Greenland Terlihat Lebih Besar dari Afrika di Peta, Padahal Aslinya...

ADVERTISEMENT

Greenland Terlihat Lebih Besar dari Afrika di Peta, Padahal Aslinya...

Callan Rahmadyvi Triyunanto - detikEdu
Rabu, 11 Feb 2026 09:30 WIB
Ilustrasi ibu dan anak lihat globe atau peta
Foto: Getty Images/iStockphoto/globalmoments/Ilustrasi globe untuk melihat peta dunia
Jakarta -

Tahukah detikers, dalam peta dunia Greenland tampak lebih besar atau sama dengan benua Afrika. Padahal, aslinya Afrika belasan kali lipat lebih luas dari Greenland. Kenapa ada perbedaan ukuran di peta dunia?

Luas Greenland sebenarnya hanya sekitar 2,16 juta meter persegi. Ukuran ini sangat jauh lebih kecil dari benua Afrika yang mencapai 30-an juta kilometer persegi.

Ukuran di peta menjadi berbeda karena adanya proyeksi. Pada Proyeksi Mercator, Greenland terlihat lebih besar dari Afrika yang sebenarnya jauh lebih kecil.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apa Itu Proyeksi Mercator?

Proyeksi Mercator diperkenalkan oleh seorang kartografer bernama Flandria Gerardus Mercator pada 1569. Proyeksi tersebut dikenal sebagai proyeksi peta silinder, yang dapat diartikan sebagai cara pemindahan koordinat lintang dan bujur dari globe ke peta atau dari bidang lengkung ke bidang datar.

Cara kerjanya, garis meridian (dari kutub Utara ke kutub Selatan) digambar vertikal dengan jarak yang sama, sedangkan garis lintang (dari Timur ke Barat) digambar horizontal sama jaraknya. Hasilnya, wilayah di dekat kutub tampak membesar, sehingga Greenland terlihat lebih besar dibandingkan Afrika.

ADVERTISEMENT

Proyeksi Mercator dirancang untuk navigasi karena jalur dengan arah tetap bisa digambar sebagai garis lurus. Artinya, kapal tidak perlu sering mengubah arah akibat kelengkungan Bumi.

Ilusi Ukuran dari Proyeksi Peta

Jadi bisa bayangkan, meski Greenland terlihat sebesar Afrika di peta, kenyataannya Afrika 14 kali lebih luas. Greenland memiliki luas sekitar 2,16 juta kilometer persegi termasuk pulau-pulau sekitarnya, sementara Afrika mencapai 30,24 juta kilometer persegi.

"Tidak semua bisa dibuat sempurna. Peta yang bagus untuk satu hal mungkin tidak cocok untuk menggambarkan hal lain," kata Richard Gott, profesor emeritus astrofisika di Princeton, dikutip dari IFL Science.

Ketidaksempurnaan ini salah satunya, gambaran yang terdistorsi di area permukaan di dekat Kutub Utara dan Selatan hingga pada titik di mana wilayah kutub sering kali terpotong.

Richard Gott dan rekannya, David Goldberg, kemudian mengembangkan peta datar yang lebih akurat, terinspirasi dari peta karya Buckminster Fuller, yang menjaga ukuran negara lebih presisi dan meminimalkan distorsi.

Dengan peta ini, jarak antara dua titik bisa diukur lebih akurat dibanding peta lain, menjadikannya salah satu peta datar Bumi paling akurat.

Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.



(crt/faz)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads