detikBali

Warga Mataram Berburu Janur Ketupat Jelang Lebaran Topat

Terpopuler Koleksi Pilihan

Warga Mataram Berburu Janur Ketupat Jelang Lebaran Topat


Sui Suadnyana, Nathea Citra - detikBali

Pedagang ketupat di Pasar Dasan Agung, Mataram, Kamis (26/3/2026). (Nathea Citra/detikBali)
Foto: Pedagang ketupat di Pasar Dasan Agung, Mataram, Kamis (26/3/2026). (Nathea Citra/detikBali)
Mataram -

Pedagang ketupat musiman mulai menjamur di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Ada yang berjualan di pasar tradisional, ada pula yang berdagang di pinggir jalan protokol. Warga Mataram pun ramai-ramai menyerbu pedagang ketupat musiman tersebut untuk memeriahkan Lebaran Topat, Sabtu (28/3/2026).

"Sejak kemarin sudah mulai ramai pedagang ketupat ini. Ada yang jualan ketupat kosongan yang sudah jadi atau biasa kita sebut busung. Tetapi, ada juga yang jual dalam bentuk belum dibentuk alias polosan," kata Sherli, salah satu warga, saat diwawancarai detikBali di Pasar Dasan Agung, Mataram, Kamis (26/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sherly membeli busung ketupat lebih banyak dari biasanya, yakni 8 ikat ketupat yang sudah berbentuk.

Sherly membeli delapan ikat busung ketupat. Jumlah ini lebih banyak dari biasanya karena bakal ada rombongan keluarganya datang ke Mataram.

ADVERTISEMENT

"Daripada capek buat ketupat, saya beli yang sudah berbentuk saja daripada ribet. Lumayanlah harganya murah, satu ikat busung sudah berbentuk dihargai Rp 7 ribu per ikat, kalau polosan Rp 5 ribu per ikat," terang Sherly.

Senada dengan Sherly, Amira, warga Mataram, juga lebih memilih membeli ketupat kosongan yang sudah berbentuk dalam jumlah besar.

"Sebenarnya saya nggak bisa buat ketupat. Daripada lama jadinya, saya beli ketupat yang sudah jadi saja di pasar. Harganya nggak mahal kok, di bawah Rp 10 ribu sudah dapat. Tadi saya beli 5 ikat dapat harga Rp 35 ribu. Jadi satu ikat itu sudah dapat 8 ketupat," tuturnya.

Inaq Ore, salah seorang pedagang ketupat musiman, mengaku kebanjiran rezeki jelang Lebaran Topat. Ia bisa mendapatkan keuntungan Rp 300 ribu hingga Rp 400 ribu dalam sehari dari berjualan ketupat.

"Kalau hari biasanya bisa dapat Rp 100 ribu. Tetapi kalau sudah mau dekat Lebaran Idul Fitri atau Lebaran Topat bisa dua kali lipat bahkan lebih kita dapat. Alhamdulillah rezeki," ucap Inaq.

"Rata-rata pembeli cari ketupat yang sudah berbentuk, jadi nanti mereka tinggal masukin beras, lalu dimasak. Jarang ada yang beli polosan, mungkin biar cepat dan nggak repot," imbuh Inaq.

Diketahui, Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram bakal memusatkan Lebaran Topat di dua titik, yakni di Taman Loag Baloq, Sekarbela, dan Makam Bintaro, Ampenan. Kegiatan ini bakal dilaksanakan pada hari ketujuh bulan Syawal atau seminggu setelah Idulfitri.

Sebagai informasi, pada perayaan Lebaran Topat akan diawali iringan lagu tradisional Sasak hingga tarian khas Lombok, serta shalawat nabi. Puncak perayaan Lebaran Topat biasa disebut dengan 'Ketupat Agung' atau yang biasa dikenal dengan tradisi memperebutkan ketupat raksasa.

Seluruh masyarakat yang hadir di perayaan akan berlomba-lomba mendapatkan ketupat berbagai ukuran, mulai dari ketupat ukuran kecil hingga ketupat ukuran jumbo. Ketupat hasil rebutan warga di perayaan Lebaran Topat itu akan dimakan secara beramai-ramai atau dikenal dengan istilah 'begibung'. Ketupat itu akan disantap masyarakat bersama menu khas Lombok, antara lain opor ayam, opor telur, ayam pelalah, sate bulayak hingga sayur urap.




(iws/iws)










Hide Ads
LIVE