Memasuki fase sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, umat Islam beramai-ramai untuk berburu satu malam yang kemuliaannya melebihi seribu bulan, yakni Lailatul Qadar.
Dalam momen ini, menyampaikan pesan-pesan pengingat melalui ceramah atau pidato menjadi sangat penting untuk menjaga api semangat dalam beribadah kepada Allah SWT.
Bagi umat Islam yang sedang mencari naskah pidato untuk mengisi agenda Ramadan di lingkungan masing-masing, berikut dua contoh naskah pidato tentang malam Lailatul Qadar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Naskah Pidato Tentang Malam Lailatul Qadar
Dinukil dari buku Kumpulan Kultum Setahun Jilid 2 oleh Fuad bin Abdul Aziz Asy-Syalhub dan buku Kumpulan Kultum Terlengkap & Terbaik Sepanjang Tahun oleh Shohibul Ulum, berikut naskah pidato tentang malam Lailatul Qadar:
1. Lailatul Qadar Lebih Baik Daripada Seribu Bulan
الْحَمْدُ للهِ الَّذِي تَكَفَّلَ بِحِفْظِ الْقُرْآنِ، وَصَانَهُ عَنِ التَّحْرِيفِ وَالْخَطَأ وَالنِّسْيَانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى خَيْرِ مَنْ صَلَّى وَصَامَ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ، صلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ
Segala puji bagi Allah yang telah menjamin untuk memelihara Al-Qur'an dan menjaganya dari penyelewengan, kesalahan dan lupa. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada sebaik-baik orang yang salat, berpuasa dan membaca Al-Qur'an. Semoga shalawat senantiasa dicurahkan kepada beliau dan kepada segenap keluarga beliau dengan diiringi salam.
Allah Ta'ala berfirman,
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ. وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ. لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ. تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ. سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ
Artinya: "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar." (Al-Qadr: 1-5)
Malam kemuliaan (Lailatul Qadar) adalah malam yang penuh berkah yang telah disebutkan di dalam surat Ad-Dukhan.
Allah Ta'ala berfirman,
حم. وَالْكِتَابِ الْمُبِينِ إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ. فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَا إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ
Artinya: "Haa Miim. Demi Kitab (Al-Qur'an) yang menjelaskan, sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah yang mengutus rasul-rasul." (Ad-Dukhan: 1-5)
Yaitu, malam yang agung keadaannya. Karena keagungannya diturunkan Al-Qur'an di dalamnya, firman Allah Jalla Jalaluh. Nilai ibadah pada malam tersebut lebih baik daripada seribu bulan yang tidak memiliki malam kemuliaan, yaitu sekitar delapan puluh tiga tahun empat bulan. Pada malam itu pula para malaikat turun.
Demikian juga Ar-Ruuh yakni Jibril, mereka turun bersama dengan banyaknya rahmat dan banyak berkah yang turun di malam itu. Malam kemuliaan seutuhnya adalah kesejahteraan, kebaikan dan berkah yang tidak ada keburukan di dalamnya hingga terbit fajar hari berikutnya.
Di dalam firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,
فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ
Artinya: "Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah." (Ad-Dukhan: 4)
Ibnu Katsir mengatakan, "Dengan kata lain, di malam kemuliaan apa-apa dari Lauh Mahfuzh dirinci hingga sampai kepada para penulis perkara sunnah dan apa-apa yang akan terjadi di dalamnya berupa ajal dan rezeki-rezeki dan apa yang akan terjadi hingga akhirnya.
Diriwayatkan dari Ibnu Umar, Mujahid, Abu Malik, Adh-Dhahhak serta beberapa ulama salaf lainnya. Sedangkan firman Allah Jalla wa Alaa, حكم "penuh hikmah" dengan kata lain adalah muhkam, yang tidak akan diganti dan tidak akan diubah.
Di antara dalil yang menjelaskan malam kemuliaan adalah sabda beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam,
مَنْ يَقُمْ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya: "Barangsiapa melakukan salat pada malam kemuliaan dengan penuh keimanan dan penuh harap ridha Allah diampuni dosanya yang telah lampau." (HR Bukhari dan Muslim)
Inilah karunia dari Allah Ta'ala yang sangat luas. Amal sedikit dengan pahala besar. Di dalamnya kelembutan Allah atas umat Muhammad, Dia Maha Mengetahui betapa pendek umurnya. Karena itu mereka diberi ganti dengan hari-hari yang mereka gunakan untuk berpuasa dan hari-hari yang mereka gunakan untuk menunaikan salat malam karena Allah. Sehingga karena itu mereka diberi pahala yang sangat besar.
Malam yang bersamaan dengan seorang hamba Muslim yang berdiri menunaikan salat dan berdoa karena mengharap ridha Allah dengan penuh iman dan harap akan pahala-Nya di sisi Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan juga diberi pahala yang sama dengan pahala ibadah selama delapan puluh tiga tahun empat bulan. Maka segala puji dan anugerah hanya dari Allah.
Para ulama salaf berbeda pendapat tentang waktu terjadinya Lailatul Qadar. Namun mayoritas sepakat bahwa malam tersebut berada pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan.
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
"Upayakan mendapatkan malam kemuliaan pada malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan." (HR Bukhari dan Muslim)
Pada suatu tahun malam kemuliaan jelas pada malam kedua puluh satu. Dari Abu Sa'id Al-Khudri Radhiyallahu Anhu, ia berkata, "Kami beri'tikaf bersama Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pada sepuluh hari pertengahan pada bulan Ramadan. Beliau keluar pada pagi hari kedua puluh lalu menyampaikan khutbah kepada kami dengan bersabda,
إنِّي أُرِيتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ ثُمَّ أُنسِيْتُهَا أَوْ نَسِيْتُهَا فَالْتَمِسُوْهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فِي الْوِتْرِ، وَإِنِّي رَأَيْتُ أَنِّي أَسْجُدُ فِي مَاءٍ وَطِينٍ، فَمَنْ كَانَ اعْتَكَفَ مَعَ رَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلْيَرْجِعْ
Artinya: "Sesungguhnya diperlihatkan kepadaku malam kemuliaan kemudian terlupakan olehku atau aku lupa, maka carilah malam kemuliaan itu pada sepuluh hari terakhir yang ganjil. Dan sesungguhnya aku melihat bahwa aku bersujud pada air dan tanah, maka barangsiapa i'tikaf dengan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam maka hendaknya ia kembali."
Maka kami pun kembali dan kami tidak melihat di langit sekelompok awan tetapi kemudian datang awan yang kemudian menurunkan hujan sehingga mengalirlah dari atap masjid yang terbuat dari pelepah kurma. Salat ditegakkan dan aku melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersujud di air dan tanah sehingga aku melihat bekas tanah pada dahinya.
Pada tahun lain jelas bahwa malam kemuliaan adalah pada malam kedua puluh tujuh. Ubay bin Ka'ab berkata, "Demi Allah, sesungguhnya aku banyak mengetahuinya dan pengetahuanku yang paling banyak adalah malam dimana kami diperintah oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam agar menunaikan salat malam di dalamnya adalah malam kedua puluh tujuh." (HR Muslim)
Pada tahun yang lain Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintah para sahabatnya agar mencari malam kemuliaan pada tujuh malam terakhir di bulan Ramadan.
Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma bahwa sejumlah orang dari para sahabat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bermimpi tentang malam kemuliaan terjadi pada tujuh malam terakhir. Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
أَرَى رُؤْيَاكُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ، فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيْهَا فَلْيَتَحَرِّهَا فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ
"Aku melihat mimpi kalian bertepatan dengan malam ketujuh terakhir. Maka barangsiapa mencarinya hendaknya mencarinya pada malam ketujuh terakhir." (HR Bukhari dan Muslim)
Penggabungan berkenaan dengan penentuan malam kemuliaan hendaknya dilakukan, "Malam kemuliaan selalu berpindah-pindah pada setiap tahunnya. Yaitu pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan. Maka barangsiapa bersungguh-sungguh pada sepuluh malam terakhir seluruhnya, bisa diharapkan bahwa dia pasti mendapatkan malam kemuliaan. Demikian itu karena tidak adanya penentuan malam kemuliaan." (Asy-Syarh Al-Mumti)
Tanda-tanda malam kemuliaan: Di sana terdapat tanda-tanda yang bersamaan dengan malam kemuliaan dan tanda-tanda yang mengikutinya.
Di antara tanda-tanda yang bersamaan dengan malam kemuliaan adalah kekuatan sinar dan cahaya pada malam itu, ketenangan dan rasa lapang dada yang didapatkan oleh manusia di dalam dirinya. Angin yang tenang dengan cuaca yang cerah dan sedang. Kadang-kadang Allah memberikan anugerah kepada manusia dengan menunjukkannya kepada mereka di dalam mimpi mereka sebagai tanda pemuliaan atas mereka.
Sebagian tanda-tanda yang mengikuti malam kemuliaan adalah bahwa pada pagi harinya matahari terbit dengan cerah dengan tidak memiliki cahaya yang terlalu tajam.
Setiap Muslim harus bersungguh-sungguh pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan dengan penuh harap mendapatkan malam yang sangat mulia tersebut dengan memperbanyak ucapan,
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
"Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan suka mengampuni maka ampunilah aku."
Dari Aisyah Radhiyallahu Anha ia berkata,
قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهُ، أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيَّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُوْلُ فِيهَا؟ قَالَ: قُوْلِي: اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Artinya: "Aku katakan, 'Wahai Rasulullah, jika aku mengetahui malam apa malam kemuliaan, maka apa yang harus aku ucapkan pada malam kemuliaan itu?' Beliau menjawab, 'Katakanlah, اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Mahamulia dan suka mengampuni maka ampunilah aku)'." (HR At-Tirmidzi)
Semoga Allah senantiasa mencurahkan shalawat, salam dan berkah kepada Nabi kita Muhammad dan kepada segenap keluarganya dengan diiringi salam. Dan segala puji bagi Allah, Rabb alam semesta.
2. Berburu Lailatul Qadar
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَنَا بِالْإِيْمَانِ كَامِلِينَ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرَائِعِ الدِّينِ، وَالصَّلاةُ وَالسَّلامُ عَلَى سَيِّدِ الْمُرْسَلِينَ مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَا بَعْدُ
Jamaah yang dirahmati Allah,
Tidak terasa Ramadan sudah memasuki sepertiga akhir. Artinya, Ramadan sudah memasuki dua puluh hari pertamanya. Orang Jawa biasa menyebutnya dengan likuran. Maka di sepertiga akhir Ramadan, pada malam harinya tampak pemandangan umat berbondong melakukan i'tikaf di masjid, guna mendapatkan Lailatul Qadar, yaitu malam seribu bulan. Berlombalah setiap Muslim untuk mendapatkannya. Dan malam-malam ganjil menjadi prioritas para Muslim melakukan i'tikaf.
Suasana malam hari, tepatnya menjelang dini hari sampai fajar, menjadi semarak di hampir setiap masjid. Suasana ini beda dengan hari-hari di dua pertiga Ramadan, apalagi dengan hari-hari di luar Ramadan. "Malam kemuliaan (Lailatul Qadar) itu lebih baik dari seribu bulan." (QS. al-Qadr: 3)
Dalam surah ini Allah menurunkan Al-Qur'an pada malam al-Qadar. Sebuah malam yang sangat berkah dan lebih baik dari seribu bulan, yang jika kita hitung maka nilainya sama dengan sekitar 83 tahun lebih 4 bulan. Sesungguhnya seseorang yang beribadah pada malam itu, maka sama baginya dengan beribadah selama 83 tahun 4 bulan lamanya pada malam atau hari-hari biasa.
Sebuah keutamaan yang sangat luar biasa, yang Allah anugerahkan kepada umat Muhammad yang berumur relatif lebih pendek dibanding umat terdahulu. Bagi kita, kaum Muslimin, mencari dan 'memburu' malam al-Qadar tersebut adalah sesuatu yang disunnahkan oleh Rasulullah.
Hal ini dicontohkan langsung oleh Rasulullah, yang beliau sendiri sangat giat mencari malam tersebut dengan semakin banyak beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah, meramaikan malam, membangunkan keluarga dan mempererat sarungnya (tidak mendekati istri-istri beliau, untuk banyak beribadah).
Jamaah yang dirahmati Allah,
Anjuran-anjuran beliau untuk mengisi malam al-Qadar tersebut dengan banyak ibadah terlihat dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda, "Barang siapa yang beribadah pada malam al-Qadar karena iman dan mengharapkan keridhaan Allah, ampunilah dosa-dosanya yang terdahulu." Secara ringkas, dapat disimpulkan beberapa amaliah menjaring dan 'memburu' malam Lailatul Qadar, malam seribu bulan adalah sebagai berikut:
Pertama, menghidupkan malam Lailatul Qadar adalah bukti keimanan seseorang. Dari Abu Hurairah, bersabda Nabi: "Barang siapa menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan iman dan mengharap ridha Allah, maka diampuni dosanya yang terdahulu." (HR Bukhari)
Kedua, menggapai Lailatul Qadar hendaklah dalam keadaan berpuasa. Dari Abu Hurairah Nabi bersabda, "Barang siapa menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan iman dan mengharap ridha Allah, maka diampuni dosanya yang terdahulu, dan barang siapa berpuasa Ramadan dalam Iman dan mengharap ridha Allah maka akan diampuni dosanya yang telah lalu." (HR Bukhari)
Kemudian, bagaimana wanita haid menghidupkan malam lailatul Qadar? Dalam Lathaif al-Ma'arif, disebutkan Juwaibir pernah mengatakan bahwa dia pernah bertanya pada adh-Dhahak, "Bagaimana pendapatmu dengan wanita nifas, haid, musafir, dan orang yang tidur (namun hatinya dalam keadaan berzikir), apakah mereka bisa mendapatkan bagian dari Lailatul Qadar?" Adh-Dhahak pun menjawab, "Iya, mereka tetap bisa mendapatkan bagian. Siapa saja yang Allah terima amalnya, dia akan mendapatkan bagian malam tersebut."
Dari riwayat ini menunjukkan bahwa wanita haid, nifas, serta musafir tetap bisa mendapatkan bagian Lailatul Qadar. Namun, karena wanita haid dan nifas tidak boleh melaksanakan salat ketika kondisi seperti itu, dia boleh melakukan amalan ketaatan lainnya, di antaranya membaca Al-Qur'an tanpa menyentuh mushaf, berzikir dengan memperbanyak bacaan tasbih (Subhanallah), tahlil (Laa Ilaha Illallah), tahmid (Alhamdulillah) dan zikir lainnya, memperbanyak istighfar, serta memperbanyak doa dan amalan lain yang disyariatkan.
Jamaah hafizhakumullah,
Ketiga, mencari Lailatul Qadar itu pada 10 malam yang terakhir. Dari 'Aisyah berkata: "Adalah Nabi biasa mencari Lailatul Qadar pada 10 malam yang terakhir." (HR Bukhari)
Keempat, mencari Lailatul Qadar itu pada 10 terakhir tersebut terutama pada malam-malam witir-nya (ganjilnya). Dari 'Aisyah: "Adalah Nabi mencari Lailatul Qadar pada malam-malam witir di 10 hari terakhir." (HR Bukhari)
Kelima, hadits yang paling sering menyebutkan Lailatul Qadar terjadi pada malam ke-27, tetapi ada juga riwayat yang menunjukkan malam ke-23. Dari Abdullah bin Unais, Nabi SAW bersabda: "Aku melihat Lailatul Qadar lalu aku dibuat lupa waktunya, dan ditampakkan padaku saat Subuhnya aku sujud di tanah yang basah, lalu kata Abdullah: Maka turun hujan atas kami pada malam 23, maka Nabi salat Subuh bersama kami, lalu beliau pulang dan tampak bekas air dan tanah di dahi dan hidung beliau, lalu dikatakan: Maka Abdullah bin Unais berkata tanggal 23 itulah Lailatul Qadar." (HR Muslim)
Keenam, Lailatul Qadar dapat dialami dalam keadaan terjaga maupun saat tidur melalui mimpi yang benar. Dari Ibnu Umar: "Ada beberapa orang laki-laki sahabat Nabi yang bermimpi melihat Lailatul Qadar pada 7 malam terakhir, maka sabda Nabi: Aku juga melihat apa yang kalian impikan itu jatuhnya pada 7 malam terakhir, maka barangsiapa yang ingin mencarinya, maka carilah pada 7 malam terakhir tersebut." (HR Bukhari)
Ketujuh, Lailatul Qadar itu tidak panas, tidak dingin, tidak ada awan, tidak ada angin, tidak hujan. "Pada malam Lailatul Qadar itu tidak panas dan tidak dingin, tidak berawan dan tidak hujan dan tidak berangin, tidak juga terang dengan bintang-bintang, tanda di pagi harinya adalah matahari terbit bercahaya lembut." (HR as-Suyuthi dalam Jami' Shaghir)
Jamaah yang dirahmati Allah,
Kedelapan, tapi kadang-kadang Lailatul Qadar itu disertai juga dengan hujan. Dari Abu Said al-Khudri, bersabda Nabi: "... Aku melihat Lailatul Qadar lalu aku dibuat lupa kapan waktunya, maka barangsiapa yang ingin mencarinya, carilah pada 10 hari terakhir pada malam-malam witirnya dan aku melihat diriku pada malam tersebut sujud di atas tanah yang basah.... Maka kami kembali dan kami tidak melihat ada awan di langit, tiba-tiba ada awan dan turun hujan sampai airnya menembus sela-sela atap masjid yang terbuat dari pelepah kurma, maka aku melihat Nabi sujud di atas tanah yang basah, sampai kulihat bekas tanah yang basah itu di dahi beliau." (HR Bukhari)
Kesembilan, pagi hari setelah Lailatul Qadar cahaya matahari putih, tapi tidak silau. Berkata Ubay bin Ka'ab: "Demi Allah yang Tiada Tuhan, kecuali Dia, sungguh malam tersebut ada pada bulan Ramadan, aku berani bersumpah tentang itu dan demi Allah aku tahu kapan malam itu, yaitu malam yang kita diperintah Nabi untuk menghidupkannya, yaitu malam 27 dan tanda-tandanya adalah Matahari bersinar di pagi harinya dengan cahaya putih, tapi tidak menyilaukan." (HR Muslim hadits)
Kesepuluh, Lailatul Qadar hanya bermanfaat bagi orang yang beriman dan mengharap ridha Allah. Dari Abu Hurairah, dari Nabi bersabda, "Barang siapa yang bangun saat Lailatul Qadar lalu pas melihatnya, lalu sabda Nabi: Dan orang tersebut beriman dan mengharap ridha Allah maka diampuni dosanya yang telah lalu." (HR Muslim)
Yang terakhir, Kesebelas, saat Lailatul Qadar Malaikat yang turun ke bumi lebih banyak dari kerikil. Bersabda Nabi: "Lailatul Qadar itu pada malam 27 atau 29, sungguh malaikat yang turun pada saat itu ke bumi lebih banyak dari jumlah batu kerikil." (HR Thayalisi dalam Musnad-nya)
Jamaah yang dicintai Allah,
Lalu, apa yang mesti kita ucapkan jika Lailatul Qadar "menghampiri" kita? Aisyah pernah menanyakan hal itu pada Rasulullah, jika menemui Lailatul Qadar apa yang mesti dilakukan? Rasulullah menjawab, "Bacalah, Allaahumma inna-Ka 'afuwwun tuhibbul-'afwa fa'fu anni (Wahai Allah, Engkau Maha Pemaaf, Menyenangi maaf. Maka, maafkanlah aku)." (HR at-Tirmidzi, Imam Ahmad dalam Musnad-nya)
Allah sengaja tidak memberi tahu (merahasiakannya) pada malam keberapa Lailatul Qadar itu, semata agar kita bersungguh-sungguh "menemukannya". Oleh karena itu, umat-Nya yang beriman, berlomba "menemukan" Lailatul Qadar dengan kesungguhan. Rasulullah menekankan agar umatnya beribadah pada malam ini didasari dengan iman dan ihtisab. Lailatul Qadar adalah momentum paling berharga yang dianugerahkan Allah, merugilah mereka yang mengabaikannya.
Tentu, Lailatul Qadar tidak datang dengan sendirinya, namun mesti 'diburu'. Semoga Allah berkenan menjadikan kita termasuk ke dalam orang-orang yang dapat memanfaatkan Ramadan dengan sebaik-baiknya, menjadikan kita termasuk ke dalam kelompok yang mendapatkan Lailatul Qadar tersebut, dan menjadikan kita termasuk golongan yang berhasil menyelesaikan Ramadan ini dengan sebaik-baiknya, sehingga keluar daripadanya sebagai seorang yang bertaqwa serta dapat mempertahankannya selama-lamanya.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Itu dia dua naskah pidato singkat tentang Lailatul Qadar yang penuh dengan makna. Semoga bermanfaat!
(inf/inf)












































Komentar Terbanyak
Tega! Oknum KBIH Diduga Tipu 140 Jemaah Haji, Transaksi hingga Rp 1,4 M
Mengapa Indonesia Tak Dapat Labbaytum Award, Penyelenggara Haji Terbaik 2026 dari Saudi?
Kenapa Air Zamzam Tak Pernah Habis Meski Diambil Jutaan Jemaah?