detikBali

Ironi MPLS di Bali: SD 5 Pohsanten Cuma Dapat 2 Murid-SD 6 Bhuana Giri Nihil

Terpopuler Koleksi Pilihan

Ironi MPLS di Bali: SD 5 Pohsanten Cuma Dapat 2 Murid-SD 6 Bhuana Giri Nihil


I Putu Adi Budiastrawan, I Wayan Selamat Juniasa - detikBali

Aktifitas siswa di SDN 5 Pohsanten yang berlalamat di Banjar Pasatan, Desa Pohsanten, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Senin (13/7/2036). (I Putu Adi Budiastrawan/detikBali).
Foto: Aktifitas siswa di SDN 5 Pohsanten yang berlalamat di Banjar Pasatan, Desa Pohsanten, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Senin (13/7/2036). (I Putu Adi Budiastrawan/detikBali).
Jembrana -

Momen tidak biasa terjadi dalam proses Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SDN 5 Pohsanten, Kecamatan Mendoyo, Jembrana, Bali. Hingga hari pertama MPLS dimulai, sekolah tersebut tercatat hanya memiliki dua orang siswa baru.

Pantauan di lokasi, kondisi SDN yang berlokasi di Banjar Pasatan, Desa Pohsanten ini memang sangat minim siswa. Bahkan, tidak ada satu pun kelas yang jumlah muridnya menyentuh angka 20 orang. Saat ini, total keseluruhan murid dari kelas I hingga kelas VI di sekolah tersebut hanya berjumlah 49 siswa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Memang data awal itu tidak ada siswa yang mendaftar. Namun hingga pagi tadi, ada dua siswa laki-laki yang hadir untuk MPLS, sehingga baru terdaftar," ungkap salah seorang guru SDN 5 Pohsanten, Gusti Agung Alit Ariastika, saat ditemui detikBali, Senin (13/7/2026).

Alit yang juga warga lokal setempat mengaku pihak sekolah sudah berulang kali menyebarkan informasi terkait pendaftaran peserta didik baru. Namun, minimnya anak usia sekolah di wilayah sekitar menjadi kendala utama.

ADVERTISEMENT

"Tadi pagi baru datang lagi satu orang, langsung membawa formulir. Jadi total ada dua siswa, laki-laki semuanya," papar guru kelas V ini.

Alit membeberkan rincian dari total 49 siswa yang ada di SDN 5 Pohsanten saat ini. Di antaranya adalah kelas I sebanyak 2 siswa, kelas II 8 siswa, kelas III 4 siswa, kelas IV 10 siswa, kelas V 12 siswa, dan kelas VI sebanyak 13 siswa.

"Tahun ini menjadi tahun paling sedikit dengan hanya menerima dua siswa. Tahun lalu masih ada 8 siswa yang mendaftar," ujar Alit.

Menurutnya, faktor geografis dan demografi menjadi pemicu utama sepinya peminat. Wilayah Banjar Pasatan sejatinya cukup luas, tapi jumlah penduduknya kian menyusut karena banyak warga yang memilih merantau ke luar daerah.

"Penduduknya sudah minim, banyak yang merantau. Yang bertahan di kampung pun rata-rata hanya punya anak dua, tidak seperti dulu lagi," imbuhnya.

Fenomena minimnya siswa baru ternyata tidak hanya terjadi di SDN 5 Pohsanten. Berdasarkan data yang didapatkan detikBali, total ada 21 sekolah dasar (SD) di Kabupaten Jembrana yang menerima siswa baru kurang dari 10 orang pada tahun ajaran ini. Wilayah Kecamatan Mendoyo menjadi penyumbang sekolah terbanyak yang kekurangan murid.

Kabid Pembinaan SD Disdikpora Jembrana, I Nyoman Koriawan, menjelaskan, secara umum proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tingkat SD di Jembrana berjalan aman dan lancar. Kendati demikian, pihaknya tidak menampik adanya puluhan sekolah yang jumlah siswa barunya di bawah standar kelayakan kelas.

"Memang ada sekolah yang sedikit menerima siswa, atau kurang dari 10 orang siswa per sekolah," sebutnya.

Merespons kondisi tersebut, Disdikpora Jembrana menegaskan akan segera melakukan evaluasi menyeluruh sebelum mengambil langkah ekstrem berupa penggabungan sekolah (regrouping). "Khusus sekolah tersebut (SDN 5 Pohsanten), tahun ini bakal dievaluasi dulu," tegas Koriawan.

Ia menambahkan, opsi regrouping bisa saja diambil jika sekolah tersebut sudah memenuhi kriteria dan tidak menunjukkan tanda-tanda pemulihan jumlah siswa dalam jangka panjang.

"Jika memenuhi syarat regrouping, seperti dalam tiga tahun berturut-turut jumlah siswa terus menurun dan kemungkinan tidak ada siswa lagi ke depannya, tentunya akan ditindaklanjuti (regrouping)," tandasnya.

Nihil Murid Baru, SDN 6 Bhuana Giri Cuma Miliki 4 Siswa

Kepsek SDN 6 Bhuana Giri saat menunjukan salah satu ruang kelas, Senin (13/7/2026) (foto: I Wayan Selamat Juniasa)Suasana SDN 6 Bhuana Giri, Senin (13/7/2026) (foto: I Wayan Selamat Juniasa)

SDN 6 Bhuana Giri yang terletak di Banjar Dinas Komala, Desa Bhuana Giri, Kecamatan Bebandem, Karangasem, Bali, tahun ini kembali tak dapat siswa baru. Total sudah selama empat tahun sekolah tersebut tak dapat siswa.

"Tahun ini kami kembali nggak dapat siswa baru," kata Kepala SDN 6 Bhuana Giri, I Made Suartika, Senin (13/7/2026).

Suartika mengungkapkan, saat ini sekolah yang dipimpinnya hanya memiliki empat siswa. Mereka terdiri atas dua siswa kelas III dan dua siswa kelas VI. Sementara kelas I, II, IV, dan V tidak memiliki murid sama sekali.

Menurutnya, dua siswa kelas III yang masih bertahan merupakan saudara kembar yang mengikuti jejak kakaknya bersekolah di SDN 6 Bhuana Giri.

"Kebetulan yang kelas III kembar dan kakaknya sekolah di sini, kalau nggak mungkin sudah 5 tahun berturut-turut kami tidak dapat siswa," ujar Suartika.

Menjelang tahun ajaran baru, pihak sekolah telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat sekitar untuk menarik minat calon siswa. Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil.

Suartika menjelaskan jumlah penduduk di sekitar sekolah memang sangat terbatas. Dari sekitar 50 kepala keluarga (KK) yang tinggal di wilayah itu, sebagian besar merupakan warga usia lanjut, sementara banyak keluarga muda memilih merantau ke Denpasar.

Selain itu, posisi sekolah yang diapit sejumlah sekolah lain yang lebih diminati masyarakat turut menjadi tantangan dalam menjaring peserta didik baru.

"Tahun depan kami akan lebih intensifkan lagi untuk sosialisasi ke masyarakat, supaya minimal kami dapat siswa dulu, kalau tidak dapat otomatis hanya tersisa dua orang siswa saja di sini," ujar Suartika.

Ironisnya, jumlah tenaga pendidik di sekolah tersebut justru lebih banyak dibandingkan jumlah murid. Saat ini SDN 6 Bhuana Giri memiliki tujuh tenaga pendidik yang terdiri atas empat guru kelas, satu guru olahraga, satu guru agama, dan satu kepala sekolah. Suartika mengatakan pembagian jam mengajar akan tetap diatur agar seluruh guru tetap menjalankan tugasnya secara proporsional.

Minimnya jumlah siswa juga berdampak pada besaran dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang diterima. Sebab, alokasi dana BOS dihitung berdasarkan jumlah peserta didik yang terdaftar.

"Kami berharap, tahun depan SDN 6 Bhuana Giri dapat siswa agar keberlangsungan sekolah ini bisa bertahan," ucap Suartika.



(nor/nor)











Hide Ads