9 Wali Songo dan Nama Aslinya, dari Sunan Ampel - Giri

9 Wali Songo dan Nama Aslinya, dari Sunan Ampel - Giri

Rahma Harbani - detikHikmah
Minggu, 06 Nov 2022 09:30 WIB
Sunan Muria
Sunan Muria, salah satu tokoh wali songo yang bernama asli Raden Prawoto. (Ilustrator: Kharisma/detikcom)
Jakarta - Istilah wali songo mungkin bukan perkara asing lagi di kalangan muslim. Kesembilan nama wali songo itulah yang disebut-sebut berjasa dalam proses Islamisasi di Indonesia, terlebih di Jawa.

Menurut Drs. Imam Subchi, MA dalam buku Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Aliyah Kelas XII, wali songo mulai menyebarkan agama Islam di pulau Jawa usai Kerajaan Majapahit runtuh. Setelahnya, Kerajaan Demak yang berlandaskan Islam pun mulai berdiri.

Wali songo sendiri diartikan sebagai orang yang telah mencapai derajat tinggi dan memiliki pengetahuan agama yang luar biasa.

"Wali songo secara sederhana artinya sembilan orang yang telah mencapai tingkat wali, suatu derajat tingkat tinggi yang mampu mengawal babahan hawa sanga (mengawal sembilan lubang dalam diri manusia), sehingga memiliki peringkat wali," tulis Drs. Imam Subchi, MA dalam bukunya.

Peran wali songo tak jauh berbeda dengan ulama yang menyebarkan agama Islam di tiap wilayah berikut dengan gaya dakwahnya tersendiri. Hal ini dapat dibuktikan dari nama suatu wilayah yang melekat pada diri mereka, menggantikan nama asli.

Untuk itu, tidak ada salahnya memperkaya pengetahuan kita dengan memahami nama-nama wali songo berikut dengan identitas aslinya.

9 Wali Songo dan Nama Aslinya

1. Maulana Maghribi

Wali songo pertama, Maulana Maghribi berama asli Maulana Malik Ibrahim. Ia wafat pada 1419 usai mendirikan pondokan tempat belajar agama di Leran.

Wilayah yang menjadi target dakwahnya pertama kali yakni Desa Sembalo, desa yang masih berada dalam wilayah kekuasaan Majapahit. Desa Sembalo sekarang adalah daerah Leran, Kecamatan Manyar, 9 kilometer utara Kota Gresik.

Wilayah itu pula yang menjadi tempat bersemayam Maulana Maghribi. Tepatnya di kelurahan Gapurosukolilo, Kecamatan Gresik, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.

2. Sunan Ampel

Wali songo Sunan Ampel memiliki nama asli Raden Rahmat. Ia adalah keturunan dari Syekh Maulana Malik Ibrahim.

Nama Ampel sendiri diambil dari daerah bernama Ampel Denta, daerah rawa yang dihadiahkan raja Majapahit kepadanya. Di tempat inilah, ia memulai aktivitas dakwahnya dengan mendirikan pesantren Ampel Denta, dekat dengan Surabaya.

3. Sunan Bonang

Selanjutnya, ada Sunan Bonang dengan nama asli Raden Makdum Ibrahim. Bila dilihat dari silsilahnya, ia adalah putra dari Sunan Ampel atau cucu dari Maulana Malik Ibrahim.

Karier dakwahnya dimulai dengan berdakwah di Kediri. Wilayah dengan mayoritas penduduknya beragama Hindu saat itu.

Kemudian, Sunan Bonang menetap di Desa Bonang, Lasem, Jawa Tengah. Di sana, Sunan Bonang mendirikan pesantren yang dikenal sebagai Watu Layar.

4. Sunan Drajat

Nama asli Sunan Drajat adalah Raden Syarifuddin. Beberapa sumber sejarah menyebutkan bahwa ia adalah putra dari Sunan Ampel.

Sunan Drajat melancarkan aksi penyebaran agama Islam ke sebuah desa bernama Desa Drajat, Kecamatan Paciran, Lamongan, Jawa Timur. Kemudian, mendirikan mushola atau surau yang dimanfaatkan sebagai tempat berdakwah.

5. Sunan Giri

Wali songo selanjutnya adalah Sunan Giri yang semula bernama Raden Paku.

Nama Giri ini diambil dari wilayah yang menjadi pusat penyebaran dakwahnya di Jawa Timur yakni bukit sebelah selatan Kota Gresik yang bernama bukit Giri pada 1481 M. Kemudian, ia juga mendirikan sebuah pondok pesantren dengan nama Pesantren Giri.

6. Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga merupakan tokoh wali songo yang paling terkenal di antara sembilan wali lainnya. Nama asli Sunan Kalijaga adalah Jaka Said.

Daerah tempat berdakwahnya tidak terbatas karena ia merupakan seorang mubalig keliling. Namun, Sunan Kalijaga lama menetap di Kadilangu, Demak.

Di Demak, Sunan Kalijaga berperan aktif dalam pendirian Masjid Agung Demak dan menentukan kiblat agar sesuai dengan arah Kakbah.

7. Sunan Kudus

Sunan Kudus memiliki nama asli Ja'far Shodiq. Nama Kudus diambil dari wilayah tempatnya menyebarkan agama Islam yakni Kudus, saat itu masih dikenal dengan nama Kota Tajug.

Di Kudus, ia menerapkan strategi dakwah dengan menghargai adat istiadat yang lama dianut warga sekitar. Pasalnya, warga Kudus saat itu masih didominasi oleh penganut agama Hindu dan Budha.

Salah satu contoh bentuk penyebaran agama Islam di Kudus dengan pendekatan budaya setempat yakni, mendirikan masjid yang bentuknya mirip dengan candi orang Hindu.

8. Sunan Muria

Sunan Muria bernama kecil Raden Prawoto. Ia adalah putra dari Sunan Kalijaga.

Nama Muria tersebut diambil dari tempat tinggal terakhirnya di lereng Gunung Muria. Wilayah tersebut berjarak sekitar 18 kilometer ke utara Kota Kudus.

Cara berdakwahnya berbeda dengan sang ayah. Ia lebih memilih daerah yang sangat terpencil dan jauh dari pusat kota untuk menyebarkan agama Islam lewat para pedagang, nelayan, pelaut, dan rakyat jelata.

9. Sunan Gunungjati

Terakhir, Sunan Gunungjati bernama asli Syarif Hidayatullah.

Ia mendapat tugas untuk berdakwah di daerah Cirebon. Di sana, Sunan Gunungjati mendirikan kerajaan Cirebon dan melepaskan diri dari pengaruh Pajajaran. Hal ini pula yang membuat Sunan Gunungjati menjadi satu-satunya nama wali songo yang keluar sebagai kedudukan raja.

Simak Video "Pesan Jokowi di Acara Jalan Sehat Porseni NU: Rakyat Sehat, Negara Sehat"
[Gambas:Video 20detik]
(rah/erd)

Strategi Dakwah Para Wali

Strategi Dakwah Para Wali

7 konten
Pada abad ke-14 di tanah Jawa dikenal dengan sembilan penyebar agama Islam yang kondang disebut Wali Songo. Mereka memiliki strategi dakwah yang bervariasi, tergantung dengan kondisi masyarakat setempat.