, 11 Mar 2026 05:45 WIB
JAKARTA, INDONESIA - APRIL 14: Muslims fill the mosque praying while carrying out the early morning itikaf at the Istiqlal Mosque, Jakarta, Indonesia on April 14, 2023. The last 10 days of Ramadan 1444 Hijriah, the Istiqlal Mosque is open 24 hours for Muslims to carry out itikaf or stay silent in the mosque with the intention of getting closer to Allah by means of reading the Holy Quran more, dhikr, remembering self-deficiencies, praying sunnah, and praying until the end Ramadan to get the night of Lailat al-Qadr is the night of the revelation of the Holy Quran which is believed to occur on one of the odd nights in the last 10 days of Ramadan. (Photo by Dasril Roszandi/Anadolu Agency via Getty Images)
Suasana iktikaf di Masjid Istiqlal (Foto: Anadolu Agency via Getty Images/Anadolu Agency)
Jakarta -

Malam Lailatul Qadar adalah waktu yang paling dinantikan umat Islam di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Salah satu amalan yang identik dengan malam mulia ini adalah iktikaf.

Namun, muncul pertanyaan di tengah masyarakat: Apakah harus iktikaf di masjid untuk bisa mendapatkan pahala Lailatul Qadar?

Secara bahasa, iktikaf adalah ibadah dengan cara berdiam diri di dalam masjid untuk fokus beribadah kepada Allah SWT. Anjuran ini termaktub dalam Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 187 serta hadits Aisyah RA, yang mengisahkan bahwa Nabi Muhammad SAW rutin beriktikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadan hingga beliau wafat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ثُمَّ أَتِمُّوا۟ ٱلصِّيَامَ إِلَى ٱلَّيْلِ ۚ وَلَا تُبَٰشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَٰكِفُونَ فِى ٱلْمَسَٰجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ ٱللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ ءَايَٰتِهِۦ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

Artinya: "Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa." (Al-Baqarah: 187)

ADVERTISEMENT

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ اْلعَشَرَ اْلأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ. [رواه مسلم]

Artinya: "Nabi SAW melakukan i'tikaf pada hari kesepuluh terakhir dari bulan Ramadan, (beliau melakukannya) sejak datang di Madinah sampai beliau wafat, kemudian istri-istri beliau melakukan i'tikaf setelah beliau wafat." (HR Muslim)

Iktikaf Bukan Syarat Raih Lailatul Qadar

Meskipun iktikaf di masjid adalah sunnah yang sangat utama, para ulama menjelaskan bahwa iktikaf bukanlah syarat mutlak untuk mendapatkan kemuliaan Lailatul Qadar.

Menurut Abu Maryam Kautsar Amru dalam bukunya Memantaskan Diri Menyambut Bulan Ramadhan, semua manusia memiliki kesempatan untuk menemui malam penuh kemuliaan tersebut asalkan mereka menyibukkan diri dengan ibadah pada malam-malam tersebut.

Senada dengan hal itu, Ahmad Zarkasih, Lc dalam buku Nawaitu Shauma Ghadin Adakah Dalilnya menegaskan bahwa ibadah pada malam Lailatul Qadar tidak terbatas pada iktikaf saja.

"Ibadah tidak harus iktikaf. Bahkan pandangan yang mahsyur dan diamalkan juga bahwa salat tarawih di malam itu sudah cukup untuk dikatakan ibadah yang bisa mengantarnya meraih malam mulia," jelas Ahmad Zarkasih.

Kesempatan bagi Wanita Haid, Musafir, dan Orang Sakit Raih Lailatul Qadar

Kabar gembira juga datang bagi mereka yang memiliki udzur syar'i sehingga tidak bisa beriktikaf di masjid. Dalam kitab Al-Lathaif Al-Ma'arif, Ad-Dhahaak pernah ditanya oleh Juwaibir mengenai nasib wanita haid, nifas, musafir, atau orang yang terbaring sakit.

Ad-Dhahaak menjawab dengan tegas: "Iya, mereka tetap bisa mendapatkan bagian. Siapa saja yang Allah terima amalannya, dia akan mendapatkan bagian malam tersebut." (Al-Lathaif Al-Ma'arif: 341). Hal ini menunjukkan bahwa rahmat Allah pada malam Lailatul Qadar sangat luas dan tidak terbatas pada ruang masjid semata.

Penjelasan Ustaz Adi Hidayat Mengenai Lailatul Qadar

Ustaz Adi Hidayat juga mengamini bahwa malam kemuliaan ini tetap bisa diraih meskipun seseorang beribadah di rumah. Menurut beliau, yang terpenting adalah bagaimana seseorang "menghidupkan" malam tersebut.

"Syarat mendapatkan kemuliaan tidak terikat mendapatkan tempat di masjid. Tapi lebih kepada bagaimana menghidupkan malamnya dan menghadirkan suasana yang sekiranya kita maksimalkan untuk menunaikan ibadah kepada Allah SWT," tutur Ustaz Adi Hidayat, sebagaimana dikutip dari arsip detikcom.

Amalan Pengganti Iktikaf untuk Menghidupkan Malam

Bagi Anda yang tidak bisa melaksanakan iktikaf di masjid, berikut adalah beberapa amalan yang disunnahkan untuk menghidupkan malam Lailatul Qadar menurut Wahbah Az-Zuhaili dalam Fiqih Islam Wa Adillatuhu:

  • Mendirikan Salat: Baik salat wajib tepat waktu maupun salat-salat sunnah seperti Tarawih, Tahajud, dan Witir.
  • Membaca Doa Lailatul Qadar: Memperbanyak doa memohon ampunan.
  • Memperbanyak Istigfar: Terutama pada waktu sahur, sangat disunnahkan membaca Sayyidul Istigfar.
  • Membaca Al-Qur'an dan Berzikir: Menjaga hati dan lisan tetap terpaut kepada Allah SWT.

Kesimpulannya, iktikaf di masjid adalah sarana terbaik untuk fokus beribadah tanpa gangguan, namun bagi mereka yang beribadah di rumah atau memiliki udzur, peluang meraih Lailatul Qadar tetap terbuka lebar selama mereka bersungguh-sungguh menghidupkan malamnya dengan amal saleh.

Wallahu a'lam.



(hnh/inf)
Berburu Keutamaan Lailatul Qadar

Berburu Keutamaan Lailatul Qadar

108 konten
Keistimewaan Ramadan juga terletak pada malam yang lebih baik dari 1.000 bulan. Itulah malam Lailatul Qadar. Malam ini disebut jatuh pada salah satu malam ganjil di 10 hari terakhir Ramadan.

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads