Museum Yadnya di Desa Mengwi, Badung, memiliki rumah percontohan adat Bali. Rumah ini menampilkan aspek-aspek tradisional yang mulai asing bagi anak-anak yang kini lebih banyak hidup di perkotaan.
Kepala Unit Pelaksana Tugas (UPTD) Museum Yadnya Badung, Ni Made Setianingsih, mengatakan rumah percontohan adat Bali di Museum Yadnya itu kini menjadi pusat edukasi penting bagi generasi muda Bali, terutama yang tinggal di kawasan perumahan modern.
"Untuk rumah adat ini sangat dibutuhkan, terutama anak-anak zaman sekarang yang mungkin secara langsung jarang melihat karena ada yang sudah hidup perkotaan, tinggal di perumahan, jadi lebih mengenal beberapa rumah adat yang ada di Bali, seperti itu," kata Setianingsih beberapa waktu lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Setianingsih, percontohan rumah adat Bali ini perlu dipertahankan sebagai sarana belajar. "Jadi lebih dikenali lagi biar budaya kita kental. Anak-anak mau belajar, mau mengetahui karena tidak semua anak-anak bisa langsung melihat di rumahnya sendiri," katanya.
Rumah adat ini dibangun sesuai dengan konsep Asta Kosala Kosali yang mencakup berbagai komponen, seperti bale daja, bale loji, bale adat, jineng hingga dapur tradisional. Perbedaan signifikan terletak pada dapur yang masih menggunakan kayu bakar, berbeda dengan dapur modern yang kini umum di perkotaan.
"Kami mengenalkan apa yang namanya jedeng, apa namanya kukusan, seperti ini. Mungkin dapur-dapur yang modern sudah banyak diketahui oleh anak-anak, namun dapur-dapur yang memakai kayu bakar itu masih harus dikenalin juga," jelas Setianingsih.
Lokasi ini telah menjadi sasaran kunjungan berbagai institusi pendidikan, mulai dari tingkat sekolah menengah pertama (SMP), sekolah menengah atas (SMA) hingga universitas untuk keperluan studi dan penelitian, terutama mahasiswa dari beberapa kampus negeri di Singaraja maupun Denpasar.
"Anak-anak kalau tingkat SMP ataupun SMA itu bahkan ada hasil tulisannya kalau mereka nanya terutama di rumah adat ini. Bahkan, ada beberapa universitas yang mungkin berkaitan dengan tata letak rumah adat, itu ada beberapa yang sudah penelitian di sini," ungkap Setianingsih.
Tak hanya siswa dan mahasiswa lokal, wisatawan mancanegara pun menunjukkan ketertarikan tinggi terhadap rumah adat ini dan koleksi museum yang berkaitan dengan upacara atau yadnya. Bahkan, tercatat ada wisatawan asal India yang melakukan penelitian mendalam terkait upacara adat Bali.
"Kalau wisatawan ada. Dari India pernah penelitian. Kalau penelitian itu tentang upacara yang ada di Bali. Jadi, wisatawan-wisatawan sangat tertarik dengan kondisi rumah adat ini," ungkap Setianingsih.
Sebagai informasi, Museum Yadnya telah berdiri sejak 1979 dan sempat mengalami perbaikan besar pada 2008. Perbaikan Museum Yadnya secara keseluruhan dimulai pada 2024 yang digagas oleh mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Bintang Puspayoga.
Museum Yadnya saat ini beroperasi mengikuti jam kerja, yaitu Senin sampai Kamis pukul 08.00-16.00 Wita dan Jumat pukul 07.00-12.00 Wita. Pengelola berharap jam operasional ke depannya bisa diperluas hingga Sabtu dan Minggu.
Pengunjung tidak dikenakan biaya masuk untuk sementara waktu, baik itu wisatawan domestik, siswa, maupun internasional. Namun, Setianingsih berharap museum dapat mulai mengenakan retribusi setelah renovasi.
(hsa/hsa)










































