detikBali

Putar Otak Pengusaha Laundry-Pedagang Cilok Siasati Harga Plastik Mahal

Terpopuler Koleksi Pilihan

Putar Otak Pengusaha Laundry-Pedagang Cilok Siasati Harga Plastik Mahal


Nathea Citra - detikBali

Suasana laundry milik Devi, di Lingkungan Ampenan Tengah, Kota Mataram, Rabu (15/4/2026). Nathea Citra/detikBali
Foto: Suasana laundry milik Devi, di Lingkungan Ampenan Tengah, Kota Mataram, Rabu (15/4/2026). Nathea Citra/detikBali
Mataram -

Kenaikan harga plastik membuat pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) semakin tercekik. Seperti di sektor kuliner dan jasa laundry.

Untuk tetap bertahan, mereka melakukan berbagai cara agar tetap balik modal. Pemilik usaha laundry di Lingkungan Ampenan Selatan, Kota Mataram, Devi, mengaku kenaikan harga mulai terasa sejak akhir Ramadan 2026. Sejumlah kebutuhan usaha, mulai dari plastik kemasan hingga parfum laundry, mengalami lonjakan signifikan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Mulai dari harga plastik kemas sampai parfum laundry naiknya drastis sekali. Kenaikannya bervariasi, untuk bungkus plastik baju yang 1-2 kilogram (kg), satu bungkusnya biasanya Rp 15 ribu, tapi sekarang naik jadi Rp 23 ribu. Untuk ukuran plastik baju 3-5 kg, naik jadi Rp 37 ribu, dari sebelumnya Rp 30 ribu," kata Devi, saat diwawancarai detikBali, Rabu (15/4/2026).

Tak hanya itu, harga larutan parfum laundry juga mengalami kenaikan cukup tinggi. Untuk kemasan 5 liter, harga yang sebelumnya Rp 119 ribu kini mencapai Rp 165 ribu.

ADVERTISEMENT

"Untuk parfum laundry ini biasanya kita beli yang 5 literan atau satu jerigen itu harganya Rp 119 ribu, sekarang sudah naik jadi Rp 165 ribu. Mending naiknya Rp 1.000-2.000 nggak masalah, tapi ini naiknya sampai Rp 50 ribu, kan gila," keluhnya.

Akibat kenaikan harga plastik, mau tak mau Devi akhirnya merubah tarif layanan laundry miliknya agar tetap balik modal. Harga cuci setrika yang sebelumnya Rp 5 ribu/kg kini menjadi Rp 6 ribu/kg. Sementara layanan cuci atau setrika saja naik dari Rp 4 ribu menjadi Rp 5 ribu/kg.

Meski layanan laundry mengalami perubahan harga, Devi menyebut para pelanggannya tak keberatan dengan tarif baru saat ini.

"Karena pelanggannya kebanyakan mahasiswa, jadi nggak banyak tanya. Alhamdulillah masih banyak yang nge-laundry, (omset) tipis, tapi alhamdulillah lah.

Sementara itu, pedagang cilok di Mataram, Sri, memilih strategi berbeda untuk menghadapi kenaikan biaya. Ia tidak menaikkan harga jual, tetapi mengurangi jumlah porsi.

"Bukan harga plastik aja yang naik, tapi semua harga bahan pokok naik, telur naik, daging naik, semua naik. Daripada saya naikkan harga, pembeli nggak mau beli lagi, jadi saya siasati dari bahan bakunya. Kalau biasanya beli cilok Rp 5 ribu dapat 7 pentol sedang, sekarang Rp 5 ribu dapat 5 pentol," katanya pada detikBali, Rabu.

Sri juga menyiasati penggunaan kemasan dengan beralih ke plastik ukuran lebih kecil untuk menekan biaya. Ia bahkan tidak lagi menyediakan kantong kresek tambahan karena harganya yang semakin mahal.

"Saya pakai yang kecil, soalnya lebih murah. Naiknya Rp 2.000an lah, sekarang harganya Rp 5 ribuan per kantong, dari sebelumnya Rp 3.000 per kantong. Kalau biasa pembeli kami kasih kresek, sekarang nggak saya kasih lagi, mahal banget soalnya harga kresek sekarang. Bisa naik sampai Rp 5-10 ribu untuk ukuran kecil sama sedang," ujarnya.

"Tapi alhamdulillahnya, ndak protes pelanggan-pelanggan saya. Malah banyak yang minta ciloknya pakai mangkok mereka saja, karena mereka tahu harga plastik lagi naik gila-gila-an," sambungnya.




(nor/nor)










Hide Ads