Menelusuri Sejarah Greenland, Wilayah yang Kini dalam Kendali AS

ADVERTISEMENT

Menelusuri Sejarah Greenland, Wilayah yang Kini dalam Kendali AS

Cicin Yulianti - detikEdu
Sabtu, 19 Sep 2026 13:00 WIB
Sunset over Nuuk, Greenland, January 21, 2026. Mads Claus Rasmussen/Ritzau Scanpix/via REUTERS ATTENTION EDITORS - THIS IMAGE WAS PROVIDED BY A THIRD PARTY. DENMARK OUT. NO COMMERCIAL OR EDITORIAL SALES IN DENMARK.
Greenland Foto: via REUTERS/Mads Claus Rasmussen
Jakarta -

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan AS telah mencapai kesepakatan dengan Denmark dan Greenland untuk mendapatkan kendali permanen atas keamanan Greenland.

"Saya dengan senang hati mengumumkan bahwa Amerika Serikat telah menandatangani Perjanjian dengan Kerajaan Denmark dan Greenland, yang memberikan Amerika Serikat kendali permanen atas keamanan, dan seluruh kebutuhan lainnya, di Greenland," kata Trump dikutip dari kantor berita AFP, Sabtu (19/9/2026).

Dalam unggahan media sosialnya, Trump juga menegaskan negara-negara yang dianggap sebagai lawan AS tidak boleh memiliki pangkalan atau kehadiran militer di sana tanpa persetujuan tertulis Washington.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Mulai sekarang, tidak ada musuh AS yang boleh memiliki pangkalan di Greenland, memiliki kehadiran militer di Greenland, atau melakukan investasi sensitif di Greenland, tanpa persetujuan tertulis kami," kata Trump.

Bukan hanya AS, beberapa negara lain seperti Rusia dan China juga berusaha mengincar Greenland. Wilayah ini memiliki kekuatan besar dalam geopolitik dan jalur pelayaran.

ADVERTISEMENT

Di mana letak Greenland ini dan mengapa diperebutkan oleh banyak negara termasuk AS? Ini sejarahnya.

Letak dan Geografis Greenland

Greenland sebelumnya adalah wilayah dari Kerajaan Denmark. Wilayah ini terkenal dengan daratannya yang tertutup salju yang luas.

Letak Greenland berada di kawasan Kutub Utara, tepatnya di antara Samudra Arktik di sebelah utara dan Samudra Atlantik Utara di sebelah selatan. Dilihat dari peta, Greenland merupakan bagian dari benua Amerika Utara.

Luas daratan Greenland sekitar 2,16 juta kilometer persegi. Mengutip laman Visit Greenland milik Pemerintah Greenland, pada 2,5 juta tahun lalu wilayah ini memang sempat hijau sesuai namanya.

Namun, tanah purba kemudian membeku secara kriogenik selama jutaan tahun. Lama-lama hingga sekitar 80 persen daratannya tertutup oleh lapisan es.

Sejarah Greenland, Mengapa Dimiliki Denmark?

Sejarah Greenland erat kaitannya dengan kehadiran pertama bangsa Nordik yakni seorang Viking Norse yang diasingkan dari Islandia karena pembunuhan. Mulai saat itu, bangsa Norse tinggal di sana selama berabad-abad.

Namun, mengutip laman Danish Institute for International Studies (DIIS) pada awal abad ke-15, permukiman Norse di Greenland akhirnya ditinggalkan. Penyebab pastinya masih menjadi bahan perdebatan, dengan sejumlah penelitian mengaitkannya dengan perubahan iklim, kondisi lingkungan, ekonomi, dan faktor sosial.

Pada tahun 1721, Hans Egede, seorang pendeta dan misionaris Norwegia dengan dukungan dari kerajaan Denmark-Norwegia yang bersatu, menjalin kembali kontak dengan Greenland.

Ketika tiba di Greenland, Egede tidak menemukan permukiman Norse yang masih bertahan. Ia kemudian berinteraksi dengan masyarakat Inuit dan menjalankan misi penginjilan.

Pada 1721, Denmark-Norwegia memulai kembali kolonisasi Greenland. Greenland kemudian berstatus sebagai koloni Denmark hingga 1953. Pengaruh Norwegia-Denmark mulai bersaing dengan kekuatan asing seperti Belanda.

Setelah Denmark menyerahkan Norwegia kepada Swedia melalui Perjanjian Kiel pada 1814, Greenland tetap berada di bawah Denmark. Namun, klaim yang sama juga sempat dilakukan oleh Norwegia.

Hingga pada akhirnya, hubungan kolonial Denmark-Greenland tandai oleh kebijakan paternalistik Denmark untuk pembangunan yang hati-hati. Denmark memastikan bahwa Greenland akan menjadi koloni yang menguntungkan.

Hak atas Greenland sendiri sudah dikonfirmasi Amerika Serikat pada 1916, sebagai hasil juga dari pembelian Hindia Barat Denmark oleh Amerika. Pada 1979, Greenland mencapai pemerintahan sendiri. Kemudian pada 2009, Greenland memperoleh sistem pemerintahan sendiri yang lebih luas melalui Self-Government Act.

Greenland memiliki parlemen sendiri, Inatsisartut, dan pemerintah sendiri, Naalakkersuisut. Namun, pertahanan dan kebijakan luar negeri tetap menjadi tanggung jawab Kerajaan Denmark.

Mengapa AS Ingin Mengakuisisi Greenland?

Hubungan AS dengan Greenland sudah terjadi bahkan sejak abad ke-19. Namun, keterlibatan AS yang luas di Greenland baru terwujud pada Perang Dunia Kedua.

Hal itu dipicu karena invasi Jerman ke Denmark pada 9 April 1940. Amerika Serikat khawatir letak geografis Greenland akan digunakan untuk melawannya.

Namun, Duta besar Denmark untuk AS, Henrik Kauffmann menawarkan hak pangkalan kepada Amerika Serikat di Greenland selama perang berlangsung. Itulah awal kehadiran AS di Greenland.

Selama Perang Dingin dan beberapa dekade setelahnya, AS melindungi kepentingan keamanannya di Greenland. Mulai dari melacak rudal Rusia, menyimpan pesawat pembom, hingga kapal selam bersenjata nuklir.



(cyu/pal)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads