Pelatihan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) dimulai 10 Januari 2026. Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) RI Dahnil Anzar Simanjuntak berpesan agar para petugas haji lebih siap secara fisik, mental, serta memiliki orientasi pelayanan yang kuat.
Dahnil mengatakan para petugas haji akan menjalani masa pelatihan intensif mulai 10 Januari 2026. Pelatihan ini berlangsung dengan sistem karantina atau "masuk barak" sebagai bagian dari pembentukan karakter dan kedisiplinan.
"Nanti tanggal 10 itu para petugas itu mulai masuk barak istilah saya. Tanggal 10 mulai masuk barak. Nanti fokus pelatihannya itu ada di Asrama Haji (Jakarta) ini. Nanti sebagian juga akan ada pelatihan di Halim," ujar Dahnil di Asrama Haji Jakarta, Pondok Gede, Jakarta Timur, Kamis (8/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Dahnil, para petugas haji akan mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat) selama kurang lebih tiga minggu. Sementara itu, dalam beberapa hari terakhir, para pelatih dan fasilitator telah lebih dahulu menjalani pelatihan khusus sebagai persiapan.
"Jadi kemungkinan mereka akan mengikuti kurang lebih tiga minggu persiapan diklat petugas. Lima hari ini adalah para trainer, para fasilitator yang nanti akan melatih mereka (petugas haji) pada tiga minggu ke depan," jelasnya.
Pesan Wamenhaj: Petugas Jangan Nebeng Haji
Dahnil menegaskan durasi pelatihan yang lebih panjang tahun ini merupakan respons atas berbagai kritik publik terkait kualitas pelayanan haji pada tahun-tahun sebelumnya. Ia menekankan pentingnya meluruskan niat seluruh petugas haji sejak awal.
"Kita ingin pastikan semua petugas haji itu orientasi utamanya adalah pelayanan jemaah, bukan nebeng naik haji," tegasnya.
Ia mengakui sebagian petugas memang belum pernah menunaikan ibadah haji. Namun, hal tersebut tidak boleh menggeser fokus utama tugas mereka.
"Oleh sebab itu kami akan pastikan niat utamanya terlebih dahulu itu adalah pelayanan terhadap jemaah," imbuh Dahnil.
Selain orientasi pelayanan, aspek integritas, kedisiplinan, dan kekompakan tim menjadi fokus utama pelatihan. Dahnil menyebut pekerjaan pelayanan haji di Madinah dan Makkah menuntut kerja tim yang solid.
Selain itu, kedisiplinan dasar seperti Peraturan Baris-Berbaris (PBB) juga akan diterapkan sebagai fondasi ketertiban. Para petugas haji juga akan menjalani uji ketahanan fisik.
"Secara fisik tentu mereka akan kami uji karena 90 persen kerja-kerja petugas haji itu kerja fisik. Bahkan saya sering menyebutnya ini kerjanya 25 jam, tidak berhenti," pungkas Dahnil.
(dvs/kri)












































Komentar Terbanyak
Gus Yaqut Jadi Tersangka Dugaan Korupsi, Ketum PBNU: Serahkan ke Proses Hukum
MUI Soroti Pasal Nikah Siri dan Poligami dalam KUHP Baru
Ada Aduan Penggelapan Dana Haji Furoda 2025, Kemenhaj Panggil Pihak Travel