Gelar Ritual Adat, Warga Flotim Potong-Bagikan Bangkai Paus Sperma

Djemi Amnifu - detikBali
Selasa, 10 Mei 2022 13:33 WIB
Bangkai Paus sperma yang terdampar di Pantai Dusun Riangkaha, Desa Riangrita, Kecamatan Ilebura, Kabupaten Flores Timur, menjadi tontonan warga sebelum dipotong-potong dan dibagi-bagi kepada warga setempat, Senin (9/5/2022).
Bangkai Paus sperma yang terdampar di Pantai Dusun Riangkaha, Desa Riangrita, Kecamatan Ilebura, Kabupaten Flores Timur, menjadi tontonan warga sebelum dipotong-potong dan dibagi-bagi kepada warga setempat, Senin (9/5/2022). Foto: ist
Flores Timur -

Satuan Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (Satwas SDKP) Flores Timur melakukan penanganan Paus Sperma terdampar di Pantai Dusun Riangkaha, Desa Riangrita, Kecamatan Ilebura, Kabupaten Flores Timur (Flotim), NTT, Senin (9/5/2022).

"Instansi yang terlibat adalah Satwas SDKP Flotim, LSM Misool Baseftin dan Pemerintah Desa Riangrita," kata Kepala Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang, Im Fauzi kepada detikBali, Selasa (10/5/2022).

Menurut Im Fauzi, kondisi Paus Sperma berjenis kelamin betina itu terdampar dan sudah mati. Dengan panjang 10 meter, lebar 1,8 meter, panjang sirip dada 90 cm, lingkar kepala 4 meter, lingkar perut 5,5 meter, panjang ekor 1,5 meter, dan lebar ekor 2,36 meter.


Dengan banyaknya luka di tubuh paus, diduga kematiannya karena tergores karang dan gigitan hewan laut.

Selanjutnya, masyarakat dusun Riangkaha membuat prosesi adat yang dipimpin oleh Lembaga Adat suku Kedang dan suku Temu untuk dilakukan pemotongan dan dibagi-bagi kepada warga

Diakhir acara prosesi adat kata Im Fauzi, melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai aturan perlindungan satwa (jenis ikan) yang dilindungi dan resiko pengkonsumsian mega fauna laut.

"Kalau secara aturan apa yang dilakukan masyarakat di Flores Timur tidak diperbolehkan. Tapi kadang kalau sudah bicara adat, ini yang jadi sulit," jelas Im Fauzi.

Im Fauzi memberi contoh perburuan Paus di Lamalera Kabupaten Lembata yang tetap dilakukan oleh warga setempat karena sesuai adat di NTT.

" Pelan-pelan kita berikan pemahaman yang benar terkait biota laut dilindungi agar ke depan tidak terjadi lagi," ujarnya.



Simak Video "Melihat Gereja-Masjid di Kupang, Saling Berbagi Lahan Parkiran"
[Gambas:Video 20detik]
(kws/kws)