Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan operasional sementara Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jurit Baru setelah adanya puluhan siswa mengalami dugaan keracunan makan bergizi gratis (MBG) di Desa Jurit Kecamatan Pringgasela, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Hingga hari ini, Minggu (26/4/2026), tercatat pasien dugaan keracunan MBG mencapai 51 orang.
Penghentian operasional sementara SPPG tersebut setelah BGN mengeluarkan surat pada Sabtu, 25 April 2026, Nomor 1928/D.TWS/04/2026, terkait pemberhentian operasional sementara SPPG Jurit Baru. Dalam surat tersebut dijelaskan, keputusan penutupan sementara ini setelah adanya laporan Koordinator Regional Provinsi NTB terkait kejadian gangguan pencernaan yang terjadi pada Jumat (24/4).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya penghentian operasional, dalam surat tersebut, BGN juga merekomendasikan pemberhentian sementara penyaluran dana bantuan pemerintah kepada SPPG yang bersangkutan selama masa investigasi berlangsung. Selain itu, pihak SPPG diwajibkan untuk segera menyelesaikan seluruh proses pembayaran yang menggunakan virtual account (VA) dalam waktu 1x24 jam untuk periode operasional sebelum surat diterbitkan.
Koordinator Wilayah (Korwil) BGN NTB, Eko Prasetyo, menjelaskan penutupan sementara operasional SPPG tersebut dilakukan hingga waktu tidak ditentukan. Penutupan sementara ini dilakukan untuk evaluasi dan juga menunggu hasil laboratorium dari sampel menu MBG yang diterima siswa.
"Dalam waktu yang tidak ditetapkan, sampai menunggu hasil lab, evaluasi dan perbaikan-perbaikan yang harus dilakukan," jelas Eko, dikonfirmasi detikBali, via pesan WhatsApp, Minggu.
Korban dugaan keracunan MBG hingga hari ini dilaporkan terus bertambah, dengan jumlah keseluruhan 51 orang dengan rincian 1 orang ibu hamil dan 50 orang siswa dari sekolah berbeda. Mereka mengeluhkan mual dan juga sakit perut.
"Sampai pagi kemarin sebanyak 15 orang siswa yang datang dengan keluhan yang sama dengan pasien sebelumnya," beber Suhamdi, Kepala Puskesmas Pengadangan.
Adapun, dari 51 orang tersebut sebanyak 7 orang yang mendapatkan perawatan intensif dengan dilakukan rawat inap, termasuk satu ibu hamil. Namun sebanyak 5 orang telah diperbolehkan pulang dan 2 lainnya masih menjalani perawatan.
Suhamdi memerinci dari 51 orang tersebut sebanyak 7 orang pasien sempat mendapatkan perawatan intensif. Namun, sebagian dari mereka telah diperbolehkan pulang karena kondisinya sudah membaik.
"Jumlah kasus keracunan makanan yang kami terima 51 orang, sedangkan yang kami rawat dari 7 orang kemarin, sudah kami pulangkan 5 orang dan sisanya tinggal 2 orang," papar Suhamdi.