Air lumpur kembali merembes dari kawasan tanggul penahan Lumpur Lapindo di Desa Ketapang Keres, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo. Rembesan terjadi di sekitar titik 71, sisi timur Pilar Tol Buntung.
Peristiwa tersebut diketahui warga pada malam hari. Rembesan terlihat dari bagian bawah tanggul dan sempat menimbulkan kekhawatiran warga yang sehari-hari sebagai pemandu wisata Lumpur.
Mustofa, salah satu warga Desa Jatirejo, mengatakan rembesan terjadi di kawasan tanggul penahan lumpur titik 71 yang berada di sisi timur Tol Buntung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Terjadinya malam hari. Rembesan terlihat dari tanggul di titik 71," ujar Mustofa kepada detikJatim dilokasi, Kamis (3/9/2026).
Kepala Satuan Kerja (Kasatker) Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) Mahdani menjelaskan lokasi itu merupakan bagian dari tanggul utama dengan titik referensi 10D-71.
Menurutnya, lokasi itu berjarak sekitar 700-900 meter dari sumber semburan Lumpur Lapindo. Karena berada relatif dekat dengan sumber semburan, aliran lumpur terkonsentrasi terlebih dahulu ke kawasan itu.
Mahdani menegaskan fenomena yang terjadi bukan berupa lumpur yang meluber melewati bagian atas tanggul. Rembesan terjadi dari bagian bawah tanggul.
"Ini bukan meluber. Rembesan terjadi dari bawah melalui celah tanah hitam atau lumpur akibat penurunan volume dan penyusutan tanah," jelas Mahdani.
Menurut Mahdani, air kemudian masuk melalui celah tanah sehingga dari permukaan terlihat seperti terjadi rembesan. Kondisi tersebut telah ditangani dengan menambah dan meninggikan tanggul.
Saat ini ketinggian endapan lumpur di kawasan tersebut mencapai sekitar 9,2 meter dari dasar. PPLS menargetkan elevasi tanggul ditingkatkan hingga sekitar 10 meter.
"Tanggul terus kita sesuaikan dengan kondisi di lapangan," katanya.
Mahdani menyebut penurunan tanah di kawasan tersebut merupakan kondisi yang terjadi secara alami. Besaran penurunannya tidak selalu sama, tetapi berkisar 20-50 sentimeter per tahun.
Kondisi itu membuat tanggul penahan lumpur harus terus disesuaikan agar tetap mampu menahan dan mengendalikan aliran lumpur. Untuk penanganan di lokasi, PPLS telah menyiapkan tiga unit alat berat. Pada malam saat kejadian, baru satu unit alat berat berada di lokasi, kemudian jumlahnya ditambah menjadi tiga unit.
Alat berat tersebut digunakan untuk melakukan peninggian dan penguatan tanggul menuju elevasi yang ditargetkan.
Mahdani juga meminta seluruh pihak yang berada di lapangan untuk melakukan koordinasi dan menyampaikan laporan secara terpadu. Data mengenai kondisi tanggul dan penanganannya akan diserahkan kepada bidang terkait agar informasi yang diterima masyarakat tidak berbeda-beda.
"Semua pihak wajib melapor dan berkoordinasi. Data harus diserahkan ke kabid supaya informasinya seragam dan tidak menimbulkan persepsi yang berbeda di masyarakat," pungkasnya.
PPLS menilai kondisi rembesan tersebut bukan merupakan tanggul jebol maupun kegagalan proyek. Penanganan tanggul di kawasan Lumpur Lapindo harus dilakukan secara berkelanjutan karena kondisi tanah terus mengalami penurunan dan perubahan.
"Peninggian tanggul menjadi salah satu langkah untuk menyesuaikan konstruksi dengan kondisi alam di sekitar kawasan terdampak Lumpur," pungkasnya.
