Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI menargetkan pembangunan Kampung Haji Indonesia di Arab Saudi dapat berjalan sesuai perencanaan. Menteri Haji dan Umrah Mohammad Irfan Yusuf berharap sebagian tower di kawasan tersebut sudah bisa dimanfaatkan untuk melayani jemaah haji Indonesia paling lambat pada penyelenggaraan haji 2028.
"Yang jelas tahun ini belum bisa, belum bisa. Tahun depan, karena membangun itu kan nggak cukup setahun. Kita harapkan paling lambat tahun 2028 itu ada sebagian tower yang bisa dipakai," ujar Menhaj di Asrama Haji Jakarta, Kamis (9/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut Gus Irfan menjelaskan bahwa proyek pembangunan Kampung Haji Indonesia di Arab Saudi sepenuhnya berada di bawah pengelolaan Danantara. Dalam skema tersebut, Kementerian Haji dan Umrah akan berperan sebagai pengguna fasilitas yang disiapkan.
Ia optimistis proyek tersebut dapat berjalan lancar. Menurutnya, dari sisi pembiayaan tidak terdapat kendala berarti karena menjadi tanggung jawab Danantara. Selain itu, pemerintah Arab Saudi dinilai memberikan respons positif terhadap rencana pembangunan Kampung Haji Indonesia.
"Saya kira (anggaran) nggak ada kendala. Danantara punya uang. Kemudian birokrasi Arab Saudi sangat welcome. Kita fokus persiapan jemaah haji kita. Kan, terkait dengan Kampung Haji tentu lebih banyak domainnya Danantara," ujarnya.
Kampung Haji Indonesia
Langkah konkret menuju terwujudnya Kampung Haji Indonesia ditandai dengan kepemilikan hotel Indonesia di Makkah. Pemerintah Indonesia resmi mencatat sejarah baru setelah berhasil memenangkan proses bidding dan memiliki hotel sendiri di Kota Suci.
"Tadi sudah sempat disampaikan juga keberhasilan pemerintah Republik Indonesia untuk pertama kalinya kita bisa memiliki Kampung Haji di Arab," kata Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi kepada wartawan di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Selasa (6/1/2026).
Pengumuman tersebut sebelumnya disampaikan oleh Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO BPI Danantara, Rosan Roeslani, dalam forum retret kabinet. Pemerintah pun memberikan apresiasi atas diplomasi yang dilakukan hingga membuahkan hasil strategis bagi Indonesia.
"Jadi Bapak Rosan melaporkan bahwa kita telah memenangkan bidding dan kita telah sekarang memiliki hotel sendiri di Makkah yang ini atas diplomasi yang luar biasa dari Bapak Presiden," ujarnya.
Prasetyo menilai pencapaian tersebut sebagai tonggak penting, mengingat untuk pertama kalinya pemerintah Arab Saudi mengubah regulasi sehingga memungkinkan sebuah negara asing memiliki aset di wilayahnya.
"Untuk pertama kalinya pemerintah Arab Saudi mengubah aturan untuk sebuah negara bila bisa memiliki aset di Arab Saudi. Saya kira itu menjadi salah satu kado bagi bangsa Indonesia dan bagi umat Islam khususnya," ujarnya.
Dalam proyek tersebut, Danantara Indonesia telah menyiapkan dana sebesar US$800 juta atau sekitar Rp13,34 triliun (asumsi kurs Rp16.680 per dolar AS). Dana itu akan digunakan untuk membangun 13 tower hotel beserta pusat perbelanjaan di kawasan Kampung Haji Indonesia.
Pada kesempatan lain, Rosan juga mengungkapkan bahwa Indonesia telah membeli Novotel Makkah Thakher City yang berjarak sekitar 2,5 kilometer dari Masjidil Haram. Selain itu, Indonesia turut membeli lahan seluas 5 hektare yang berada di depan Novotel untuk pengembangan hotel baru dan pusat perbelanjaan.
Saat ini, Novotel Makkah Thakher City memiliki tiga tower dengan total 1.461 kamar yang mampu menampung 4.383 jemaah haji Indonesia. Dengan rencana penambahan 13 tower baru, kapasitas kamar diproyeksikan meningkat menjadi 6.025 kamar yang dapat menampung sekitar 23 ribu jemaah.
(dvs/inf)












































Komentar Terbanyak
Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, MUI: Kehancuran bagi AS-Israel
Muslim di Kota Ini Cuma Puasa 1 Jam
Rusia: AS-Israel Sengaja Tabur Perpecahan di Dunia Islam Selama Ramadan