detikBali

Trauma Warga Ngada Lihat Laut Tiba-tiba Surut Saat Gempa M 7,7

Terpopuler Koleksi Pilihan

Trauma Warga Ngada Lihat Laut Tiba-tiba Surut Saat Gempa M 7,7


Yufengki Bria - detikBali

Foto : Sejumlah ibu-ibu, pengungsi gempa bumi saat ditemui di sebuah tenda terpal di Desa Tadho, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, NTT, Rabu (19/8/2026). (Yufengki Bria/detikBali).
Foto: Sejumlah ibu-ibu, pengungsi gempa bumi saat ditemui di sebuah tenda terpal di Desa Tadho, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, NTT, Rabu (19/8/2026). (Yufengki Bria/detikBali)
Ngada -

Sejumlah ibu-ibu di Desa Tadho, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih merasa trauma dengan kejadian gempa bumi berkuatan 7,7 magnitudo. Rasa trauma itu membuat mereka takut beraktivitas di dalam rumahnya.

Salah satu warga, RT 01, Desa Tadho, Fatimah Indak (51), menuturkan saat kejadian, guncangan gempa bumi itu sangat kuat dirasakan yang disertai air laut langsung surut. Namun, tak berselang lama, air laut naik cukup tinggi, bergelombang dan disertai bunyi seperti hujan deras.

"Kayak air mendidih dari bawah," ujar Fatimah saat ditemui di sebuah tenda terpal di posko Desa Tadho 01, Rabu (19/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal itu membuat Fatimah dan keluarganya langsung kabur menyelamatkan diri ke atas bukit. Di sana, mereka melihat air laut sudah masuk ke persawahan, tetapi sesaat kemudian langsung surut total.

ADVERTISEMENT

"Batu-batu terlihat semua. Di situ kami lepas lelah baru kami kembali ke rumah untuk kemas pakaian dan berlari lagi ke gunung," tutur Fatimah.

"Sampai sekarang kami masih sangat trauma. Kami melihat kejadian air laut itu dengan bentuj seperti berputar-berputar," lanjut perempuan berjilbab biru itu.

Selain rasa trauma, Fatimah juga kehilangan rumahnya yang hancur akibat guncangan gempa. Kini, rumah itu tak lagi bisa dihuni. Setelah kejadian, hingga saat ini, Fatimah dan sejumlah warga lainnya masih takut pulang.

Di lain sisi, saat kejadian, Fatimah dan keluarganya tengah tidur nyenyak. Saat merasakan guncangan itu, Fatimah berupaya kabur. Namun, ia dihantam oleh sebuah balok rumahnya.

Beruntung, ia selamat dan tak ada luka serius. Fatimah kemudian berupaya kabur dengan menggendong keponakannya yang masih berumur dua bulan. Di tengah itu, dirinya nyaris tak bisa keluar rumah karena kondisi sangat gelap akibat listrik padam.

Bahkan mereka hampir terjebak karena tak bisa melihat pintu untuk keluar. Beruntung mereka bisa kelur dan meloloskan diri keluar. Saat di luar, mereka melihat air laut naik. Hal itu membuat mereka langsung kabur ke gunung.

"Alhamdulillah kami semua aman. Surat-surat penting juga aman," terang Fatimah.

Fatimah tak tahu persis jumlah warga yang mengungsi di Desa Tadho. Namun, saat ini, mereka sangat membutuhkan makanan, minuman, pakaian, kasur, selimut, sabun mandi, tenda yang layak, serta kebutuhan lainnya.

"Karena pakaian kami juga sudah tertimbun. Kami butuh tenda yang layak dan air bersih juga karena posisi kami saat ini seperti di hutan," kata Fatimah.

Setali tiga uang juga dirasakan oleh warga lainnya, Yuliana Ngguwing (50). Ia mengaku sangat panik dan masih trauma. Selain itu, saat kejadian, suami Yuliana sedang bersiap-siap untuk ke Pasar Danga dengan membawa hasil jualannya.

"Akhirnya suami saya batal ke pasar karena gempa. Jadi saat itu, kami sudah bangun dan saya langsung lompat lalu lari keluar," kata Yuliana.

Meski sering terjadi gempa susulan, Yuliana masih pergi pulang ke rumahnya untuk memberi makanan pada ternaknya. "Saya masih pergi pulang rumah karena mau kasih makan ternak," pungkas Yuliana.

Sebaga informasi, Desa Tadho merupakan salah satu satu desa yang terletak di pesisir pantai utara. Desa ini juga menghubungkan Kabupaten Sikka, Nagekeo, Ende, Manggarai Timur, dan Manggarai, dan Manggarai Barat. Desa tersebut juga berjarak hanya sekitar 50-100 meter dengan bibir pantai.



(hsa/iws)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan









Hide Ads