Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi NTB pada triwulan I 2026 tumbuh sebesar 13,64 persen. Kondisi ini didorong penguatan ekspor dan kinerja industri pengolahan.
"Pertanian, pertambangan dan perdagangan merupakan tiga sektor dengan share terbesar terhadap perekonomian NTB. Dan tiga lapangan pertumbuhan tertinggi ialah industri pengolahan, pertambangan dan jasa keuangan," kata Kepala BPS NTB Wahyudin, Selasa (5/5/2026).
"Pertumbuhan tinggi pada industri pengolahan karena smelter yang sudah mulai beroperasi. Secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi triwulan I 2026 ditopang oleh menguatnya industri pengolahan dan kembali meningkatnya aktivitas pertambangan," imbuhnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lapangan usaha yang mengalami pertumbuhan signifikan pada triwulan I 2026 antara lain industri pengolahan sebesar 60,25 persen, disusul pertambangan dan penggalian (31,80 persen), jasa keuangan (13,48 persen), penyediaan akomodasi dan makan minum (10,84 persen), serta pertanian (10,31 persen).
Perdagangan besar dan eceran juga tumbuh 9,91 persen, diikuti pengadaan air (8,39 persen), transportasi (5,21 persen), jasa pendidikan (5,10 persen), pengadaan listrik (4,98 persen), jasa lainnya (3,74 persen), perumahan (3,68 persen), konstruksi (3,34 persen), real estate (2,32 persen), informasi dan komunikasi (2,17 persen), serta jasa kesehatan (1,84 persen).
"Dari sisi PDRB menurut pengeluaran, konsumsi rumah tangga dan ekspor merupakan komponen dengan kontribusi terbesar terhadap ekonomi pada triwulan I 2026. Seluruh komponen pengeluaran tumbuh positif dengan pertumbuhan tertinggi pada ekspor dan konsumsi pemerintah," terang Wahyudin.
Berdasarkan PDRB pengeluaran, pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2026 didorong oleh ekspor barang dan jasa sebesar 91,97 persen. Disusul pengeluaran pemerintah (7,29 persen), konsumsi rumah tangga (5,15 persen), pembentukan modal tetap bruto (3,71 persen), serta konsumsi LNPRT (2,45 persen).
"Pertumbuhan ekspor didorong oleh peningkatan ekspor tembaga hasil produksi smelter dan konsentrat. Sementara peningkatan konsumsi pemerintah tercermin pada meningkatnya realisasi belanja pegawai serta realisasi belanja barang dan jasa program MBG," tuturnya.