Sejarah Terbentuknya Gunung Anak Krakatau, Berstatus Siaga sejak Juli 2026

ADVERTISEMENT

Sejarah Terbentuknya Gunung Anak Krakatau, Berstatus Siaga sejak Juli 2026

Novia Aisyah - detikEdu
Senin, 07 Sep 2026 10:00 WIB
A drone view shows Mount Anak Krakatau volcano spewing hot ash during an eruption, in South Lampung, Lampung province, Indonesia, September 5, 2026. Center for Volcanology and Geological Hazard Mitigation (PVMBG)/Handout via REUTERS
Foto: PVMBG/Handout via REUTERS/Erupsi Gunung Anak Krakatau.
Jakarta -

Gunung Anak Krakatau tengah mengalami erupsi pada Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB. Statusnya berada pada Siaga Level III dan kode merah (bahaya) untuk penerbangan.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Teuku Faisal Fathani mengatakan status Gunung Anak Krakatau telah ditetapkan 'Siaga' sejak awal Juli 2026.

Membicarakan Gunung Anak Krakatau, tentu tidak lepas dari Gunung Krakatau. Ia meletus hebat pada 1883 dan menyebabkan tsunami dahsyat setinggi 20 meter yang menyapu pesisir Lampung dan Banten. Setelah letusan itu, terbentuklah sebuah kaldera besar yang di dalamnya kemudian muncul Gunung Anak Krakatau.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejarah Terbentuknya Gunung Anak Krakatau

Pembentukan Gunung Anak Krakatau bisa ditelusuri dari aktivitas Gunung Krakatau pada 11 Juni 1927. Gunung Anak Krakatau terbentuk karena erupsi magma basa di pusat kompleks Krakatau.

Dikutip dari Badan Geologi, pada 28 Desember 1927, aktivitas vulkanik baru terjadi di pusat kaldera pada kedalaman 188 meter. Peristiwa itu lantas dinyatakan sebagai kelahiran Gunung Anak Krakatau.

ADVERTISEMENT

Kawah baru yang terbentuk tersebut terletak satu garis dengan kawah-kawah Danan dan Perbuatan sebelumnya. Sejak 1927 sampai 1930 terjadi belasan kali erupsi.

Karena sejumlah letusan tersebut, Gunung Anak Krakatau lalu tumbuh makin besar dan tinggi hingga mencapai 300 meter di atas permukaan laut. Selain itu, wilayah daratan yang dihasilkan juga meluas.

Dijelaskan dalam Indonesiabaik.id, sejak dekade 1950-an, Gunung Anak Krakatau tumbuh pesat hingga mencapai 13 cm per pekan atau sekitar 7 meter per tahun. Hal ini disebabkan geliat magma di perut bumi.

Karakatau berlokasi di atas zona subduksi yang saat aktif akan melumerkan batuan menjadi lava. Fenomena itulah yang mendorong pertumbuhan Anak Krakatau.

Salah satu peristiwa penting Anak Krakatau terjadi pada 2018 lalu. Saat itu goncangan gempa memicu erupsi dan longsoran di sebagian tubuh Anak Krakatau.

Peristiwa tersebut menyebabkan tsunami di Selat Sunda pada 22 Desember 2018. Menurut Badan Geologi, setelah 22 Desember 2018, seri erupsi berskala rendah terus terjadi sebagai konstruksi pertumbuhan kembali Gunung Anak Krakatau hingga 16 Desember 2023.

Namun, jeda erupsi cukup lama, sampai kemudian terjadi kembali pada 2 Juli 2026. Sejak saat itu, status aktivitas Gunung Anak Krakatau berada pada level III (Siaga).



(nah/faz)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads