Predikat Buleleng atau Singaraja sebagai Kota Pendidikan dinilai tidak cukup hanya dilihat dari banyaknya sekolah, siswa, maupun perguruan tinggi. Keberlangsungan pendidikan hingga pembentukan karakter, etika, moral, soft skill, dan life skill generasi muda menjadi bagian penting yang perlu terus dirawat.
Hal tersebut mengemuka dalam Dialog Pendidikan yang digelar DPD KNPI Kabupaten Buleleng, Minggu (30/8/2026). Dialog mengangkat tema Merawat Eksistensi Buleleng dalam Citra Kota Pendidikan dan mempertemukan pemerintah, pemuda, mahasiswa serta organisasi kepemudaan untuk membahas berbagai tantangan pendidikan di Buleleng.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketua DPD KNPI Kabupaten Buleleng I Putu Gede Parma mengatakan predikat Buleleng atau Singaraja sebagai Kota Pendidikan tidak semata-mata dapat diukur dari angka, seperti jumlah siswa, sekolah, perguruan tinggi maupun lembaga pendidikan nonformal.
Menurutnya, yang tidak kalah penting adalah bagaimana esensi pendidikan dapat terus berjalan dengan baik. Pendidikan, kata Parma, harus mampu memberikan bekal hard skill sekaligus soft skill dan life skill kepada generasi muda.
"Tidak semata dilihat dari angka. Tapi bagaimana melihat esensi keberlangsungan pendidikan, termasuk bukan hanya pendidikan hard skill, tapi juga soft skill dan life skill ini bisa berjalan dengan baik di Kabupaten Buleleng," ujarnya.
Parma juga menekankan pentingnya menjalankan konsep Tri Pusat Pendidikan yang mencakup pendidikan formal, informal dan non-formal. Menurutnya, seluruh komponen daerah perlu terlibat dalam menjaga keberlangsungan pendidikan melalui pendekatan pentahelix. Pemerintah, pihak swasta, komunitas, organisasi masyarakat, akademisi hingga media dinilai memiliki peran masing-masing dalam mendukung kemajuan pendidikan di Buleleng.
"Kita ingin bagaimana Tri Pusat Pendidikan sebagai salah satu teori lama di dunia pendidikan, yaitu pendidikan formal, informal dan nonformal benar-benar dijalankan secara sungguh-sungguh oleh segenap komponen yang ada di daerah Buleleng," katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Buleleng Ida Bagus Gde Surya Bharata mengapresiasi pelaksanaan dialog yang digelar KNPI bersama organisasi kepemudaan tersebut. Menurutnya, tema yang diangkat sangat relevan.
"Ini sangat relevan dengan visi-misi pembangunan daerah, di mana salah satu visi tentang pendidikan mengarahkan pendidikan yang merata, adil, dan berkualitas untuk semua. Itu tentunya melibatkan semua elemen masyarakat kita," jelasnya.
Surya Bharata mengatakan forum dialog seperti ini dapat menjadi ruang bagi pemerintah untuk menyampaikan program sekaligus menerima masukan dari mahasiswa, pemuda dan masyarakat. Masukan tersebut nantinya dapat menjadi referensi dalam penyusunan kebijakan pendidikan ke depan.
Ia menambahkan pemerintah juga terus membuka ruang bagi pemuda untuk terlibat dalam pembangunan. Disdikpora telah menjalin komunikasi dengan organisasi kepemudaan melalui KNPI, BEM maupun organisasi mahasiswa.
Selain itu, terdapat tiga bidang kepemudaan yang menjadi perhatian, yakni kepemimpinan, kewirausahaan dan kepeloporan. Ketiganya diharapkan menjadi ruang bagi generasi muda Buleleng untuk semakin banyak berkiprah dalam pembangunan.
Dalam dialog tersebut turut disinggung persoalan anak tidak sekolah. Surya Bharata mengatakan, penanganan anak tidak sekolah tidak dapat dibebankan hanya kepada Dinas Pendidikan, tetapi membutuhkan gerakan bersama.
Disdikpora saat ini masih melakukan identifikasi anak tidak sekolah dan tengah menyiapkan alur penanganan yang melibatkan sejumlah sistem dan program yang telah berjalan.
Di antaranya Posko DO, Sistem Informasi Edukasi Anak Usia Sekolah dengan Kebutuhan Khusus (Si Ulet), serta operasional sekolah kesetaraan. Ke depan, ruang kontribusi bagi pemuda juga akan dimasukkan dalam sistem tersebut.
"Bukan masalah di pendidikan di Dinas Pendidikan saja, tapi ini menjadikan upaya kita bersama bagaimana nantinya program Wajib Belajar 13 Tahun ini bisa dirasakan manfaatnya untuk seluruh warga masyarakat," kata Surya Bharata.