Anak perempuan yang dinikahkan dini oleh orang tuanya di Kecamatan Sekotong, Lombok Barat, berkeinginan untuk melanjutkan pendidikannya. Saat ini, anak tersebut masih tercatat sebagai siswi kelas 2 Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Kepala Dinas Sosial, Perlindungan Perempuan dan Anak (Dinsos PPA) Lombok Barat, Arief Suryawirawan, mengatakan pihaknya telah turun langsung meninjau kondisi anak tersebut pada Jumat (19/6/2026).
"Kemarin kami sudah turun pas hari Jumat. Kami minta yang penting anak ini jangan sampai putus sekolah. Dan dia mau sekolah lagi," ungkapnya, Selasa (23/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Arief mengungkapkan anak tersebut saat ini dalam keadaan baik dan belum memerlukan pendampingan psikologis.
Meski demikian, Dinsos PPA tetap akan melakukan pemantauan dan asesmen untuk memastikan kondisi psikologis anak tersebut tetap dalam kondisi baik.
"Baik-baik saja sementara ini. Nanti kalau memang mengkhawatirkan, kami akan bawa psikolog ke sana. Nanti hasil asesmennya kita lihat lagi bagaimana," tuturnya.
Arief meminta masyarakat sebaiknya tidak memberikan stigma buruk atau menghakimi anak tersebut karena pernikahan dini yang dialaminya bukan atas keinginan sendiri.
"Ya karena ini kan dia dipaksa kawin oleh orang tuanya. Padahal tidak ngapa-ngapain. Hanya karena baru pulang terus rambutnya acak-acakan, padahal bisa saja karena tidak pakai helm," katanya.
Di sisi lain, ia menegaskan pihaknya tidak dapat berbuat banyak terkait status pernikahan yang sudah telanjur berlangsung. Dinsos PPA, kata dia, akan terus melakukan pendampingan agar anak tersebut tidak putus sekolah.
"Karena kami tidak tahu, ini sudah kejadian baru dia viral. Kami kan mau membuat orang cerai, tidak mungkin. Kalau mencegah iya, tapi kalau memisahkan orang, kan tidak bisa. Kami akan turun pantau lagi," pungkasnya.
Sebelumnya, video seorang ayah di Kecamatan Sekotong membakar ijazah hingga seragam sekolah anaknya viral di media sosial. Aksi itu dipicu kekecewaan orang tua karena anak perempuannya yang masih duduk di bangku kelas 2 SMP menikah di usia dini.
Dalam video yang beredar, pria tersebut tampak membakar berbagai barang pribadi milik anaknya. Barang yang dibakar mulai dari ijazah Sekolah Dasar (SD), seragam sekolah, buku tulis, hingga sepatu.
Sambil merekam kobaran api yang melahap barang-barang itu, pria tersebut mengungkapkan rasa kecewa karena merasa gagal mendidik anaknya.
"Rasa kekecewaan orang tua gagal mendidik anak. Semoga tidak dialami sama teman-teman yang punya anak cewek masih sekolah. Cukup saya saja yang merasakannya," ucap pria dalam video tersebut, dilihat detikBali, Rabu (17/6/2026).
Kepala desa setempat membenarkan adanya peristiwa tersebut. Ia menyebut aksi pembakaran itu dilakukan sebagai bentuk pelampiasan kekecewaan orang tua.
"Iya benar (ada kejadian tersebut), Lebih ke rasa kecewa dia," katanya saat dikonfirmasi via WhatsApp.
Ia menjelaskan, peristiwa bermula ketika anak perempuan itu tidak kunjung pulang hingga pukul 21.00 Wita bersama pacarnya.
Karena mengacu pada adat Lombok dan tidak terima anaknya berada di luar rumah hingga malam, ayah tersebut kemudian membawa pulang anaknya. Setelah itu, ia menyerahkan anaknya ke rumah orang tua sang pacar untuk dinikahkan.
(hsa/hsa)