Pakar Unpad Bicara Tragedi di Kanjuruhan Berkaitan dengan Crowd Behavior

Pakar Unpad Bicara Tragedi di Kanjuruhan Berkaitan dengan Crowd Behavior

Devi Setya - detikEdu
Selasa, 04 Okt 2022 07:00 WIB
Tragedi Kanjuruhan: Dapatkah Gas Air Mata Memicu Kematian?
Ilustrasi tragedi di stadion Kanjuruhan Foto: DW (News)
Jakarta -

Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan, Malang pada Sabtu (1/10/2022) menjadi pengalaman pahit dalam dunia sepak bola Indonesia. Peristiwa kerusuhan ini memiliki kaitan dengan crowd behavior yang kerap terjadi pada kerumunan.

125 Korban tewas akibat kerusuhan di Stadion Kanjuruhan. Laga antara Arema FC melawan Persebaya berakhir dengan kabar duka lantaran ribuan supporter ricuh di dalam stadion.

Kericuhan semakin memanas lantaran pihak kepolisian menembakkan gas air mata sehingga membuat orang panik dan berebut keluar dari area stadion. Tentunya tragedi ini harus diusut tuntas sehingga ada pihak yang ditunjuk untuk bertanggung jawab.

Sepak bola dan supporter memang dua hal yang tidak bisa saling terpisahkan. Menjadi suporter suatu klub sepakbola merupakan identitas sosial yang membanggakan dan mampu meningkatkan citra diri.

Hal ini seperti diungkapkan Dosen Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran (Unpad) Dr. Hery Wibowo, M.Si. Dikutip dari laman resmi Unpad (3/10/2022) Hery menjelaskan, menjadi supporter sepak bola bisa menimbulkan rasa bangga sekaligus perasaan meningkatnya harga diri.

"Ini adalah identitas sosial yang mampu meningkatkan 'status' atau bahkan 'harga diri' pada konteks kehidupan bermasyarakat. Dari anggota masyarakat yang 'bukan siapa-siapa', seseorang dapat merasa menjadi 'seseorang, atau warga negara berstatus menengah' dengan menjadi supporter aktif (fanbase) dari klub tertentu," jelas Hery.

Atas alasan ini, para supporter akan membela mati-matian ketika klub sepak bola kesayangannya tengah bertanding. Semakin ramai pendukung klub sepak bola maka semakin meningkat juga rasa percaya diri seseorang.

Memicu Fenomena Crowd Behavior

Banyaknya jumlah supporter yang mendukung secara langsung di stadion ini kemudian membentuk dinamika tersendiri. Menurut Hery, berkumpulnya ribuan orang ini berpotensi membentuk perilaku 'Crowd' (Crowd Behavior).

Crowd Behavior merupakan fenomena ketika sejumlah orang yang berkumpul dalam suatu kerumunan khusus akan berpotensi menghasilkan perilaku yang tidak akan terjadi pada situasi normal. Fenomena ini merupakan perilaku individu yang memicu perilaku kolektif.

"Seorang individu dalam crowd (kerumunan) akan cenderung merasa 'berkali-kali lipat lebih berani' dalam melakukan sesuatu yang ada dipikirannya, ia akan tidak ragu-ragu dalam melakukan niatannya. Hal ini dapat terjadi karena ia merasa 'akan' didukung oleh kelompoknya dalam segala tindakan yang dilakukannya," jelas Hery.

Dalam tragedi Kanjuruhan, pemicu crowd behavior ini adalah kekalahan tim Arema. Para pendukung Arema tersulut emosi karena menganggap tim sebagai identitas sosial ataupun konsep diri mereka. Ketika sesuatu terjadi ataupun menimpa tim, seakan menyentuh harga diri (self esteem) ataupun sisi batin terdalam pendukungnya.

"Sehingga secara umum, kekesalan hingga kemarahan akan dapat mudah tersulut, karena jiwa dan pikiran suporter selalu terhubungan dengan tim dan seluruh dinamikanya. Seperti bagian tubuh yang lengkap, jika ujung jari terasa sakit, maka dirasakan oleh seluruh anggota badan yang lainnya," papar Hery.

Crowd Behavior Bisa Diredam

Potensi crowd behavior sebenarnya bisa dan perlu diredam agar tidak berdampak lebih besar. Diperlukan manajemen pertandingan yang baik agar kerusuhan ini tidak terjadi.

Langkah antisipasi pun perlu dilakukan sedini mungkin. Para petugas pengamanan sebaiknya sigap dan siap melakukan pengamanan agar tidak terjadi kerusuhan. Apalagi mengingat di area ini terdapat ribuan orang.

Langkah antisipasi bisa dilakukan dengan berbagai cara, namun bukan berarti mengizinkan untuk berlaku anarkis. Dijelaskan Hery, penyelenggara, pemain, dan pengadil harus menjunjung tinggi sportivitas.

"Penonton wajib terus diedukasi untuk menerima 'kemenangan dan kekalahan'. Pertandingan yang berjalan sportif, akan dapat diterima baik oleh pendukung tim yang menang ataupun yang kalah," kata Hery.

Buntut tragedi di Kanjuruhan, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mencopot Kapolres Malang AKBP Ferli Hidayat. Kapolres Malang kini diisi oleh AKBP Putu Kholis Aryana.

Lihat juga Video: Komisi X DPR Soroti Bom Asap-Pentungan di Tragedi Kanjuruhan

[Gambas:Video 20detik]



(dvs/nwy)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia