Amalgamasi: Pengertian, Dampak, dan Contoh Perkawinan Campuran

Kiky Faqiha - detikEdu
Jumat, 23 Apr 2021 15:20 WIB
Cropped shot of an unrecognizable newlywed couple doing a pinky swear gesture on their wedding day
Foto: Getty Images/PeopleImages/Amalgamasi: Pengertian, Dampak, dan Contoh Perkawinan Campuran
Jakarta - Amalgamasi adalah pernikahan antara dua orang yang berbeda suku bangsa. Seperti misalnya pernikahan yang terjadi antara orang India dengan Indonesia.

Dalam konteks sosiologi, amalgamasi merupakan penyatuan biologis antar anggota-anggota kelompok etnis atau ras yang berlainan, sehingga muncul bangsa yang baru.

Apa itu amalgamasi?

Ada beberapa ahli yang mengemukakan pengertian amalgamasi, meskipun tidak banyak.

Dalam buku Sosiologi: Teks Pengantar dan Terapan oleh Dwi Narwoko dan Bagong Suyanto, amalgamasi merupakan syarat interaksi sosial yang bisa menjadi solusi untuk meredam pertentangan serta perselisihan yang terjadi dalam suatu kelompok masyarakat.

Sementara, dalam buku Kamus Ilmiah Populer karya Partanto dan Dahlan, amalgamasi secara sederhananya adalah proses pencampuran.

Dapat dikatakan juga, amalgamasi adalah proses pembauran biologis antara dua kelompok manusia yang masing-masing memiliki ciri fisik berbeda, sehingga keduanya menjadi satu rumpun. Amalgamasi terjadi lewat perkawinan antar ras atau antar suku.

Bagaimana sejarah amalgamasi?

Awal mula istilah amalgamasi lahir bermula di sekitar tahun 1967-an di Amerika, karena perbedaan dua kubu yaitu kulit putih dan non-putih, seperti orang Amerika-Afrika. Hingga 1967, perkawinan antar ras dilarang di banyak negara bagian Amerika Serikat melalui undang-undang anti perkawinan antara suku atau bangsa.

Sementara di Inggris, istilah ini digunakan sekitar abad ke-20.

Pada dasarnya, ide amalgamasi merupakan satu respon kelompok minoritas terhadap berbagai kondisi masyarakat.

Dulu, amalgamasi hanya bisa terjadi dengan syarat kelompok dominan membenarkan dan membebaskan kelompok minoritas berbuat seperti itu, dan kelompok minoritas mau atau terpaksa melakukannya. Kedua keadaan ini jarang terjadi serentak.

Selain itu, untuk memudahkan amalgamasi, kelompok dominan perlu melepaskan kedudukan istimewanya dalam masyarakat. Satu hal ini jarang dilakukan secara sukarela oleh kelompok dominan.

Oleh sebab itu, amalgamasi awalnya bukanlah proses yang mudah terjadi. Namun, tidak juga mustahil. Pada intinya, amalgamasi tetap terjadi dalam masyarakat tertentu meskipun derajatnya berbeda-beda.

Di Indonesia, amalgamasi juga telah terjadi sejak lama. Dulu, asimilasi dan amalgamasi sering dijadikan upaya merekatkan hubungan dua kelompok sosial yang berbeda.

Contohnya para raja sering mengawinkan putri mereka dengan pangeran atau raja di kerajaan lain untuk merekatkan hubungan atau menyatukan wilayah.

Amalgamasi di Indonesia tak hanya terjadi antar kelompok etnis di nusantara, tetapi juga dengan bangsa lain seperti Cina, India, atau Arab. Sejak zaman sebelum kolonialisme dan sebelum kemerdekaan, perkawinan antar ras dan antar suku sudah banyak terjadi.

  • Seperti apa dampak terjadinya amalgamasi?

Seperti fenomena sosial lainnya, amalgamasi juga memiliki sejumlah dampak positif maupun negatif.

Dampak positif seperti lahirnya inovasi budaya baru, mengurangi konflik karena persatuan, serta pertukaran pengalaman dan kebudayaan yang terdahulu.

Sementara, dampak negatifnya yaitu kemungkinan dominasi salah satu budaya sehingga menimbulkan konflik, persebaran penduduk tidak sebanding, dan memudarnya nilai budaya asli.

  • Apa contoh amalgamasi?

Dalam kehidupan, contoh amalgamasi yang paling mudah diobservasi adalah pernikahan campuran, baik antar etnis atau ras. Misalnya, wanita Cina menikah dengan pria India, tentu akan melahirkan ciri khas, kebudayaan, dan nilai yang baru.

Contoh amalgamasi lainnya adalah pernikahan antara perempuan Minang dengan pria Sunda, dan sebagainya.

Simak Video "4 Upaya Perbaikan Sistem Pendidikan RI yang Terus Diupayakan Nadiem"
[Gambas:Video 20detik]
(pay/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia