Dosen IPB Ungkap Dampak Abu Vulkanik pada Lahan: Bisa Gagal Panen

ADVERTISEMENT

Dosen IPB Ungkap Dampak Abu Vulkanik pada Lahan: Bisa Gagal Panen

Nikita Rosa - detikEdu
Senin, 07 Sep 2026 18:00 WIB
Warga Palabuhanratu, Sukabumi memperlihatkan debu diduga abu vulkanik Gunung Anak Krakatau
Warga Palabuhanratu, Sukabumi memperlihatkan debu diduga abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. (Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar)
Jakarta -

Lima gunung api di Indonesia serentak mengeluarkan erupsi abu vulkanik. Selain mengganggu keseharian manusia, abu vulkanik ini juga menghambat dunia pertanian.

Seperti diketahui, Gunung Anak Krakatau, Gunung Sinabung, Gunung Merapi, Gunung Ibu, dan Gunung Illi Lewotolok sedang berstatus siaga di waktu yang bersamaan. Fenomena ini menyebabkan aktivitas sekolah hingga pertanian berhenti sementara.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jika dilihat dari ilmu pertanahan, pakar dari IPB University, Prof Iskandar, mengatakan abu vulkanik bisa berdampak pada kelangsungan tanaman. Semakin lama tanaman terpapar abu vulkanik, semakin besar potensi kerusakan yang ditimbulkan.

"Jika gangguan berlangsung berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu, dampaknya akan buruk," ujarnya dalam laman IPB University dikutip Senin (7/9/2026).

ADVERTISEMENT

Hambat Fotosintesis

Salah satu dampak abu vulkanik pada tanaman adalah terhambatnya proses fotosintesis karena stomatata tertutup lapisan abu. Kondisi tersebut dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

"Tanaman bisa gagal dalam proses pembungaan dan gagal panen," jelasnya.

Namun, dampak abu vulkanik pada tanaman dipengaruhi oleh jarak dari pusat letusan. Di wilayah yang relatif dekat dengan pusat letusan, abu vulkanik yang jatuh masih memiliki suhu cukup tinggi sehingga menyebabkan kerusakan fisik pada tanaman.

"Untuk jarak yang relatif dekat, abu vulkanik masih cukup panas dan dapat menimbulkan kerusakan secara fisik. Tanaman layu dan akhirnya mati," ujarnya.

Lahan pertanian terdampak abu vulkanik baru dapat diolah setelah hujan abu berakhir. Abu vulkanik nantinya jangan langsung dibuang, tetapi dapat dicampurkan dengan tanah. Selanjutnya, petani wajib memeriksa kondisi tanah melalui pengukuran pH dan daya hantar listrik (DHL).

Abu Bisa Suburkan Lahan

Di sisi lain, abu vulkanik juga dapat menjadi salah satu proses alami dalam menyuburkan tanah yang telah mengalami degradasi.

"Begitu abu vulkanik yang ada di permukaan tanah terkena air hujan, maka akan dilepaskan berbagai macam unsur yang bermanfaat sebagai hara tanaman, seperti kalsium (Ca), magnesium (Mg), kalium (K) dan lain-lain," jelasnya.

Oleh karena itu, Prof Iskandar berharap hujan abu vulkanik tidak berlangsung dalam waktu lama sehingga masyarakat dapat kembali beraktivitas secara normal.

"Jadi semoga saja 'hujan' abu vulkanik ini tidak berlama-lama, masyarakat bisa beraktivitas kembali dengan normal dan tanah kembali subur," harapnya.



(nir/twu)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads