Kenapa Mayoritas Penduduk Madinah Dulu Beragama Yahudi?

Kenapa Mayoritas Penduduk Madinah Dulu Beragama Yahudi?

Daffa Ichyaul Majid Sarja - detikHikmah
Senin, 11 Mei 2026 05:00 WIB
Kenapa Mayoritas Penduduk Madinah Dulu Beragama Yahudi?
Foto: Getty Images/ugurhan
Jakarta -

Sebelum dikenal sebagai Kota Madinah, wilayah ini bernama Yatsrib. Menariknya, dalam catatan sejarah, Yatsrib pernah menjadi wilayah yang mayoritas penduduknya memeluk agama Yahudi sebelum datangnya Islam.

Lantas, bagaimana awal mula agama Yahudi bisa mendominasi Yatsrib dan bagaimana proses perubahan besar itu terjadi saat Rasulullah SAW berhijrah? Simak ulasan detikHikmah berikut ini.

Agama Penduduk Madinah Sebelum Masuknya Islam

Dijelaskan dalam buku Sejarah Kebudayaan Islam Berbasis Integrasi Keilmuan karya Arini Siregar dan Siti Nurhaliza, sebelum kedatangan Nabi Muhammad SAW dan masuknya Islam, kota Madinah dikenal dengan nama Yatsrib.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penduduk kota Yatsrib terdiri dari etnis Arab, baik Arab Selatan maupun Utara, ada juga yang berasal dari etnis Yahudi.

Saat itu, penduduknya telah memiliki kepercayaan dan agama. Agama yang dianut penduduk Yatsrib adalah Yahudi, Nasrani, dan Pagan. Namun, mayoritas penduduk memeluk agama Yahudi.

ADVERTISEMENT

Masuknya agama Yahudi ke Yatsrib bersamaan dengan kedatangan imigran dari wilayah utara sekitar abad ke-1 dan ke-2. Mereka datang ke Yatsrib untuk menyelamatkan diri dari penjajahan Romawi.

Mereka mendapat penindasan dari Romawi karena melakukan pemberontakan. Migrasi terbesar bangsa Yahudi terjadi pada tahun 132-135. Saat itu, agama Yahudi dianut oleh beberapa suku, antara lain Bani Qainuqa, Bani Nadhir, Bani Gathafan, dan Bani Quraidlah.

Keempat suku tersebut tetap memeluk agama Yahudi meski Islam telah tersebar di Madinah. Kebanyakan dari mereka bekerja sama dengan kafir Quraisy untuk mengusir dan membunuh Rasulullah SAW.

Akibat menentang agama Islam, akhirnya Nabi Muhammad mengusir mereka dari kota Madinah, hingga akhirnya kota ini bersih dari bangsa Yahudi.

Proses Masuknya Islam ke Madinah

Dikisahkan dalam buku Sejarah Kebudayaan Islam: Teori, Prosedur, dan Ruang Lingkupnya karya Ahmad Suryadi, ketika kafir Quraisy mengetahui adanya perjanjian antara Nabi Muhammad dan orang-orang Yatsrib, mereka semakin kejam terhadap umat Islam.

Hal ini membuat Nabi memerintahkan umat Islam Makkah untuk berhijrah ke Yatsrib. Sehingga seluruh umat Islam berhijrah ke Yatsrib terkecuali Abu Bakar dan Ali bin Abi Thalib. Keduanya menemani Rasulullah SAW hingga mendapat perintah dari Allah SWT untuk berhijrah ke Madinah.

Malam itu adalah persiapan kaum Quraisy untuk melaksanakan keputusan dalam membunuh Rasulullah SAW. Mereka berkumpul di sekeliling pintu rumah, sedangkan Nabi Muhammad berada di dalamnya.

Ketika tiba waktunya, Nabi bergegas keluar dan memerintahkan Ali bin Abi Thalib untuk berbaring di tempat tidurnya, dengan mengenakan selimut yang biasa digunakan oleh Nabi Muhammad.

Setelah berhasil keluar, Nabi Muhammad terus berjalan hingga bertemu dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq sesuai dengan apa yang direncanakannya. Nabi Muhammad dan Abu Bakar melakukan perjalanan ke Madinah melalui arah selatan untuk mengelabui kafir Quraisy.

Setelah kaum Quraisy menyadari tipu daya mereka dan sadar bahwa mereka hanya menjaga Ali, maka mereka marah dan membawa Ali ke Masjidil Haram dan menyiksanya untuk mencari informasi.

Setelah itu, mereka menyuruh orang-orang untuk mencari Nabi Muhammad di segala penjuru. Mereka menjanjikan hadiah bagi siapa saja yang bisa menangkap Nabi Muhammad dengan hadiah seratus ekor unta.

Suraqah bin Malik bin Ju'syum, salah seorang dari Quraisy, ingin memperoleh hadiah seratus ekor unta. Namun, ia ingin memperoleh hadiah tersebut seorang diri saja. Maka, ia mengelabui orang-orang dengan mengatakan bahwa ia bukan Muhammad melainkan Fulan bin fulan yang sedang mencari untanya yang hilang.

Diam-diam ia menyuruh pembantunya untuk menyiapkan kuda dan perlengkapannya. Ketika tidak ada orang yang melihat, ia segera memacu kudanya dan mengejar rombongan hijrah Nabi Muhammad. Ketika jaraknya semakin dekat, nabi tetap tenang, sementara Abu Bakar merasa cemas.

Setelah Suraqah semakin dekat dengan nabi, tiba-tiba kuda yang ditungganginya terpeleset dan terjatuh. Kemudian ia bangkit dan kembali mengejar Nabi Muhammad hingga jatuh berkali-kali.

Hingga akhirnya kuda yang ditunggangi Suraqah amblas ke dalam tanah. Begitu kudanya mengeluarkan kakinya dari tanah, tiba-tiba keluarlah debu yang membumbung tinggi.

Suraqah sadar bahwa orang yang sedang dia hadapi bukanlah orang sembarangan. Akhirnya ia tidak lagi berniat untuk menangkap dan membunuh Nabi Muhammad.

Setelah menghadap Nabi Muhammad, ia meminta maaf dan memberikan perbekalan yang dibawanya kepada nabi.

Nabi Muhammad memaafkannya namun menolak pemberiannya, beliau hanya meminta untuk merahasiakan pertemuannya dengan Suraqah.

Akhirnya Nabi Muhammad dan rombongannya tiba di Quba, setelah menempuh perjalanan selama tujuh hari. Beliau tinggal di Quba selama beberapa malam. Di sana beliau membangun masjid dan merupakan masjid pertama dalam sejarah Islam.

Setibanya Nabi Muhammad di Madinah, program pertama yang dilakukan beliau adalah menentukan tempat di mana tempat tersebut akan digunakan untuk membangun masjid, yang kini dikenal sebagai Masjid Nabawi.




(inf/inf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads