Deretan arca hingga sarkofagus yang usianya amat tua dan menjadi saksi bisu perkembangan peradaban umat manusia. Penciptanya telah lama meninggalkan dunia, tetapi mahakarya tangannya abadi bersama waktu, bentuk dan corak seninya membuat siapapun tersihir oleh keindahan dan meninggalkan kesan mendalam. Semua ini dapat ditemui jika berkunjung ke Museum Gedong Arca.
Museum Gedong Arca terletak di Bedulu, Blahbatuh, Kabupaten Gianyar. Gedung museum juga berada di kawasan kantor Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) XV wilayah Bali, NTB, NTT.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masyarakat umum dapat mengunjungi Museum Gedong Arca tanpa perlu merogoh kocek. Museum ini menjadi wajah dari peninggalan leluhur masyarakat Bali yang kaya akan budaya.
Namun, bagaimana museum yang kini berganti nama menjadi Museum Sarkofagus sejak 27 Februari 2025 ini bisa berdiri? Simak selengkapnya.
Jejak Awal Museum
R.P. Soejono sang bapak prasejarah Indonesia, pada tahun 1958-1959 merintis pembangunan sebuah museum untuk memamerkan artefak atau peninggalan arkeologis yang ditemukan di Bali. Kala itu Soejono menjabat sebagai Kepala Kantor Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional II cabang Gianyar.
Tempat yang berdiri itu masih amat sederhana dengan beberapa bangunan beratap ijuk di halaman tengah. Pembangunan museum ini tidak berhenti begitu saja.
Ketika dipimpin oleh Drs. M.M. Soekarto K. Atmojo, beberapa bangunan ditambahkan, termasuk adanya tembok di sekeliling dan sebuah candi bentar sebagai pintu masuk. Akhirnya tempat tersebut diresmikan dengan nama Museum Gedong Arca oleh Dirjen Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI pada 1974.
Para Penghuni Museum
Membahas tentang museum tidak lengkap rasanya tanpa membicarakan para penghuni museum. Koleksi yang ada di tempat ini terbilang lengkap dari sejak masa prasejarah hingga masa sejarah. Setiap gedung di museum ini seperti membawa ke ruang waktu yang sezaman dengan koleksi di dalamnya.
Sebagai contoh, Gedung A ditempati oleh berbagai artefak prasejarah seperti alat batu, manik-manik, hingga perunggu. Sementara itu Gedung B berisi tempayan maupun fosil makhluk hidup seperti kera. Beranjak ke Gedung J dan K yang lebih banyak menampilkan artefak berupa keramik cina dan artefak bercorak agama Hindu.
Artefak yang tidak cukup untuk dipamerkan di dalam gedung akan disemayamkan di area luar. Sebagian adalah arca dan sarkofagus. Pada awal masuk akan disambut oleh arca dari Jawa dan Bali, corak seni yang amat kentara berbeda.
Sementara di dalam dominasi lebih banyak terlihat dari arca bercorak Hindu. Masuk ke bagian paling akhir akan ditemani oleh sarkofagus, batu yang diperuntukan untuk leluhur kita dahulu beristirahat selamanya dalam keabadian bersama beberapa benda berharga sebagai bekal menuju akhirat.
Tiket Masuk dan Operasional
Museum Gedong Arca beroperasi Senin-Jumat pukul 09.00-16.00 Wita, sedangkan Sabtu-Minggu tutup. Berkunjung ke Museum Gedong Arca tidak dikenakan biaya alias gratis.
Museum Masa Kini
Mengunjungi museum mungkin menjadi pengalaman yang biasa saja dan terasa membosankan, sebab museum seperti dirancang pasif. Pada masa kini museum makin menyesuaikan diri terhadap kepuasan pengunjung. Pengunjung museum bukan hanya sekadar datang dan melihat-lihat saja tetapi, bisa juga mengikuti kegiatan yang diselenggarakan di sana. Begitu juga dengan Museum Gedong Arca atau Museum Sarkofagus yang semakin berbenah.
Tata pamer koleksi terasa lebih hidup dengan pencahayaan yang cukup baik dari luar. Vitrin yang digunakan pun bukan seperti lemari tua yang berdebu, tetapi dengan lemari yang menyesuaikan peletakan koleksi dan didukung oleh baris-baris informasi tentang koleksi tersebut.
Bukan hanya tampilannya saja, Museum Gedong Arca menyelenggarakan aktivitas edukatif yang dikemas dengan ceria. Anak-anak dikenalkan kepada museum dengan cara mewarnai, bermain, dan berkeliling melihat koleksi. Suatu cara yang terasa dekat untuk mengenalkan peninggalan leluhur sejak dini.
Museum Gedong Arca menunjukan bahwa peninggalan leluhur bukan hanya sekadar tempat sunyi berisi benda-benda kuno. Transformasi yang dilakukan adalah jalan untuk semakin mendekatkan diri kepada masyarakat luas sebagai pemilik sesungguhnya artefak-artefak tersebut.
(nor/nor)










































