detikBali
Round Up

Langkah Pemkab Lombok Barat Tangani Ortu Bakar Ijazah karena Anak Nikah Dini

Terpopuler Koleksi Pilihan
Round Up

Langkah Pemkab Lombok Barat Tangani Ortu Bakar Ijazah karena Anak Nikah Dini


Tim detikBali - detikBali

Tangkapan layar video orang tua bakar ijazah SD hingga seragam sekolah anak di Kecamatan Sekotong, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Foto: Tangkapan layar video orang tua bakar ijazah SD hingga seragam sekolah anak di Kecamatan Sekotong, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB). (Dok. Istimewa)
Lombok Barat -

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Barat turun tangan menangani insiden orang tua (ortu) yang membakar ijazah anaknya di Kecamatan Sekotong. Pembakaran ijazah hingga seragam itu dilakukan karena ortu kecewa anaknya yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP) menikah dini.

Dinas Sosial, Perlindungan Perempuan, dan Anak (Dinsos PPA) Lombok Barat telah menyambangi orang tua yang membakar ijazah anaknya itu. Kunjungan dilakukan untuk memastikan anak tersebut tidak putus sekolah meski telah berstatus menikah.

Ijazah Akan Diterbitkan Ulang

Dinsos PPA Lombok Barat juga akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Lombok Barat untuk membantu menerbitkan kembali ijazah dan rapor yang telah terbakar agar anak tersebut dapat melanjutkan pendidikannya.

"Kami meminta anak itu terus melanjutkan sekolahnya. Nanti ijazah segala macam akan kita bantu ke Dikbud untuk dibuatkan ulang," kata Kepala Dinsos PPA Lombok Barat, Arief Suryawiryawan, Kamis (18/6/2026).

Menurut Arief, permintaan agar anak tersebut kembali bersekolah diterima secara terbuka oleh orang tuanya. Dinsos PPA Lombok Barat berencana kembali turun menemui sang anak secara langsung pada Jumat (19/6/2026) untuk memberikan pendampingan agar semangatnya bersekolah kembali tumbuh.

"Kami nggak ketemu anaknya, hanya orang tuanya. Besok anak ini coba kami dampingi, nanti kalau butuh pendampingan psikolog kami siapkan," ujar Arief.

Pernikahan Kehendak Ortu

Arief mengungkapkan pernikahan dini tersebut terjadi atas kehendak orang tua yang kecewa melihat anaknya pulang malam bersama pacarnya. Menurutnya, kekecewaan sang ayah memuncak setelah melihat anaknya pulang ke rumah dengan kondisi rambut acak-acakan.

"Memang bapaknya ini yang kukuh. Karena kecewa pulang malam rambut anaknya acak-acakan. Namanya naik motor ga pake helm," terang Arif.

Viral di Medsos

Sebelumnya, video ayah di Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), membakar ijazah hingga seragam sekolah anaknya viral di media sosial. Aksi itu dipicu kekecewaan orang tua karena anak perempuannya yang masih duduk di bangku kelas 2 SMP menikah di usia dini.

Video yang beredar memperlihatkan pria tersebut tampak membakar berbagai barang pribadi milik anaknya. Barang yang dibakar mulai dari ijazah sekolah dasar (SD), seragam sekolah, buku tulis hingga sepatu.

Sambil merekam kobaran api yang melahap barang-barang itu, pria tersebut mengungkapkan rasa kecewa karena merasa gagal mendidik anaknya.

"Rasa kekecewaan orang tua gagal mendidik anak. Semoga tidak dialami sama teman-teman yang punya anak cewek masih sekolah. Cukup saya saja yang merasakannya," ucap pria dalam video tersebut, dilihat detikBali, Rabu (17/6/2026).

Alasan Dinikahkan

Kepala desa setempat membenarkan adanya peristiwa tersebut. Ia menyebut aksi pembakaran itu dilakukan sebagai bentuk pelampiasan kekecewaan orang tua.

"Iya benar (ada kejadian tersebut), Lebih ke rasa kecewa dia," katanya saat dikonfirmasi via Whatsapp.

Ia menjelaskan peristiwa bermula ketika anak perempuan itu tidak kunjung pulang hingga pukul 21.00 Wita bersama pacarnya.

Karena mengacu pada adat Lombok dan tidak terima anaknya berada di luar rumah hingga malam, ayah tersebut kemudian membawa pulang anaknya. Setelah itu, ia menyerahkan anaknya ke rumah orang tua sang pacar untuk dinikahkan.

"Menurut kadusnya, itu baru jam 9, nggak diterima oleh orang tua si cewek. Akhirnya dibawa pulang, lalu diserahkan ke pihak laki-laki. Biasalah adat Lombok, kalau kemalaman dinikahin," tuturnya.

Kepala desa tersebut mengaku pihaknya sudah berupaya mencegah pernikahan itu agar tidak terjadi. Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil.

"Sudah terlaksana. Tetapi tetap kita lakukan upaya pencegahan, malah dari dahulu kita sosialisasi di semua dusun," ujarnya.

Nikah Bukan karena Hamil

Ia juga membantah kabar yang menyebut pernikahan itu terjadi karena kehamilan di luar nikah. Menurutnya, informasi tersebut tidak benar.

"Kalau hamil duluan, ini memang tidak ada sumber saya dengar. Enggak ada. Dan menurut orang tuanya si cowo, tadi saya konfirmasi, dia baru kenal seminggu gimana mau hamil. Kalau saya pikir, ini murni menikah dini," jelasnya.



(hsa/hsa)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan










Hide Ads