Apel Soe, buah legendaris yang pernah menjadi kebanggaan Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali muncul dari Desa Bijaepunu, Kecamatan Mollo Utara. Tanaman apel tersebut tumbuh dan berbuah di pekarangan rumah warga bernama Simon Oematan.
Kapolres TTS AKBP Kristiyan B Martino datang langsung melihat tanaman apel yang ditanam sekitar tiga tahun lalu itu. Dia ingin agar apel Soe tidak hanya menjadi cerita kejayaan masa lalu. Menurutnya, perlu kolaborasi untuk mengembangkan bibit dan mendorong masyarakat kembali membudidayakannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami ingin masyarakat Indonesia mengetahui bahwa dari tanah Timor pernah lahir apel Soe yang melegenda. Jangan sampai generasi mendatang hanya mengenalnya dari cerita. Mari kita teliti, kita kembangkan, dan jika memungkinkan, bersama-sama mengembalikan kejayaan apel Soe," ujar Kristiyan dalam keterangannya, Selasa (11/8/2026).
Diketahui, bibit apel tersebut diperoleh dari Desa Ajaobaki dan dikembangkan dengan teknik penempelan pada tanaman apel hutan. Dari sembilan pohon yang ditanam, satu pohon berhasil berbuah. Pada periode terakhir, pohon tersebut menghasilkan sekitar 40 buah apel.
Kristiyan pun sempat memetik dan mencicipi apel legendaris tersebut. Saat dia berkunjung ke rumah warga tersebut, masih tersisa tujuh buah di pohon apel itu.
Pemilik tanaman mengungkapkan pohon apel tersebut tumbuh dan berbuah tanpa diberikan pupuk. Apel Soe memiliki rasa yang sangat manis, sehingga berpotensi untuk diteliti dan dikembangkan lebih lanjut.
"Saya memetik dan mencobanya langsung dari pohon. Rasanya sangat manis. Yang lebih menarik, menurut pemiliknya tanaman ini dapat tumbuh dan berbuah tanpa diberikan pupuk," kata Kristiyan.
"Tentu satu pohon belum dapat menjadi kesimpulan ilmiah, tetapi fakta ini cukup menarik untuk menjadi titik awal penelitian lebih serius," imbuhnya.
Apel Soe memiliki sejarah panjang di TTS. Menurut catatan Suluh Desa NTT (2021), apel Soe dikenal luas pada era 1970-an hingga akhir 1980-an. Pada periode tersebut, Pasar Kapan menjadi salah satu pusat perdagangan apel Soe.
Memasuki awal 1990-an, kejayaan buah apel tersebut mulai meredup. Hingga pada era 2000-an tanaman apel ini semakin sulit ditemukan.
Bagi Kristiyan, tumbuhnya tanaman apel Soe di rumah warga Desa Bijaepunu perlu mendapat perhatian dari berbagai pihak. Menurutnya, diperlukan riset untuk mengidentifikasi varietas, karakter genetik, kesesuaian tanah dan iklim, teknik pembibitan, karakteristik buah, serta potensi pengembangan apel Soe dalam skala yang lebih luas.
"Ini adalah potensi daerah yang harus kita dukung. Saya berharap pemerintah daerah maupun pemerintah pusat, lembaga penelitian, perguruan tinggi dan para ahli dapat melihat potensi ini, melakukan riset serta membantu pengembangannya," pungkasnya.
(iws/iws)