detikBali

Abu Gunung Krakatau Menyebar, Pakar Ungkap Cara Pakai Masker yang Tepat

Terpopuler Koleksi Pilihan

Abu Gunung Krakatau Menyebar, Pakar Ungkap Cara Pakai Masker yang Tepat


Fitraya Ramadhanny - detikBali

Abu erupsi Gunung Anak Krakatau masuk wilayah Bogor (Solihin/detikcom)
Foto: Abu erupsi Gunung Anak Krakatau. (Solihin/detikcom)
Denpasar -

Masyarakat yang beraktivitas di luar rumah dianjurkan menggunakan masker setelah Gunung Krakatau erupsi. Namun, cara penggunaannya juga perlu diperhatikan agar perlindungan terhadap abu vulkanik lebih optimal.

Dilansir detikInte, Pakar Vulkanologi Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr Eng Ir Mirzam Abdurrachman ST MT, menjelaskan bahwa abu vulkanik memiliki karakteristik berbeda dari abu pada umumnya. Material tersebut mengandung silika (SiO2) yang menyerupai pasir kuarsa dan memiliki tingkat kekerasan mencapai 7.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Karakter abu yang keras dan berukuran sangat halus membuatnya dapat menimbulkan iritasi apabila masuk ke saluran pernapasan maupun mengenai mata.

"Untuk menghadapi abu vulkanik, maskernya harus dibasahi baik itu masker medis, masker kain atau kain apapun. Basah lembab ya," kata Mirzam kepada detikINET, Minggu (6/9/2026).

ADVERTISEMENT

Abu vulkanik memiliki sifat gampang menempel ke air. Sehingga, masker yang basah bisa menahan abu vulkanik yang sangat halus dan akan menempel di maskernya. Mirzam juga menyarankan memakai pelindung mata jika keluar rumah.

Saking kerasnya dan zatnya adalah silika, abu vulkanik bisa menggores kaca dan permukaan lain. Oleh karena itu, berhati-hatilah saat membersihkan motor dan mobil dari abu vulkanik.

"Kalau abunya tipis, siram kendaraan dengan air sampai abunya turun. Tapi kalau abu vulkaniknya tebal, jangan langsung dikasih air, nanti jadi seperti semen. Bersihkan dulu pakai sapu, kalau sudah tipis baru disiram," jelasnya.

Abu vulkanik menurut Mirzam ada yang gelap dan terang. Yang gelap silikanya lebih sedikit, ia lebih berat dan tidak bisa terbang jauh seperti di Gunung Semeru. Yang terang silikanya lebih banyak, ia lebih ringan dan bisa terbang jauh seperti di Gunung Anak Krakatau.

"Karena ringan dan ukurannya sangat kecil ia bisa terbawa jauh, masuk ke sela-sela pintu dan ventilasi terbawa angin. Jadi lantai di dalam rumah pun terasa ada debunya," pungkas Mirzam.



(nor/nor)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan









Hide Ads