detikBali

Pelanggan Ojol di Bali Terdampak Krisis BBM, Sulit Dapat Driver-Tarif Naik

Terpopuler Koleksi Pilihan

Pelanggan Ojol di Bali Terdampak Krisis BBM, Sulit Dapat Driver-Tarif Naik


Sui Suadnyana, Fabiola Dianira - detikBali

Ojek online mengantre di salah satu SPBU di Renon, Denpasar, Selasa (13/10/2026). (Fabiola Dianira/detikBali)
Foto: Ojek online mengantre di salah satu SPBU di Renon, Denpasar, Selasa (13/10/2026). (Fabiola Dianira/detikBali)
Badung -

Krisis bahan bakar minyak (BBM) di Bali turut berdampak terhadap mobilitas pelanggan ojek online (ojol). Pelanggan ojol mengeluh kesulitan mendapatkan pengemudi (driver). Tarif yang dikenakan kepada penumpang juga melonjak.

Intan, warga Badung, kesulitan memesan transportasi online untuk berangkat ke kantor sejak awal pekan ini. Ia bahkan tidak mendapatkan pengemudi ojol pada Senin (12/10/2026). Intan sampai meminta tolong tetangganya untuk mengantarkan ke kantor.

"Nggak dapat sama sekali untuk Grab maupun Gojek ataupun apapun itu online transportasi. Dan aku sempat minta tolong sama tetangga aku buat nganterin dan ternyata untungnya tetangga aku bisa buat nganterin," tutur Intan kepada detikBali, Rabu (14/10/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski akhirnya mendapat tumpangan tetangga, Intan harus melalui kemacetan parah akibat antrean BBM yang panjang. Jarak yang biasanya dapat ditempuh dalam 10-15 menit menjadi 25 menit, membuat Intan terlambat tiba di tempat kerja.

ADVERTISEMENT

Sebelum diantar tetangga, Intan mencoba memesan dua layanan kendaraan online secara bersamaan, tetapi tetap tidak membuahkan hasil. Pengemudi Gojek kerap kali tidak bisa ditemukan, sementara pengemudi Grab yang didapat berjarak cukup jauh dengan harga yang lebih mahal.

"Dan kalau dari harganya sendiri sebenarnya ada perubahan kalau untuk di Grab, itu bisa naik dari Rp ribu sampai Rp 10 ribu dari harga yang seperti biasanya," ucap Intan.

Tak cuma urusan pekerjaan, krisis BBM di Bali juga turut mengganggu mobilitas harian Intan yang lain, seperti pergi tempat ibadah hingga membeli berbagai keperluan yang tak ada di sekitar tempat tinggalnya.

Pengalaman serupa juga dirasakan Bintang, seorang kreator konten di Denpasar. Bintang kesulitan mendapatkan pengemudi ojek online (ojol) motor saat hendak pulang ke kosnya dari Pantai Segara.

Padahal, jarak dari pantai ke tempat kosnya kurang dari dua kilometer (km). Ia terbiasa memilih menggunakan ojol motor karena khawatir dengan keberadaan anjing di sepanjang jalan.

"Kemarin itu mau pulang dari Pantai Segara. Sampai satu jam setengah enggak dapat Gojek maupun Grab. Yang motor tuh nolak semua," ujar Bintang.

Bintang sempat mencoba memilih layanan yang menawarkan tarif hingga sekitar Rp 30 ribu dengan harapan lebih mudah mendapatkan pengemudi. Namun, pesanannya tetap ditolak atau dibatalkan oleh para pengemudi.

"Sampai order saya pilih harga yang termahal tuh Rp 28 ribu-Rp 30 ribu gitu, enggak mau driver-nya tuh. Asal dapat nyantol tuh cancel sama mereka, dikit-dikit cancel," tutur Bintang.

Bintang akhirnya coba memesan transportasi mobil dan berhasil meski pun dengan tarif Rp 70 ribu. Padahal, menurutnya, tarif motor untuk perjalanan tersebut biasanya hanya sekitar Rp 13 ribu-Rp 14 ribu.

"Akhirnya dapatnya mobil GrabCar Rp 70 ribu, padahal cuman dekat banget. Enggak ada dua kilo," ucap Bintang.



(dpw/dpw)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan










Hide Ads