Sudah lama, bahkan sejak republik ini berdiri, nasib guru di tanah air belum juga mengalami perbaikan signifikan. Yang dimaksud di sini adala guru honorer, guru swasta alias guru non-ASN. Ada guru yang sudah belasan bahkan puluhan tahun mengabdi hanya mendapatkan gaji 300 ribu atau paling banter 500 ribu rupiah per bulan. Sungguh tidak cucuk. Inilah barangkali yang disebut kerja serius gaji main-main. Berkebalikan dengan yang 'joget-joget' dan "suka tidur" di Senayan sana yang kerjanya main-main tapi gajinya sangat, sangat dan sangat serius.
Melihat kenyataan getir nasib para guru ini, benar apa yang dikatakan Iwan Fals dalam lagunya: "Jadi guru berbakti memang makan ati." Betapa berat menjadi guru. Mereka benar-benar sebagai 'DOSEN', tanggungjawabnya berdos-dos, tapi gajinya cuma satu sen. Habis itu masih sering 'dikriminalkan' oleh para wali murid yang tidak diterima anaknya ditegur atau dinasihati oleh guru. Malang benar nasibmu para guru!
Karena itu, kalau kemajuan bangsa dan negara masih menjadi cita-cita bersama, harus ada kebijakan riil dan konkret untuk memperbaiki dan memajukan nasib para guru. Sebuah bangsa bisa maju kalau SDM-nya maju, dan SDM maju hanya bisa tercipta melalui tangan-tangan profesionalitas para guru. Ini artinya eksistensi guru merupakan faktor utama bagi masa depan bangsa.
Perbaikan nasib para guru tidak bisa terrealisasi hanya melalui narasi-narasi dan opini-opini di berbagai media atau melalui perdebatan di forum-forum seminar yang dari dulu sampai sekarang kesimpulannya tetap sama: guru belum sejahtera atau nasib guru swasta masih sangat memprihatinkan. Harus ada terobosan yang lebih riil berupa kebijakan pemerintah yang benar-benar berpihak pada mereka. Tanpa kebijakan politik yang berpihak, perbaikan nasib guru non-ASN hanya menjadi wacana dan mimpi belaka.