Melihat Lagi Metode Dakwah Sunan Gresik dalam Syiar Islam di Pulau Jawa

Melihat Lagi Metode Dakwah Sunan Gresik dalam Syiar Islam di Pulau Jawa

Azkia Nurfajrina - detikHikmah
Kamis, 10 Nov 2022 09:00 WIB
wali songo
Ilustrasi Sunan Gresik. Foto: Ilustrasi: Kharisma
Jakarta -

Terdapat banyak tokoh yang berperan dalam menyebarkan agama Islam di Indonesia. Di antaranya ada sejumlah nama yang tak asing lagi di telinga masyarakat, dan dikenal dengan gelar wali songo.

Melansir buku Sejarah Islam Nusantara oleh Rizem Aizid, wali songo bermakna sembilan orang wali atau wali yang sembilan. Kata songo atau sanga berasal dari bahasa Jawa, yang artinya sembilan.

Wali songo merupakan sebutan bagi sembilan figur yang menyebarkan Islam di Pulau Jawa. Dari kesembilannya, ada satu wali diyakini sebagai yang pertama menyiarkan Islam di tanah Jawa, yaitu Sunan Gresik.


Riwayat Sunan Gresik

Dikutip dari buku Wali Sanga oleh Masykur Arif, nama asli Sunan Gresik adalah Maulana Malik Ibrahim. Ia juga memiliki nama julukan, yakni Syekh Maghribi atau Maulana Maghribi.

Asal daerah Sunan Gresik tidak diketahui dengan jelas, tetapi para sejarawan sepakat bahwa ia bukan asli orang Jawa, melainkan pendatang di Pulau Jawa.


Ayahnya bernama Raden Jumadil Qubra, dan Sunan Gresik dipercaya mewarisi darah keturunan Rasulullah. Dengan silsilah ke atasnya; Maulana Malik Ibrahim bin Jumadil Qubra bin Zainal Khusain bin Zainal Kubra bin Zainal Alim bin Zainal Abidin bin Sayyidina Husein bin Fatimah binti Nabi Muhammad SAW.

Sunan Gresik datang ke Pulau Jawa pada abad ke 15, tepatnya tahun 1404 M. Ia singgah pertama kali dan menetap di daerah Gresik, Jawa Timur, karena itu ia akrab dipanggil dengan nama Sunan Gresik.


Metode Dakwah Sunan Gresik

Dalam menyiarkan agama Islam di Pulau Jawa tentu saja tak mudah. Sunan Gresik mengawali dakwahnya dengan damai, kebijaksanaan, dan menggunakan pendekatan kultural.

Berikut beberapa cara yang dipakai Sunan Gresik sehingga Islam bisa diterima dengan mudah oleh penduduk tanah Jawa, yang disebutkan dalam buku Wali Sanga.


1. Mempelajari budaya dan adat istiadat

Ia beradaptasi dengan masyarakat setempat dengan mempelajari bahasa jawa, mengenal adat istiadat, hingga mempelajari kebiasaan yang dilakukan penduduk, seperti mata pencahariannya, pandangan hidup, dan lainnya.


2. Membuka warung

Permulaannya Sunan Gresik membuka warung yang mana menjual kebutuhan sehari-hari untuk masyarakat sekitar. Ia mulai akrab dan membangun kenalan dengan masyarakat dengan aktivitas berdagang.

Warung yang Sunan Gresik dirikan sangat ramai pengunjung, lantaran ia menjual barang-barang dengan harga murah dan tidak mencari untung. Sehingga masyarakat senang dan sering mengunjungi warungnya.


3. Membuka lahan pertanian

Disebutkan, Sunan Gresik merupakan ahli dalam bidang pertanian. Ia memanfaatkan lahan yang subur untuk menanam bahan pokok seperti, padi, umbi-umbian, dan sebagainya. Hasil pertaniannya yang meningkat membuat banyak penduduk ingin belajar kepadanya.


4. Menjadi tabib

Sunan Gresik juga pandai dan mengerti tentang masalah kesehatan. Ia mampu meracik obat-obatan untuk berbagai penyakit, dan orang yang berobat kepadanya banyak mendapat kesembuhan. Dalam praktik pengobatannya, ia juga tak memungut biaya sepeser pun.


5. Menghapus perbedaan kasta

Karena masyarakat setempat pada kala itu percaya dan ada perbedaan kelas sosial. Sunan Gresik mengajarkan ajaran Islam yang mana tak ada perbedaan kasta di dalamnya. Dari sinilah, banyak masyarakat yang masuk Islam.


6. Membangun masjid dan pesantren

Setelah penganut Islam semakin banyak, Sunan Gresik mendirikan sebuah masjid sebagai tempat ibadah, sarana dakwah, dan pembelajaran agama Islam untuk masayarakat.

Selain itu, ia membangun pesantren sebagai tempat untuk menampung penduduk yang ingin belajar ilmu agama kepadanya.



Simak Video "Batu Ini Konon Tempat Sujud Sunan Bonang di Rembang"
[Gambas:Video 20detik]
(lus/lus)
Strategi Dakwah Para Wali

Strategi Dakwah Para Wali

7 konten
Pada abad ke-14 di tanah Jawa dikenal dengan sembilan penyebar agama Islam yang kondang disebut Wali Songo. Mereka memiliki strategi dakwah yang bervariasi, tergantung dengan kondisi masyarakat setempat.