Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, mengungkap program makan bergizi gratis (MBG) tak hanya menyasar pemenuhan gizi, tetapi juga menggerakkan perputaran uang hingga triliunan rupiah di daerah. Setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) disebut menerima dana sekitar Rp 1 miliar per bulan.
Dadan menjelaskan, anggaran BGN sebagian besar langsung disalurkan ke daerah melalui mekanisme virtual account yang terhubung dengan SPPG di seluruh Indonesia.
"Uang Badan Gizi Nasional, 93 persen itu langsung disalurkan dari KPPN melalui virtual account. Masuk di virtual account seluruh SPPG di seluruh Indonesia yang jumlahnya sudah 25.574. Jadi dengan program ini terjadi pemerataan pengiriman uang di setiap daerah," ucap Dadan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: MBG di Bali Libur Panjang 18-30 Maret 2026 |
Ia mencontohkan, di Jawa Barat terdapat sekitar 5.000 SPPG. Dengan jumlah tersebut, perputaran dana di wilayah itu mencapai Rp5 triliun setiap bulan.
"Jadi, 1 SPPG rata-rata akan menerima uang Rp1 miliar per bulan. Kalau di Jawa Barat sudah ada 5.000 SPPG, itu artinya uang di Jawa Barat beredar Rp5 triliun per bulan. Dengan sekarang sudah berjalan 2,5 bulan, itu uang di Jawa Barat kurang lebih sudah beredar sekitar Rp11-12 triliun. Inilah yang menggerakkan roda ekonomi di setiap daerah," ujar Dadan dalam keterangan, Kamis (19/3/2026), dilansir dari detikFinance.
Dorong Ekonomi Lokal
Dadan menegaskan program MBG sejak awal dirancang untuk mendorong pemanfaatan sumber daya lokal. Kebutuhan pangan dalam program ini diharapkan dipenuhi dari produksi daerah sekitar.
Dengan skema tersebut, program MBG dinilai dapat membuka peluang pasar bagi petani, pelaku usaha, hingga industri pangan lokal.
Selain itu, Dadan juga menyoroti peran SPPG dalam menciptakan lapangan kerja baru di tingkat lokal. Tenaga yang terlibat mulai dari operasional hingga tenaga ahli seperti ahli gizi direkrut dari masyarakat setempat.
"Saya harapkan terjadi satu pergerakan ekonomi circular di satu daerah yang sekarang alhamdulillah sudah mulai disadari oleh semua pihak betapa pentingnya meningkatkan produktivitas lokal sehingga ekonomi di daerah akan berkembang. Sekarang, sudah banyak kepala daerah yang menginginkan uang yang masuk ke satu daerah itu dibelanjakan dengan membeli bahan baku yang ada di daerah tersebut," jelasnya.
Untuk memastikan hal tersebut berjalan optimal, pihaknya menempatkan tenaga ahli gizi di setiap SPPG yang direkrut dari wilayah setempat. Langkah ini dilakukan agar pemenuhan gizi dapat disesuaikan dengan potensi sumber daya serta preferensi masyarakat lokal.
(dpw/dpw)










































