×
Ad

Daerah Mana yang Paling Dekat dengan Gunung Anak Krakatau?

Fahri Zulfikar - detikEdu
Senin, 07 Sep 2026 11:00 WIB
Foto: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/Warga mendayung sampan dengan latar belakang erupsi Gunung Anak Krakatau di Pelabuhan Pulau Sebesi, Lampung Selatan, Lampung, Selasa (1/1/2019).
Jakarta -

Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi hingga abu vulkanik sampai ke wilayah Banten dan DKI Jakarta. Ketinggian kolom abu vulkanik tercatat mencapai 6-15 km. Bagaimana dengan daerah berpenghuni yang terdekat?

Gunung Anak Krakatau terletak di kawasan cagar alam yang dikelola oleh Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Lampung. Gunung Anak Krakatau memiliki luas sekitar 320 hektar dan ketinggian sekitar 110-157 mdpl, menurut situs Kementerian ESDM.

Wilayah tersebut termasuk pulau tak berpenghuni yang memiliki alat pemantau aktivitas gunung berapi. Alat pendeteksi tersebut menggunakan tenaga sel surya untuk mengirimkan informasi ke Badan Vulkanologi Lampung dan Pusat.

Terbaru, Gunung Anak Krakatau menunjukkan aktivitas vulkaniknya sejak Jumat (4/9) hingga Minggu (6/9) pagi. Statusnya berada pada Siaga Level III dan kode merah (bahaya) untuk penerbangan.

Daerah Mana yang Paling Dekat dengan Gunung Anak Krakatau?

Pulau Sebesi Lampung merupakan daerah berpenghuni yang berjarak paling dekat dengan Gunung Anak Krakatau. Jaraknya sekitar 15-20 kilometer.

Mengutip Journey to Amazing Sites oleh Ifa Abdoel, pulau ini terletak di Desa Tejang Pulau Sebesi, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan. Jumlah penduduk yang menghuni Sebesi sekitar 2.000-2.800 jiwa.

Pulau Sebesi merupakan salah satu pulau besar yang berada di Selat Sunda dengan luas sekitar 16 kilometer persegi. Pulau ini dikenal sebagai destinasi wisata yang terkenal dengan pantainya, demikian dilansir Pemprov Lampung.

Daerah berpenghuni selanjutnya yang juga dekat dengan Gunung Anak Krakatau adalah Pulau Sangiang. Pulau ini berjarak sekitar 49-50 km dan masuk wilayah Kabupaten Serang, Banten.

Wilayah ini termasuk cagar alam yang memiliki situs sejarah peninggalan Jepang. Jumlah penduduk di Pulau Sangiang hanya sekitar 25-50 kepala keluarga, menurut Indonesia Kaya.

Sementara itu, daerah di Lampung yang cukup dekat dengan Gunung Anak Krakatau antara lain Kecamatan Rajabasa (sekitar 35-40 km) dan Kalianda (sekitar 40-50 km). Kemudian wilayah Kecamatan Anyer dan Cinangka di Serang, Banten, berjarak sekitar 42-45 km.

Erupsi Gunung Anak Krakatau Bisa sampai Mana?

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui sistem peringatan dini untuk cuaca penerbangan atau Significant Meteorological Information (SIGMET), mencatat bahwa kolom abu vulkanik mencapai ketinggian 6-15 km. Sebarannya mengarah ke arah timur dan juga barat.

"Pembaruan SIGMET terkini mencatat sebaran debu bergerak hingga ketinggian 20.000 kaki (6,09 km) ke arah timur serta ketinggian 50.000 kaki (15 km) ke arah barat," ujar Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, melalui keterangan tertulis, Minggu (6/9/2026).

Menurut pakar klimatologi dan Profesor Riset di Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof Dr Erma Yulihastin, dengan ketinggian kolom abu mencapai 13 km, maka letusan telah menembus lapisan tropopause. Ini merupakan lapisan batas yang terletak di antara troposfer dan stratosfer.

Letusan yang menembus tropopause tergolong berbahaya. Pasalnya, ada sirkulasi Hadley atau pola pergerakan udara global di wilayah tropis yang memungkinkan asap bisa menyebar ke negara-negara subtropis.

"Semburan kolom hingga tropopause itu bahaya sebab ada sirkulasi Hadley yang memungkinkan apa yang disemburkan di wilayah khatulistiwa bisa ditransfer ke negara-negara subtropis," katanya.

Sejauh ini, BMKG telah melaporkan bahwa sebaran abu yang bergerak ke arah timur laut hingga selatan telah mencapai DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan perairan sekitarnya. Kemudian, sebaran abu yang bergerak ke arah barat daya hingga barat laut telah sampai ke Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, dan Samudra Hindia.

Selain abu vulkanik, BMKG mencatat adanya gangguan geomagnetik dan petir vulkanik. Terutama dalam 12 jam terakhir pada Minggu (6/9).

"BMKG merekam adanya fenomena sekunder berupa gangguan geomagnetik dan petir vulkanik. Sensor di Lampung Selatan dan Serang mencatat adanya gangguan geomagnetik yang selaras dengan kenaikan sambaran petir vulkanik pada rentang waktu 12 jam terakhir. Namun, intensitas gangguan tersebut tidak sebesar letusan awal," papar Deputi Bidang Geofisika BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan.



Simak Video "Video: Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Jangkau Lampung hingga Jawa Barat"

(faz/twu)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork