detikBali
Round Up

Karier dr Beni di RSUD Ruteng Berakhir Seusai Komen 'Ruang Jenazah Kosong'

Terpopuler Koleksi Pilihan
Round Up

Karier dr Beni di RSUD Ruteng Berakhir Seusai Komen 'Ruang Jenazah Kosong'


Tim detikBali - detikBali

Beni Christian Sihombing, dokter RSUD Ruteng yang berkomentar jahat di Threads @yurizaltrich. (Tangkapan layar @bennychrstn)
Foto: Beni Christian Sihombing, dokter RSUD Ruteng yang berkomentar jahat di Threads @yurizaltrich. (Tangkapan layar @bennychrstn)
Jakarta -

Karier dr Beni Christian Sihombing di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ruteng, Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), berakhir. Dokter Beni mengundurkan diri dari rumah sakit itu setelah berkomentar 'ruang jenazah selalu kosong'.

Komentar itu Dokter Beni berikan kepada pasien berasuransi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan di media sosial (medsos) yang menyatakan sudah delapan jam tak mendapatkan ruangan. Dokter Beni menjadi salah satu dari sekian tenaga kesehatan (nakes) yang berkomentar kurang berempati di postingan tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Manajemen memastikan Dokter Beni tak lagi bekerja di RSUD Ruteng. Kepastian itu diberikan oleh Humas RSUD Ruteng, Yohana RD Mari, pada Jumat (7/8/2026) malam.

"Manajemen RSUD Ruteng pada hari ini menerima surat pengunduran diri dari dr Benny C Sihombing yang diterima langsung oleh Kabag Tata Usaha RSUD Ruteng," kata Yohana.

ADVERTISEMENT

Yohana menjelaskan Dokter Beni mengajukan surat pengunduran diri sebagai dokter umum RSUD Ruteng tertanggal 6 Agustus 2026. Permohonan tersebut telah diterima sehingga Beni resmi tidak lagi berstatus sebagai dokter di RSUD Ruteng.

"Permohonan ini diterima oleh pihak rumah sakit sehingga terhitung sejak hari ini, kami menegaskan bahwa dr Benny C Sihombing tidak lagi bekerja di RSUD Ruteng," tegas Yohana.

Sebelum mengundurkan diri, Dokter Beni telah dimintai klarifikasi oleh manajemen RSUD Ruteng. Hasil telaah internal menyatakan Dokter Beni melakukan pelanggaran etik ringan dan akan dikenai surat peringatan pertama (SP 1).

Yohana mengatakan manajemen berharap polemik yang viral di media sosial tidak mengganggu pelayanan rumah sakit. Menurutnya, RSUD Ruteng terus berupaya mendengarkan keluhan masyarakat dan memberikan pelayanan terbaik di tengah berbagai keterbatasan.

"Oleh karena itu, kritikan dan saran yang santun dan membangun sangat diperlukan untuk pembenahan internal. Salam sehat untuk kita semua," ucap Yohana.

Komentar Dokter Beni

Nama Dokter Beni menjadi sorotan setelah mengomentari unggahan Threads milik Yurizal Tri Chaerawan yang mengeluhkan belum mendapat ruang perawatan meski telah menunggu delapan jam. Dokter Beni dalam komentarnya menyinggung keterbatasan ruang rawat hingga menyebut ruang jenazah sebagai tempat yang selalu tersedia.

"Kalo full, mau dipindahkan kemana? mau di lantai? Gk ada hubungannya sama BPJS atau nggak. BPJS yg make banyak, otomatis yg dirawat juga banyak, ga cuma u sendiri. Kalo mau pindah cepat, noh ruang jenazah selalu kosong. Ngeselin dah, nakes/RS bahkan pemerintah melalui BPJS berusaha bantuin, masyarakatnya malah gini," tulis Dokter Beni.

Yurizal belakangan diketahui telah meninggal dunia pada 31 Juli 2026. Komentar Beni kemudian kembali diungkit dan menuai kecaman dari warganet.

Peristiwa yang dialami Yurizal bukan terjadi di RSUD Ruteng. Dokter Beni hanya memberikan komentar pada unggahan Threads tersebut.

Setelah menjadi sasaran kritik warganet, Dokter Beni menyampaikan permintaan maaf secara terbuka melalui akun media sosialnya. Ia juga menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Yurizal.

"Saya ingin menyampaikan permohonan maaf atas ketikan saya di Threads. Saya juga menyampaikan turut berdukacita kepada pemilik utas, yaitu almarhum Yurizal. Saya berdoa semoga segenap keluarga diberikan penghiburan," kata Dokter Beni.

Penjelasan Kemenkes

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menjelaskan penyebab Yurizal Tri Chaerawan harus menunggu hingga delapan jam di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) sebelum akhirnya meninggal dunia.

Dilansir detikHealth, Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kemenkes, Azhar Jaya, mengatakan waktu tunggu pasien lama bukan disebabkan keterlambatan penanganan di IGD, melainkan karena pasien membutuhkan perawatan di High Care Unit (HCU) yang saat itu memiliki kapasitas terbatas.

"Prinsipnya di RSCM adalah pusat rujukan nasional, kemungkinan besar RSCM penuh itu sangat besar. Tetapi apa harus menunggu 8 jam itu tergantung situasi kalau kosong ya lebih cepat dari itu," kata pria yang akrab disapa Aco tersebut, kepada detikcom, Kamis (6/8/2026).

Aco menjelaskan, kondisi pasien mengharuskan perawatan di HCU, bukan di ruang rawat inap biasa. Karena jumlah tempat tidur HCU terbatas, pasien harus menunggu hingga tersedia ruang perawatan.

"Kondisi pasien yang meninggal dan viral itu memang menunggu 8 jam karena butuh HCU yang jumlahnya terbatas dan bukan kamar rawat inap biasa," ujar Aco.

Pasien Punya Penyakit Penyerta

Aco juga mengungkapkan pasien memiliki penyakit penyerta dengan kondisi yang cukup berat. Namun, Kemenkes tidak membeberkan diagnosis pasien karena mempertimbangkan kerahasiaan data medis.

"Pihak keluarga sudah paham akan kasus ini," jelas Aco.



(iws/iws)











Hide Ads