Kenapa Arah Abu Gunung Anak Krakatau Bisa Berubah-ubah?

ADVERTISEMENT

Kenapa Arah Abu Gunung Anak Krakatau Bisa Berubah-ubah?

Fahri Zulfikar - detikEdu
Senin, 07 Sep 2026 20:30 WIB
A drone view shows Mount Anak Krakatau volcano spewing hot ash during an eruption, in South Lampung, Lampung province, Indonesia, September 5, 2026. Center for Volcanology and Geological Hazard Mitigation (PVMBG)/Handout via REUTERS ATTENTION EDITORS - THIS IMAGE HAS BEEN SUPPLIED BY A THIRD PARTY. MANDATORY CREDIT. NO RESALES. NO ARCHIVES.     TPX IMAGES OF THE DAY
Foto: via REUTERS/PVMBG/Erupsi Gunung Anak Krakatau dari satelit.
Jakarta -

Erupsi Gunung Anak Krakatau menghasilkan kolom abu dengan ketinggian mencapai 6-15 kilometer. Abu vulkanik menyebar puluhan hingga ratusan kilometer. Kenapa arah abu vulkanik bisa berubah-ubah?

Ahli di bidang vulkanologi, geomorfologi, dan mitigasi bencana gunung api, Dr Danang Sri Hadmoko, S Si, M Sc, mengatakan ketinggian dan sebaran abu vulkanik dipengaruhi oleh kekuatan erupsi. Selain itu juga pengaruh mekanisme arah angin.

"Ya, jadi ada beberapa faktor. Yang pertama adalah magnitudo dari erupsi itu, kekuatan erupsi. Simpelnya adalah kekuatan erupsi, yang mana sangat menentukan volume abu yang dikeluarkan dan juga ketinggian. Nah, kemudian karena ketinggiannya, kemudian di situ juga ada mekanisme arah angin," jelasnya kepada detikEdu, Senin (7/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dan arah angin itu pengaruhnya sangat besar sekali, arah dan kecepatan angin. Itu akan menentukan sampai di mana abu vulkanik itu akan bergerak begitu, gitu. Jadi, ini juga ratusan, puluhan dan ratusan kilometer itu sangat memungkinkan gitu dengan arah angin yang saat ini ada, yang itu bisa dipantau dari citra satelit secara multitemporal begitu," tambahnya.

Alasan Abu Vulkanik Bisa ke Beberapa Arah

Danang menjelaskan bahwa sebaran abu bisa ke beberapa arah karena pergerakan angin radial, yang menyebar secara tegak atau melingkar. Ini menyebabkan bisa ke segala arah atau ke arah tertentu.

ADVERTISEMENT

"Ya, faktor angin kan juga ketika terjadi erupsi, kemudian pergerakannya itu kan radial ya. Pergerakannya kan ke segala arah gitu, ke segala arah itu pergerakannya. Cuma persentase yang ke timur, ke barat, ke utara, ke selatan, dan seterusnya itu kan berbeda-beda tergantung dari tadi, kecepatan dan arah angin. Dan arah angin itu kan berubah-ubah," paparnya.

Berdasarkan laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebaran abu setinggi 6,09 km yang bergerak ke arah timur laut hingga selatan telah mencapai DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan perairan sekitarnya.

Kemudian, sebaran abu setinggi 15 km yang bergerak ke arah barat daya hingga barat laut telah sampai ke Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, dan Samudra Hindia.

Abu Vulkanik Kelud Bertahan di Atmosfer Selama Sebulan

Sementara itu, studi dampak letusan Gunung Kelud di Jawa Timur pada 2014 menemukan bahwa dampak abu bertahan selama berbulan-bulan. Studi yang dipimpin oleh Universitas Colorado Boulder dilakukan dengan pengamatan dunia nyata dan simulasi komputer canggih.

"Yang kami temukan dari letusan ini adalah abu vulkanik dapat bertahan dalam waktu lama," kata Yunqian Zhu, penulis utama studi baru ini dan ilmuwan peneliti di Laboratorium Fisika Atmosfer dan Antariksa (LASP) di CU Boulder.

"Mereka melihat beberapa partikel besar melayang di atmosfer sebulan setelah letusan. Itu tampak seperti abu," imbuh Zhu.



(faz/pal)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads