Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) akan mengubah peta dunia yang selama ini telah dipakai secara luas. Apa alasannya?
Sebelumnya, resolusi perubahan peta ini telah diajukan dan mencapai persetujuan dalam pertemuan pada Jumat (4/9). Resolusi ini mendorong peta dengan ukuran wilayah yang sebenarnya karena ada wilayah yang terlihat lebih kecil atau besar dari ukuran asli.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Resolusi tersebut tidak melarang penggunaan Proyeksi Mercator ataupun mewajibkan penggantinya. Sebaliknya, resolusi ini mendorong pemerintah, sekolah, organisasi internasional, dan perusahaan teknologi untuk menggunakan proyeksi luas wilayah yang sebenarnya.
Perbedaan Peta Lama dan Baru
Dalam peta lama yang dibuat oleh Gerardus Mercator pada 1569, gambaran dunia disejajarkan dengan garis lurus yang menyesuaikan dengan arah kompas. Pendekatan ini bertujuan untuk membantu para pelaut mencari jalan pulang.
Namun, mempertahankan akurasi arah ini harus mengorbankan luas wilayah. Dalam ProyeksiMercator, daratan tampak semakin besar seiring bertambahnya jarak dari garis khatulistiwa.
Sebagai contoh, Greenland bisa terlihat hampir seukuran Afrika. Kenyataannya, luas Afrika sekitar 14 kali lipat lebih besar. Wilayah Eropa Utara dan Amerika Utara juga tampak diperbesar serupa jika dibandingkan dengan wilayah di sekitar Khatulistiwa.
Terlepas dari tujuan awalnya untuk keperluan navigasi, peta Mercator masih umum digunakan dalam materi pendidikan, media, platform digital, maupun dokumen resmi. Resolusi terbaru dari PBB mendorong penyesuaian ukuran sebenarnya dari Afrika.
Keadilan Untuk Afrika
Togo, negara di Afrika Barat, memimpin negosiasi tersebut mewakili kelompok negara-negara Afrika. Menteri Luar Negeri Togo, Robert Dussey menegaskan upaya tersebut merupakan upaya memperbaiki distorsi sebagai tindakan "keadilan kognitif dan pemulihan ingatan,".
Ia mengatakan resolusi ini tidak dimaksudkan untuk mengecam Proyeksi Mercator ataupun untuk memaksakan penggunaan satu jenis proyeksi saja.
"Peta yang adil tidak mengubah geografi dunia, melainkan mengubah cara kita memandang dunia," ujarnya dalam laman PBB, dikutip Jumat (11/9/2026).
Resolusi ini tidak memasang tenggat waktu dan tidak akan berubah dalam semalam. Melansir dari Al Jazeera, perubahan peta akan diadopsi secara bertahap oleh pemerintah, sekolah, dan perusahaan teknologi.
