detikBali

Tarian Sakral hingga Baleganjur Meriahkan Parade Seni Budaya Desa Adat Bedha

Terpopuler Koleksi Pilihan

Tarian Sakral hingga Baleganjur Meriahkan Parade Seni Budaya Desa Adat Bedha


Sui Suadnyana, Krisna Pradipta - detikBali

Pertunjukan parade seni budaya Desa Adat Bedha, Tabanan, Sabtu (11/7/2026). (Krisna Pradipta/detikBali)
Foto: Pertunjukan parade seni budaya Desa Adat Bedha, Tabanan, Sabtu (11/7/2026). (Krisna Pradipta/detikBali)
Tabanan -

Parade seni budaya kembali digelar sebagai rangkaian Hari Ulang Tahun (HUT) Lembaga Perkreditan Desa (LPD) Adat Bedha ke-34. Mengusung tema Nangun Kerthi Jagat Bali, kegiatan ini menjadi wadah untuk memperkuat keharmonisan masyarakat melalui konsep Tri Hita Karana, sekaligus melestarikan seni, adat, dan budaya Bali.

Adapun seni budaya yang ditampilkan adalah tarian-tarian sakral, seperti Tari Gambang, Tari Baris Kerkuak, dan Tari Baris Dabdab. Kemudian, ada parade baleganjur, gong kebyar, parade ogoh-ogoh hingga parade penjor yang pesertanya 38 banjar adat di Desa Adat Bedha. Parade sendiri berlangsung selama tiga hari mulai Jumat (10/7/2026) hingga Minggu (12/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bendesa Adat Bedha, I Nyoman Arnaya, mengatakan parade seni budaya tersebut tidak hanya menjadi ajang pertunjukan kesenian, tetapi juga sarana mempererat hubungan antarmasyarakat di Desa Adat Bedha.

Menurut Arnaya, tidak mudah mempertemukan seluruh banjar adat dalam satu kegiatan. Melalui parade seni budaya, setiap banjar memiliki kesempatan menampilkan kekayaan seni dan tradisi masing-masing sehingga dapat saling mengenal dan memperkuat rasa persaudaraan.

ADVERTISEMENT

"Melalui parade seni budaya ini kami ingin memantapkan harmonisasi antarmanusia sebagaimana konsep Tri Hita Karana. Seluruh banjar adat dapat berkumpul, saling mengenal, dan menunjukkan kekayaan seni budayanya," ujar Arnaya saat ditemui di sela-sela kegiatan, Sabtu (11/7/2026).

Parade budaya ini, tutur Arnaya, diselenggarakan setiap lima tahun sekali dan menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT LPD Desa Adat Bedha. Menurutnya, keberadaan LPD bukan hanya berperan sebagai lembaga keuangan desa adat, tetapi juga memiliki tanggung jawab dalam menjaga dan melestarikan budaya.

Seluruh pembiayaan parade budaya ditanggung oleh LPD sebagai bentuk komitmen mendukung pelestarian adat sekaligus memperkenalkan peran LPD yang tidak hanya membangun perekonomian masyarakat, tetapi juga menjaga identitas budaya Bali.

Selain pertunjukan seni, kegiatan tersebut juga melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal. Arnaya mengatakan keterlibatan UMKM menjadi kesempatan untuk memperkenalkan berbagai produk unggulan desa kepada masyarakat luas. Salah satunya adalah kerajinan pembuatan keris dari Banjar Langudu, Desa Pangkung Tibah.

Arnaya berharap kegiatan ini mampu menggerakkan roda perekonomian masyarakat, setidaknya di tingkat desa adat, melalui meningkatnya aktivitas perdagangan dan kunjungan masyarakat selama penyelenggaraan acara.

"Kami menekankan keterlibatan generasi muda dalam setiap kegiatan adat dan budaya. Keberlanjutan budaya Bali sangat bergantung pada partisipasi generasi penerus. Kita boleh bangga dengan kemajuan teknologi, tetapi kita tidak boleh melupakan budaya," tegas Arnaya.

Ketua LPD Adat Bedha, I Made Sunarta, mengatakan HUT ke-34 mengusung tema "Bedha Bersatu Bersama Menuju Masyarakat Mandiri". Adapun rangkaian kegiatan telah berlangsung sejak Januari 2026 seperti penyaluran 500 paket sembako kepada masyarakat kurang mampu.

"Selain itu kami juta memberikan penghargaan kepada sejumlah tokoh masyarakat atas dedikasinya dalam membangun Desa Adat Bedha," jelas Sunarta.



(iws/iws)









Hide Ads