×
Ad

Antisipasi Tanggul Lumpur Lapindo Sidoarjo Jebol, ITS Kembangkan Teknologi Ini

Kalila Untsa - detikEdu
Rabu, 23 Sep 2026 19:00 WIB
Tanggul Lumpur Lapindo titik 10.D mulai pecah-pecah, dikhawatirkan bisa jebol. Foto: Suparno/detikJatim
Jakarta -

Berdasarkan data Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS), terdapat penurunan muka tanah mencapai rata-rata 0,5 meter per tahun di beberapa titik tanggul Lumpur Sidoarjo yang paling rentan. Sedangkan di sepanjang tanggul, penurunan permukaan tanahnya berkisar 20-50 cm.

Mahasiswa program doktoral Departemen Teknik Informatika, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Kurnia Cahya Febryanto SKom MKom mengatakan, risiko tanggul jebol tersebut diperburuk dengan penyempitan kapasitas alir Kali Porong, Sidoarjo akibat sedimentasi sungai.

Sementara itu, pola inspeksi saat ini terbatas dalam membaca perubahan yang berlangsung perlahan. Akibatnya, kondisi tanggul sesungguhnya dapat luput dari deteksi akibat penipisan jarak bebas, muka air, dan prakiraan hujan lebat tampak normal.

"Gabungan dari kondisi-kondisi tersebut membuatnya semakin berbahaya," ucapnya, dikutip dari laman kampus.

Merespons tantangan tersebut, Kurnia dan tim dari ITS mengembangkan teknologi Sidoarjo Disaster Assessment AI (SIDA-AI). Teknologi mitigasi bencana ini menggabungkan citra pesawat nirawak (Unmanned Aerial Vehicle/UAV) dan sensor Internet of Things (IoT), serta data prakiraan cuaca, supaya menghasilkan pemantauan kondisi secara real-time.

Pengembangan SIDA-AI

Pengembang hardware SIDA-AI, Irfan Mirda ST MKom. Foto: Dok ITS

Pengembang hardware SIDA-AI, Irfan Mirda ST MKom menjelaskan, alat dari teknologi SIDA-AI terdiri dari dua lapisan. Lapisan pertama adalah lapisan persepsi yang berfungsi mengolah data hasil pengamatan untuk mendeteksi berbagai kondisi fisik tanggul, seperti retakan rembesan, dan saturasi berdasarkan citra UAV.

Selain itu, lapisan ini juga mendeteksi sisa freeboard atau ruang aman yang masih tersisa dalam tanggul. Sisa ruang ini dihitung menggunakan metode DEM differencing (Digital Elevation Model) dengan membandingkan data ketinggian permukaan tanah dari waktu ke waktu.

Sensor IoT sendiri digunakan sebagai alat pantau untuk permukaan air dan pendangkalan Kali Porong yang berada di dekat semburan lumpur panas.

Lapisan kedua terdiri dari agentic AI, dengan fungsi sebagai penggabung data yang sebelumnya sudah didapatkan sehingga menjadi gambaran utuh. Selanjutnya, gambaran ini dibaca oleh AI untuk menentukan segmen tanggul mana yang paling berisiko.

Menariknya, sistem ini bukan hanya mengumpulkan dan menggabungkan data, melainkan juga dapat menyusun rekomendasi tindakan. Misalnya, seperti segmen mana yang perlu lebih dulu diperkuat.

Irfan menambahkan, penyusunan rekomendasi tindakan ini juga didasarkan oleh prosedur penanganan Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo.

SIDA-AI Terima Penghargaan

Inovasi teknologi ini telah menerima pengakuan dengan diraihnya Juara 1 AIDeaNation 2026 yang diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Tim peneliti ITS berharap sistem SIDA-AI dapat segera diuji dan diterapkan bersama Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo.



Simak Video "Video: Momen Merah Putih Gantikan Bendera Italia di KRI Sriwijaya-100"

(twu/twu)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork