Pernahkah detikers memperhatikan peta dunia di dinding kelas atau atlas sekolah? Lalu, apakah terlihat bahwa ukuran Greenland hampir sebesar Benua Afrika?
Padahal dalam kenyataannya, luas Afrika mencapai sekitar 14 kali lipat dari Greenland lho. Mengapa hal ini bisa terjadi?
Ilusi visual inilah yang mendorong Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengesahkan penggunaan peta Equal Earth (Peta Bumi Setara). Resolusi PBB ini mendorong lembaga-lembaga internasional untuk mulai beralih dari proyeksi Mercator konvensional ke Equal Earth.
PBB ingin menghadirkan proporsi luas benua yang lebih adil dan akurat, terutama untuk benua Afrika. Kepala Laboratorium Kartografi, Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr Ari Cahyono, menjelaskan alasan ilmiah lainnya.
Perpindahan Bentuk Bulat ke Datar Timbulkan Distorsi
Ari menjelaskan, perubahan tampilan ukuran wilayah di peta sangat bergantung pada sistem proyeksi yang dipilih kartografer. Secara sederhana, proyeksi peta adalah metode ilmiah untuk memindahkan permukaan bumi yang berbentuk lengkung tiga dimensi (3D) ke atas bidang datar dua dimensi (2D).
Menurutnya, proses memipihkan bola bumi ini mustahil dilakukan tanpa menimbulkan distorsi. Distorsi yang dimaksud adalah perubahan pada aspek tertentu, baik itu bentuk wilayah, luas, jarak, maupun sudut arah.
"Dari bentuk yang bidang lengkung ke bidang datar itu pasti akan timbul distorsi. Sehingga peta yang dihasilkan itu tidak mungkin 100 persen benar pada semua aspek. Tidak mungkin dia bisa mempertahankan bentuk wilayah, luas wilayah, jarak, maupun sudut, semuanya dengan benar," jelas Ari, dikutip dari laman resmi UGM, Jumat (9/10/2026).
Perbedaan Mectator vs Equal Earth
Peta dunia yang paling umum kita lihat di buku pelajaran maupun peta dinding selama berabad-abad adalah rancangan Gerardus Mercator yang dibuat pada abad ke-16. Proyeksi Mercator sengaja dirancang untuk membantu navigasi pelayaran laut karena mampu mempertahankan sudut dan arah mata angin secara konsisten.
Namun, keunggulan navigasi ini dibayar mahal dengan distorsi luas wilayah yang parah. Terutama di daerah yang semakin jauh dari garis khatulistiwa (lintang tinggi).
Akibatnya, wilayah kutub dan lintang tinggi seperti Greenland, Antarktika, Amerika Utara, dan Eropa terlihat membengkak jauh lebih besar dari ukuran aslinya. Sebaliknya, wilayah yang berada tepat di sekitar ekuator seperti Benua Afrika dan Indonesia mengalami distorsi luas yang relatif kecil.
Wilayah-wilayah tersebut secara visual tampak jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan benua-benua di belahan utara.
"Kalau peta gunanya untuk pelayaran, Mercator tetap bagus. Tapi ketika ingin memberikan persepsi orang akan suatu wilayah, yang mana persepsi antarnegara satu dengan negara lain itu punya persepsi yang sama akan kondisi wilayah yang sebenarnya, maka lebih cocok pakai Equal Earth," terang Ari.
Berbeda dengan Mercator, proyeksi Equal Earth sengaja diciptakan dengan prinsip mempertahankan perbandingan luas wilayah secara proporsional. Melalui Equal Earth, perbandingan luas Afrika dengan benua lain kini ditampilkan secara riil.
Pasalnya, representasi visual pada peta jenis ini sangat memengaruhi cara berpikir dan persepsi manusia terhadap kondisi geopolitik serta geografis dunia. Jika suatu wilayah terlihat lebih kecil di peta, masyarakat berisiko memiliki pemahaman yang keliru.
"Karena peta itu sebagai representasi visual, maka tentu kita bicara persepsi visual manusia. Persepsi kita dalam membaca peta yang benar dengan persepsi kita akan wilayah yang kita bayangkan tadi pasti berpengaruh," tuturnya.
Kecocokan Peta Tergantung Kebutuhan
Walaupun Equal Earth unggul dalam menampilkan perbandingan luas benua, Ari menegaskan bahwa proyeksi ini tidak serta-merta menggantikan seluruh fungsi peta lain. Dalam ilmu kartografi, setiap sistem proyeksi memiliki kegunaan masing-masing.
Misalnya, proyeksi azimutal biasanya ideal untuk memetakan kawasan kutub. Sedangkan proyeksi Kerucut, digunakan untuk wilayah lintang tengah.
Kemudian, ada juga proyeksi silinder yang lebih sesuai untuk kebutuhan tertentu di wilayah sekitar khatulistiwa.
"Tidak ada satu sistem proyeksi pun yang fit for all purposes. Jadi, tidak bisa untuk semua keperluan," tegasnya.
Melihat kondisi Indonesia yang terletak di garis ekuator, Ari menyarankan penggunaan Equal Earth. Peta ini sangat relevan untuk diterapkan di bangku sekolah agar para siswa dan guru memiliki gambaran objektif mengenai perbandingan luas negara dan benua.
Ari juga mengingatkan masyarakat yang kerap menggunakan aplikasi peta digital sehari-hari, seperti Google Maps. Perlu diketahui, Google Maps menggunakan sistem proyeksi Web Mercator.
Sistem ini memang memudahkan penyajian peta digital global secara cepat dan teratur di layar ponsel, tetapi tetap mewarisi kelemahan Mercator, yakni melebih-lebihkan ukuran daratan di lintang tinggi.
"Setiap peta pasti ada distorsi yang terjadi karena bentuk aslinya itu bulat, diproyeksikan dari tiga dimensi ke dua dimensi. Namun, pasti ada suatu aspek yang dipertahankan sesuai dengan tujuan pemetaannya," pungkas Ari.
Simak Video "Video: Rektor UGM Sebut 75 Persen Mahasiswanya Terima Beasiswa"
(cyu/faz)