Wamen Stella: Hanya 50 Persen Murid SMA di China yang Masuk Perguruan Tinggi

ADVERTISEMENT

Wamen Stella: Hanya 50 Persen Murid SMA di China yang Masuk Perguruan Tinggi

Devita Savitri - detikEdu
Senin, 07 Sep 2026 17:30 WIB
Wamendiktisaintek Stella Christie pada AKPT 2026.
Wamendiktisaintek Stella Christie pada Akademi Kepemimpinan Perguruan Tinggi di Grha Kemdiktisaintek, Jakarta, Senin (7/9/2026). Foto: Devita Savitri/detikcom
Jakarta -

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie, ungkap hanya 50 persen murid SMA yang masuk perguruan tinggi di China. Mengapa bisa begitu?

Ada tiga aspek penting yang perlu diperhatikan dalam penyelenggaraan perguruan tinggi. Ketiganya adalah kualitas, kuantitas, dan keterjangkauan.

Namun, Stella menyebut ketiga hal ini rumit untuk dipenuhi seluruhnya oleh perguruan tinggi. Dengan begitu, ada salah satu aspek yang biasanya harus dilepaskan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ini adalah segitiga yang hampir mustahil ditutup. Kalau bahasanya kadang-kadang ya, rungkad, rumit buat Bapak-Ibu sekalian di perguruan tinggi, termasuk kita di Kemdiktisaintek," tutur Stella di acara Peluncuran Akademik Kepemimpinan Pendidikan Tinggi (AKPT) di Gedung D Kemdiktisaintek, Senayan, Jakarta, Senin (7/9/2026).

China Lepaskan Aspek Kuantitas

Dari tiga aspek tersebut, Stella menyebut China melepaskan aspek kuantitas. Di China, hanya 50 persen murid SMA yang masuk perguruan tinggi karena keketatan seleksi masuk kampus.

ADVERTISEMENT

"Kebetulan saya kan 7 tahun di Tiongkok (China). Jadi, untuk bisa masuk ke SMA yang nanti bisa melanjutkan ke perguruan tinggi itu ketat sekali, luar biasa," paparnya.

Penjaringan Sejak Masuk SMA atau SMK

Penjaringan terjadi sejak jenjang SMP. Menurut Stella, hanya sekitar 50 persen murid SMP yang bisa masuk ke SMA umum yang khusus untuk berkuliah, sisanya masuk SMK.

"Dan semuanya ingin ke perguruan tinggi. Nanti dari SMA saringannya lebih ini (ketat) lagi," beber Stella.

Melihat hal ini, ia menilai China lebih mengutamakan kualitas dan keterjangkauan. Tapi, mereka membatasi kuantitas atau dalam hal ini jumlah mahasiswanya.

"Jadi kualitas dijaga dan keterjangkauannya dijaga, bukan di tengah-tengah. Tapi kuantitasnya dibatasi," sambungnya.

Kampus Bisa Buat Strategi Sendiri

Berkaca dari China, Stella menyatakan pada dasarnya setiap perguruan tinggi negeri (PTN) bisa menentukan strategi untuk bisa berhasil. Strategi yang dimaksud apakah ingin mengutamakan kualitas, keterjangkauan, atau kuantitasnya.

"Sebagai pemimpin pada saat ini letak perguruan tinggi Bapak-Ibu ini di mana di segitiga ini? Lebih ke kuantitas dan keterjangkauan kah? Sehingga strategi arahnya itu mau menyeimbangkan kualitasnya? Atau Bapak-Ibu sudah di kualitas dan keterjangkauan tetapi mengorbankan kuantitas?," tanya Stella.

Tidak semua PTN harus punya strategi yang sama. Tetapi, Stella berpesan agar rektor bisa menentukan arah keberhasilan mengingat perguruan tinggi adalah kunci pertumbuhan ekonomi.

Berbagai strategi ini nantinya akan dibahas dalam program Akademi Kepemimpinan Pendidikan Tinggi (AKPT) angkatan 1 2026. AKPT bertujuan untuk menguatkan rektor yang saat ini sudah menjabat dan menjaring calon pemimpin (rektor).

AKPT angkatan pertama terbagi dalam dua kelas, yakni kelas pimpinan dan future leaders. Kelas pimpinan diikuti 34 rektor dari 34 PTN, sedangkan future leader diikuti 61 peserta.

Ada 9 dimensi kompetensi utama yang harus dimiliki seorang pimpinan PTN, yakni kepemimpinan strategis, good university governance, kepemimpinan akademik, dan kepemimpinan keuangan.

Selanjutnya ada kompetensi pengembangan sumber daya manusia dan budaya organisasi, transformasi digital dan AI, diplomasi dan jejaring global, kepemimpinan berbasis nilai, serta pengembangan talenta unggul.

"Setelah kita menentukan Bapak-Ibu berada di mana di segitiga ini dan ingin ke arah mana, bisa, dan jangan lupa, bisa itu arahnya tetap dipertahankan. Tetap dipertahankan itu juga bisa. Barulah kita bisa menentukan apa yang harus kita lakukan," tegas Stella.



(det/twu)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads