Hukum Membayar Utang bagi Orang yang Sudah Meninggal

Hukum Membayar Utang bagi Orang yang Sudah Meninggal

Awalia Ramadhani - detikHikmah
Rabu, 09 Nov 2022 16:45 WIB
3D Stack of 100000 Indonesian Rupiah notes isolated on white background
Hukum membayar utang meskipun sudah meninggal. Foto: Getty Images/iStockphoto/Richard Darko
Jakarta - Jika orang meninggal meninggalkan utang bagaimana melunasinya? Sebelum membahas persoalan tersebut, alangkah lebih baik untuk mengetahui maksud atau arti dari utang itu sendiri.

Berdasarkan buku Hutang: Antara Pahala dan Dosa oleh Hanif Luthfi, Lc., Abu Bakr bin Muhammad Syatha ad-Dimyathi dalam kitab I'anah At-Thalibin menyebutkan pengertian utang sebagai berikut,

الإقراض الذي هو تمليك الشيء على يرد مثله

Artinya: "Akad utang adalah pemberian kepemilikan sesuatu untuk kemudian dikembalikan dengan jenis yang sama."

Dalam buku tersebut juga dijelaskan bahwa Islam membolehkan memberi utang kepada orang yang mempunyai kebutuhan. Utang bahkan juga termasuk ke dalam akad sosial yang mendapat janji pahala, asalkan tidak ada unsur haram dalam pelaksanaan utang-piutang.

Hal ini seperti yang disebutkan dalam hadits shahih Riwayat Imam Muslim, dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda:

من نفس عن مؤمن كربة من كرب الدنيا نفس الله عنه كربة من كرب يوم القيامة ومن يسر على معسر يسر الله عليه في الدنيا والآخرة ومن ستر مسلما ستره الله في الدنيا والآخرة والله في عون العبد ما كان العبد في عون أخيه

Artinya: "Barangsiapa meringankan sebuah kesusahan (kesedihan) seorang mukmin di dunia, Allah akan meringankan kesusahannya pada hari kiamat. Barangsiapa memudahkan urusan seseorang yang dalam keadaan sulit, Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutup 'aib seseorang, Allah pun akan menutupi 'aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong hambaNya, selama hamba tersebut menolong saudaranya." (HR. Muslim)

Persoalan Hukum Utang orang yang Sudah Meninggal

Melansir dari laman NU Online, persoalan antara utang orang yang sudah meninggal, secara finansial dibagi menjadi dua kategori, yaitu:

1. Utang yang berhubungan dengan Tuhan

Utang yang dimaksud adalah tanggungan zakat, orang tua yang sudah tidak kuat beribadah puasa ramadhan sehingga harus membayar fidyah, dan lain-lain.

Dalam buku Roh (Ar-Ruh li Ibnil Qayyim) oleh Ibn Qayyim Al-Jawziyah yang diterjemahkan oleh Kathur Suhardi, ada sebuah Riwayat dari An-Nasa'i dari Ibnu Abbas bahwa dia berkata, ada seorang anak laki-laki berkata kepada Rasul:

"Wahai Rasulullah, ayahku meninggal dunia dan belum sempat menunaikan haji. Maka apakah aku harus menunaikan haji atas nama dirinya?"

Beliau menjawab "Apa pendapatmu sekiranya ayahmu mempunyai utang, apakah engkau akan melunasinya?" Orang itu kemudian menjawab "Ya." Rasul bersabda, "Utang terhadap Allah lebih layak untuk dipenuhi"

2. Utang finansial yang berhubungan dengan sesama manusia

Utang kepada sesama manusia bisa berupa hutang uang, pakaian, beras, dan lain-lain.

Dijelaskan juga dalam buku Roh tersebut, kaum muslimin sepakat bahwa apabila seseorang meninggal dan mempunyai utang kepada yang masih hidup, lalu orang yang masih hidup dengan ridha membebaskan utangnya, maka itu akan menjadi hal yang bermanfaat bagi orang yang sudah meninggal karena terbebas dari tanggungan.

Kemudian juga dijelaskan bahwa utang orang yang meninggal bisa dilunasi oleh orang lain termasuk yang bukan ahli warisnya, sebagaimana dalam hadis Abu Qatadah, bahwa ia pernah melunasi utang seseorang sebanyak dua dinar. Kemudian setelahnya Nabi bersabda, "Sekarang kulitnya terasa dingin olehnya."

Hukum lain yang dikutip berdasarkan laman NU Online, juga terdapat beberapa pendapat, yaitu:

1. Apabila salah satu keluarga dari orang yang meninggal (dengan meninggalkan utang) mengumumkan bahwa utang orang tersebut dia yang menanggung, maka tanggungan tersebut hukumnya sah. Namun, utang orang tersebut dianggap belum lunas apabila keluarga yang bersedia menanggung tadi belum benar-benar membayarkan utangnya secara kontan.

2. Ulama juga bersepakat bahwa istilah mengenai 'warisan utang' tidak ada dalam fiqih. Apabila orang yang meninggal memiliki utang yang amat banyak, dan tidak meninggalkan aset yang cukup, maka ahli waris tidak memiliki kewajiban untuk membayar utang. Namun apabila ahli waris menghendaki untuk membayar utang, maka hukumnya sah-sah saja.

Lalu bagaimana jika utang almarhum belum dibayarkan hingga kiamat? Hanif Luthfi, Lc., MA menjelaskan bahwa utang tersebut akan dibayarkan dari pahalanya.

Sebagaimana hadits dari Ibnu 'Umar Radhiyallahu anhuma, ia berkata "Rasulullah SAW bersabda:

"Barangsiapa yang mati dan memiliki utang satu dinar atau satu dirham, maka akan dilunasi dari kebaikannya 9karena) di sana (akhirat) tidak ada dinar tidak pula dirham." (HR. Ibnu Majah).



Simak Video "Utang yang Capai Rp 7.773 T, Sri Mulyani Pede RI Mampu Bayar"
[Gambas:Video 20detik]
(lus/lus)