detikBali
Nusra Sepekan

Geger Benda Mirip Torpedo hingga Dampak Besar Gempa Dangkal Flores Timur

Terpopuler Koleksi Pilihan
Nusra Sepekan

Geger Benda Mirip Torpedo hingga Dampak Besar Gempa Dangkal Flores Timur


Tim detikBali - detikBali

Benda menyerupai torpedo diamankan di Mako  Lanal Mataram, Rabu (8/4/2026). (Foto: Abdurrasyid Efendi/detikBali).
Foto: Benda mirip torpedo yang ditemukan di perairan Gili Trawangan. (Dok. Abdurrasyid Efendi/detikBali)
Mataram -

Ada sejumlah kabar dari Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT) terpopuler selama sepekan terakhir. Salah satunya, penemuan benda asing oleh nelayan di perairan Gili Trawangan, Lombok Utara, NTB. Benda tersebut mirip dengan torpedo.

Kemudian, penutupan sebanyak 41 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di NTB. Puluhan dapur MBG itu ditutup lantaran belum memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) dan Instalasi Pembuangan Air Limbah (IPAL).

Dari NTT, gempa dengan magnitudo (M) 4,7 mengguncang Flores Timur. Dampaknya, ratusan bangunan rusak dan lebih dari seribu warga mengungsi. Gempa tersebut berdampak besar karena pusat gempa dangkal.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berikut rangkuman berita terpopuler selama sepekan terakhir dalam rubrik Nusa Sepekan di detikBali.

ADVERTISEMENT

Geger Benda Mirip Torpedo

Benda asing menyerupai torpedo yang ditemukan di Perairan Gili Trawangan, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki berat mencapai 2 ton. Danlanal Mataram, Kolonel Laut (P) Asep Tri Prabowo, mengatakan berat benda asing itu diketahui berdasarkan angka yang terlihat pada benda tersebut.

"Kalau tertulis itu sekitar 2.000 kg (2 ton). Namun riilnya kita masih belum bisa memastikan," kata Asep, Rabu (8/4/2026).

Benda itu panjangnya sekitar 3,7 meter dengan diameter 65 sentimeter. Asep belum bisa memastikan asal usul benda itu, meskipun terdapat ada bahasa Mandarin di bagaian badan benda tersebut.

Yang jelas, menurutnya, benda itu ditemukan sekitar 10 mil di sebelah utara Gili Trawangan, pada Senin (6/4/2026). "Kondisi saat ditemukan mengapung. Ditemukan seorang nelayan bernama Arianto," sebutnya.

Fungsi alat itu belum diketahui. Menurutnya, benda tersebut tidak memiliki kamera jika dilihat secara kasat mata. "Secara kasat mata, dari luar tidak ada (kamera). Kita tidak membedah lebih dalam," ungkapnya.

Benda itu saat ini masih diamankan di Markas Komando (Mako) Lanal (Pangkalan Angkatan Laut) Mataram. Hasil pemeriksaan, benda itu bukan bom atau bahan peledak.

"Hasil pemeriksaan awal oleh Tim Gegana Polda NTB, memastikan objek atau benda asing ini tidak memiliki atau tidak mengandung bahan peledak atau radioaktif," katanya.

Sebelumnya, Kabid Humas Polda NTB, Kombes Mohammad Kholid, menyebut benda menyerupai torpedo itu merupakan alat pengukur arus air laut.

"Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa benda tersebut bukan bom atau bahan peledak maupun radioaktif. Itu merupakan alat pengukur arus air laut di kedalaman tertentu," kata Kholid, Selasa (7/4/2026).

Dikatakan, alat tersebut umumnya digunakan untuk kepentingan penelitian atau pemantauan kondisi laut. "Biasanya dipasang pada pelampung atau di dasar laut," sebutnya.

BGN Tutup 41 SPPG di NTB

Badan Gizi Nasional (BGN) kembali menghentikan operasional 41 SPPG di NTB. Penutupan puluhan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) itu terbanyak berada di wilayah Lombok Timur dan Lombok Barat.

Ketua Satgas MBG NTB, Fathul Gani, membenarkan pemberhentian operasional sementara 41 SPPG tersebut. Menurut Fathul, puluhan dapur MBG itu ditutup lantaran belum memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) dan Instalasi Pembuangan Air Limbah (IPAL).

"Mempertimbangkan risiko yang dapat ditimbulkan terhadap kualitas produksi, mutu gizi, dan keamanan pangan, maka BGN memutuskan menutup sementara operasional SPPG," ujar Fathul, Selasa (7/4/2026).

Penutupan puluhan SPPG di NTB itu tertuang dalam surat BGN bernomor 1359/D.TWS/04/2026. Penghentian operasional ini menambah daftar dapur MBG di NTB yang ditutup sementara.

Sebelumnya, BGN juga telah menyetop operasional 302 SPPG dengan persoalan serupa. Meski begitu, BGN telah memberikan izin operasional kembali terhadap 28 dapur MBG yang sempat ditutup tersebut pada Senin (6/4).

Fathul menerangkan BGN telah memperingatkan agar seluruh SPPG melengkapi SLHS dan IPAL. Namun, peringatan itu tidak diindahkan hingga akhirnya BGN menutup sementara puluhan SPPG tersebut.

Koordinator Wilayah (Korwil) BGN NTB, Eko Prasetyo, mejelaskan penutupan 41 SPPG di NTB merupakan tindak lanjut atas laporan masyarakat. Menurutnya, tim BGN juga telah melakukan verifikasi di lapangan.

"Betul, itu kita identifikasi lanjutan atas laporan masyarakat dan kami minta rekan-rekan di wilayah untuk validasi kembali. Mayoritas karena IPAL," ujar Eko.

Ia mengeklaim penghentian sementara ini merupakan bagian dari upaya memperbaiki pelaksanaan program MBG. Terutama terkait pemenuhan standar sanitasi dan pengelolaan limbah.

"Kita harus melihat hal ini dari sisi yang lebih luas. Bahwa komitmen perbaikan harus dilakukan secara berkelanjutan, termasuk pemenuhan SLHS dan perbaikan IPAL yang sudah ditetapkan oleh BGN," imbuhnya.

Menurut Eko, indikator kepatuhan SPPG nantinya tidak hanya dilihat dari SLHS dan IPAL. Melainkan juga mencakup standar lain seperti good manufacturing practices (GMP), keamanan pangan, serta aspek keberlanjutan lingkungan.

"Sekarang mungkin fokus indikator kepatuhan pada SLHS dan IPAL. Namun, ke depan bisa ada indikator penting lain yang harus dipatuhi," imbuhnya.

Adapun lokasi 41 SPPG yang ditutup sementara itu tersebar di beberapa wilayah di NTB. Mulai dari Kabupaten Bima sebanyak 8 unit, Kota Bima (7), Dompu (2), Lombok Barat (9), Lombok Tengah (6), dan Lombok Timur (9).

Gempa di Flores Timur

Gempa dangkal dengan magnitudo (M) 4,7 yang mengguncang Flores Timur, pada Rabu (8/4/2026) malam telah merusak 257 rumah. Sebanyak 1.313 warga dari delapan desa di dua kecamatan harus mengungsi. Sebanyak 18 orang terluka akibat bencana tersebut. Hingga Sabtu, tercatat ada 106 gempa susulan.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Flores Timur, Ita Tukan, memerinci, korban gempa terbanyak berasal dari Desa Terong sebanyak 621 orang. Kemudian, Desa Lamahala Jaya (544 orang), Waiwerang Kota (18), Karing Lamalouk (4), Dawa Ta'a (31), Ipi Ebang (8), Motong Wutun (55), dan Watobuku (32).

Ita mengatakan seribu lebih warga yang mengungsi itu membutuhkan sejumlah keperluan dasar, seperti air bersih dan bahan pokok makanan (sembako).

"Warga membutuhkan sembako, air bersih, perlengkapan mandi dan cuci, terpal, perlengkapan bayi balita, kursi roda, kasur lipat dan diapers dewasa," imbuhnya.

Ita mengungkapkan BPBD Flores Timur telah menyalurkan 200 kasur lipat, 200 tikar atau matras, 400 selimut, enam terpal, 200 karung beras, hiegen kit (perlengkapan dasar kebersihan) 200 pcs, dua tenda pengungsian, 12 tenda keluarga 12 unit, dan empat senter.

Sementara itu, Camat Solor Timur, Moh Natsir Hasan mengatakan gempa susulan terus terjadi hampir 10 menit sekali. "Perkembangan sementara bahwa sejak dari Maghrib sampai dengan saat ini gempa masih sering terjadi hampir setiap 10 menit terjadi," ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, ratusan rumah rusak akibat gempa bumi M 4,7 yang terjadi di Kabupaten Flores Timur sejak Rabu malam hingga Kamis pagi (9/4/2026). Getaran keras juga terasa di wilayah-wilayah sekitarnya. Dampak gempa cukup besar lantaran pusat gempa berada di darat, sekitar 19 kilometer di timur/tenggara Larantuka. Gempa dengan kedalaman sangat dangkal, 3 sampai 5 kilometer (km) ini dipicu sesar aktif.




(hsa/hsa)











Hide Ads