Gempa dahsyat yang mengguncang Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), tak hanya merenggut korban jiwa. Sejumlah bangunan seperti fasilitas kesehatan hingga tempat ibadah juga rusak akibat gempa bumi magnitudo 7,7 tersebut.
Stasi Santa Maria Imaculata Lengkosambi, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, misalnya. Bangunan gereja Katolik tersebut retak akibat gempa bumi dahsyat tersebut. Bahkan, patung Bunda Maria di gereja itu hancur dan sebagian sudut ruangannya nyaris roboh.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anggota BPD Lengkosambi Barat Felisianus Paser menjelaskan Stasi Santa Maria Imaculata Lengkosambi merupakan salah satu stasi bagi umat Katolik di Lengkosambi Raya, Paroki Bekek. Pria yang akrab disapa Felix itu membenarkan sejumlah bagian bangunan dan atap stasi tersebut rusak akibat gempa.
"Semoga pemerintah daerah, provinsi, pusat, maupun Kementerian Agama, bisa membenahinya dengan baik," ujar Felix saat ditemui di lokasi, Rabu (19/8/2026).
Saat misa pada Minggu (16/8), umat yang hadir ke gereja itu hanya sekitar 10 orang. Felix mengatakan warga masih panik dan ketakutan dengan gempa dahsyat tersebut. Terlebih, usia gereja tersebut sudah lebih dari 30 tahun.
"Ada umat yang tidak hadir karena takut, panik, dan trauma jangan sampai pas ibadah berlangsung, terjadi guncangan lagi," terang Felix.
Gedung Puskesmas Rusak
Kondisi Puskesmas Lengkosambi, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, NTT, rusak total akibat guncangan gempa bumi, Rabu (19/8/2026). (Foto: Yufengki Bria/detikBali) |
Gempa juga mengakibatkan Puskesmas Lengkosambi, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, NTT, rusak. Walhasil, pelayanan kesehatan hanya dapat dilakukan di luar gedung maupun di dalam tenda darurat.
"Pelayanan kesehatan kami sudah upayakan sejak hari pertama untuk dilakukan di luar gedung atau di dalam tenda darurat," ujar Kepala Puskesmas Lengkosambi, Fabianus Guwa, saat ditemui di lokasi, Rabu sore.
Fabianus menjelaskan kondisi ruangan instalasi gawat darurat (IGD) di Puskesmas itu hancur. Sedangkan, ruangan lainnya mengalami retak-retak pada bagian tembok hingga plafonnya ambruk.
"Bagian fondasi yang ada drainasenya juga jebol, termasuk di bagian belakangnya," jelas Fabianus.
Selain bangunan, peralatan medis seperti tempat tidur pasien, meja, obat-obatan, tabung oksigen, legulator, dan lainnya juga rusak akibat tertimpa material bangunan. Meski demikian, Fabianus menegaskan tak ada pasien di Puskesmas tersebut yang meninggal dunia maupun luka-luka akibat gempa.
Setelah kejadian, Fabianus berujar, pihaknya berupaya mengevakuasi peralatan medis yang masih layak lalu mendirikan tenda darurat menggunakan terpal di halaman Puskesmas. Hal itu bertujuan agar pelayanan kesehatan terhadap warga yang membutuhkan tetap berjalan.
Selain itu, mereka bersepakat untuk melakukan pelayanan kesehatan secara keliling di rumah-rumah warga maupun tenda pengungsian mandiri. Hingga saat ini, kondisi Puskesmas Lengkosambi sangat memprihatinkan dan membutuhkan penanganan sesegera mungkin.
"Ada beberapa pasien yang kami bantu sampai dengan sore ini. Kemudian pelayanan kesehatannya masih berjalan efektif," terang Fabianus.
Sebanyak 3.055 kali gempa susulan terjadi di wilayah Pulau Flores hingga pukul 17.00 WIB, Rabu (19/8/2026) sejak gempa dahsyat dengan magnitudo (M) 7,7 yang mengguncang pada Sabtu (15/8/2026). Diperkirakan, gempa susulan masih terus terjadi hingga maksimal empat minggu ke depan.
Adapun, korban tewas akibat gempa di NTT menyentuh 73 orang. Sementara total korban luka berat dan luka ringan sebanyak 931 orang.
Korban gempa itu tersebar di tujuh kabupaten di Flores. Korban jiwa terbanyak berada di wilayah Kabupaten Manggarai sebanyak 27 orang. Korban luka berat 32 orang dan luka ringan 104 orang. Sebagian besar korban tersebut masuk di wilayah Reo.
(iws/iws)
