Lailatul Qadar, Cahayanya Tampak Usai Ramadan

Kolom Hikmah

Lailatul Qadar, Cahayanya Tampak Usai Ramadan

Ishaq Zubaedi Raqib, Penulis Kolom - detikHikmah
Rabu, 11 Mar 2026 05:20 WIB
Dokumen Pribadi Ishaq Zubaedi Raqib
Foto: Dokumen Pribadi Ishaq Zubaedi Raqib
Jakarta -

Anda merasa akan kehilangan momentum Ramadan? Anda tidak memperoleh isyarat telah memperoleh anugerah Lailatul Qadar di salah satu malam ganjil, "fil 'asyril awaakhir" di bulan suci? Atau merasa Ramadan tahun ini tidak sesublim tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya ? Walhasil, Anda merasa benar-benar telah kehilangan kesempatan memetik sebanyak mungkin anugerah Ramadan.

Maka, ketahuilah, Anda sejatinya sedang disayang Allah SWT! Kok bisa? Tidak merasa dapat berkah lailatul qadar, dan akan segera ditinggal Ramadan dalam keadaan hati tidak siap, tapi disebut disayang Allah? Wahai, Saudaraku! Ketika muncul kesadaran bahwa Anda tidak punya amal yang dapat dibanggakan, ketika kita sedih karena merasa tetap jauh dari Allah padahal ini bulan Ramadan, sebenarnya Allah tengah menyayangi kita. Beruntung kita menyadarinya!

Ramadan mengajarkan pelakunya bersiap pulang ke kampung halaman. Di mana? Di kampung akhirat. "Tsumma Ilayya Marji'ukum--kemudian, kepada-Ku lah tempat pulang kalian semua." Begitu kita merasa kurang dekat, kurang sesuai standar Allah, maka saat itulah Allah mengirim kita sinyal berupa hidayat. Teguran agar kita bisa terus bermujahadah, mendekati kualifikasi taqwa--tujuan disyariatkannya puasa Ramadan. Agar bisa mudik kepada-Nya dengan penuh keridhaan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Karunia Kesadaran

Kesadaran soal di mana posisi kita dalam pandangan Allah, adalah sapaan paling menyenangkan dari Allah. Inilah anugerah kesadaran diri. Saat kita bisa merasa bahwa kita jauh, maka sadarilah; itu adalah bisikan ilahiyah. Ketika kita sadar bahwa yang kita lakukan bukan yang Dia maksudkan, maka kita tengah disayang oleh-Nya. Sebab, tidak sedikit di antara kita yang belum tiba di hari hisab, tapi sudah "woro-woro" bahwa dia sudah melakukan ini itu, seperti yang diperintahkan Allah.

ADVERTISEMENT

Semakin sering perasaan itu muncul, maka akan kian gelaplah hati kita. Kenapa? Karena kita baru semata menggunakan ukuran yang kita bikin sendiri sesuai kehendak kita. Kita tengah berada di masa, di mana semua harus beramal, sebelum akhirnya datang yaumul hisaab--hari semua amal akan dihisab, sementara pintu untuk beramal sudah tertutup. Hanya rahmat-Nya yang kita tunggu. Ya cuma itu harapan kita.

Bukankah tidak sedikit di antara kita yang merasa bahwa semua amalnya adalah baik, semua amalnya adalah saleh, semua amalnya adalah kebajikan, semuanya persis seperti yang Allah mau? Di situlah letak kekeliruannya. Virus paling mematikan hati manusia, salah satunya, adalah saat tumbuh dalam dirinya perasan; ia lebih baik dari orang lain.

Ketika sejumlah kita rajin mencatat semua daftar ibadahnya yang berhasil dilakukan selama Ramadan, maka saat itulah virus al-kibru--kesombongan, telah membungkus hatinya. Bukti bahwa virus itu kian kuat mencengkramnya, adalah saat dengan bangga ia menceritakan semua amalnya kepada tetangganya, teman-temannya, di dunia nyata maupun di dunia maya. Itulah, situasi di mana kita sudah terpapar parah oleh virus kecongkakan.

"Saya sudah khatam sekian juz Alquran, saya sudah zikir sepanjang malam, dan saya dapat bisikan lailatul qadar," begitu kadang kita baca di "status akun medsos" kita, dan sejumlah teman di dunia maya. Atau bisik-bisik sambil menyiapkan penganan jelang Idul Fitri. Maka, itulah isyarat bahwa semua yang dia ceritakan hanya akan tinggal cerita. Ia sudah terkena penyakit hati seperti riya', sum'ah, dan takabbur. Naudzubillah Min Dzaalik!

Melayani Nasfu

Ketika orang-orang berkompetisi mengumumkan daftar jumlah amalnya, saat itulah mereka telah berlomba memenuhi dahaga nafsunya. Membanggakan amalnya. Kita tengah memanjakan nafsu. Kita mengisi ruang-ruang jiwa dengan catatan kebangaan akan capaian diri dan syahwat. Ketika kita merasa bangga, apalagi merasa amal melampaui jumlah amal orang lain, maka bersiaplan kita akan ditinggalkan setan. Setan pun khawatir terpapar sifat sombong kita. Karena kita bermaksiat dengan maksiat yang dulu dilakukan Iblis: takabbur.

Ketika Iblis sekali saja menolak amar Allah untuk sujud kepada Nabi Adam As, maka ia telah melakukan dua hal paling tidak disuka Allah. Pertama menentang amar Allah dengan cara membangkang perintah sujud kepada Nabi Adam. Kedua, alasan ia menolak sujud, jadi penyebab makhluk ini dikutuk hingga Hari Kiamat. Apa itu ? Ana Khayrun Minhu--saya (Iblis) lebih baik dari dia (Nabi Adam As).

Inilah yang dikhawatirkan semua pelaku ibadah di bulan Ramadan. Khawatir, karena lidah yang disucikan Ramadan dengan lantunan ayat-suci, zikir, taubat, tasbih, tahlil dan tahmid serta takbir, kembali menjadi kotor setelah Ramadan usai. Sampai hati kah kita menggunakan lidah dan lisan yang sudah tersucikan sebulan penuh, dengan kembali menggunjing, berkata kotor, memaki dan menista orang lain setelah Ramadan?

Sebulan penuh, perut kita, kita jaga dari makanan haram selama puasa. Perut kita sudah tersucikan. Perut kita sudah dilatih sejak sebelum terbit fajar hingga terbenam matahari, untuk mengikuti kehendak Allah. Larangan makan minum itu, kehendak Allah lewat firman-firman-Nya. Sungguh laknat kita, bila perut yang sama, kita isi dengan barang haram setelah Ramadan berlalu.

Lalu, bagaimana kita tahu bahwa kita sudah bertemu lailatul qadar? Kita akan membuktikannya setelah Ramadan berlalu. Lailatul Qadar itu akan mengalirkan berkah hingga ke bulan-bulan lain setelah Ramadan. Kalau dalam seribu bulan ke depan hubungan kita dengan Khaliq makin nikmat, itulah isyarat lailatul qadar tengah bekerja. Jika seribu bulan ke depan, relasi dengan makhluk kian asyik, itu bukti lailatul qadar mulai meliputi hidup kita.

Bila setelah Ramadan hingga 1000 bulan ke depan, kita tidak menggunakan nikmat Allah untuk bermaksiat kepada-Nya, itu tanda kita sudah bersama lailatul qadar. Kewajiban usai Ramadan adalah bersyukur. "Syukur berupa kesadaran akan Sang Pemberi nikmat, bukan memandang nikmat itu sendiri," kata As Syibli seperti dikutip Imam An Qusyairi an Naisaburi dalam Ar Risalah Al Qusyaiyah.

Lailatul Qadar akan datang kepada penerimanya, berupa petunjuk ilahiyah, dan akan mengarahkan hamba Allah ke jalan kebenaran. Lailatul Qadar akan menjelma cahaya yang menerangi jalan menuju gerbang keridahaan-Nya. "Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur." (QS Al Baqarah : 185)

Wallaahu A'lamu Bishshowab...

*Ishaq Zubaedi Raqib
Penulis adalah Staf Khusus Menteri Sosial RI, Ketua Infokom dan Publikasi PBNU




(erd/erd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads